
Dini hari Arsenio terbangun ketika Binar mengigau dalam tidurnya. Racauan yang awalnya terdengar pelan, lambat laun menjadi semakin nyaring. Wanita muda itu memekik bersamaan dengan Arsenio yang membangunkannya. “Kamu kenapa, Sayang?” tanya Arsenio dengan raut khawatir.
“Rain,” desah Binar. Tampak bulir-bulir keringat membasahi kening wanita muda tersebut. “Aku bermimpi buruk,” ucapnya. Dengan segera, dia membenamkan wajah di dada bidang sang suami.
“Memangnya kamu bermimpi apa?” Suara Arsenio terdengar begitu lembut menenangkan istrinya.
“Aku bermimpi tenggelam, lalu peganganku terlepas dari tanganmu,” jawab Binar pilu.
"Itu semua hanya mimpi, Sayang. Kamu lihat sendiri ‘kan kalau aku masih tetap di sini,” hibur Arsenio seraya mengusap-usap punggung Binar. “Ayo, tidur lagi."
Wanita yang tengah hamil muda itu pun menurut. Dia kembali terlelap dengan berbantalkan bahu sang suami.
Hingga pagi menjelang. Suasana di kediaman Rainier mulai ramai dengan berbagai macam aktivitas orang-orang di dalamnya. Tak terkecuali Arsenio yang tak pernah lepas dari rutinitas berolahraga. Bedanya, pagi itu dia ditemani oleh Ajisaka.
“Jam berapa kamu akan berangkat ke kantor om Bian?” tanya Arsenio sambil berlari kecil.
“Jam delapan tepat, Bos. Anika sudah menyiapkan ID card dan kartu khusus,” jawab Ajisaka yang ikut berlari di samping sang majikan.
“Semoga lancar, Ji,” sahut Arsenio sambil mempercepat gerak langkahnya sehingga Ajisaka tertinggal di belakang. Namun, Ajisaka tak ingin mengalah. Dia juga mempercepat larinya sampai berhasil mengejar Arsenio.
Satu jam berlalu, mereka kembali berputar ke arah kediaman Rainier. Arsenio kembali ke kamarnya, sedangkan Ajisaka langsung membersihkan diri dan berganti pakaian rapi. Dengan mengendarai motor pinjaman dari salah satu satpam rumah, dia melaju ke kawasan kompleks perkantoran terbesar di Jakarta.
Sementara Anika sudah menunggu dengan was-was di salah satu sofa lobi. Mereka sudah sempat melakukan panggilan video kemarin. Dengan begitu, Anika dapat mengenali wajah Ajisaka saat pertama kali pria itu memasuki lantai dasar gedung milik Biantara Sasmita.
“Ruang keamanan yang mengatur segala sesuatu tentang keamanan gedung, ada di lantai teratas,” bisik Anika begitu Ajisaka mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Mereka pun berjalan beriringan memasuki lift. Anika kemudian memencet tombol lantai teratas.
“Lurus saja sampai ujung, lalu belok ke kanan,” terang Anika sesaat setelah pintu lift terbuka. “Aku hanya bisa mengantarmu sampai sini,” ujarnya sambil menutup kembali pintu lift tanpa menunggu jawaban Ajisaka. Padahal pria itu sudah membuka mulut untuk menanggapi ucapan wanita cantik yang baru dikenalnya tersebut.
“Oke.” Sambil menenteng tas ranselnya, Ajisaka berjalan gagah sesuai arah petunjuk yang sudah diberikan oleh Anika tadi. Dia lalu berhenti pada satu-satunya pintu yang berada di lorong yang telah dirinya lewati. Penuh kehati-hatian, Ajisaka mengetuk pintu tadi. Tak lupa dia menyiapkan kartu tanda pengenal yang telah disiapkan oleh Anika dan menggantungkannya di depan dada.
Tak lama kemudian, seorang pria berseragam satpam, membuka pintu sambil menatap waspada kepada Ajisaka. Arah pandangannya kemudian tertuju pada tanda pengenal bertali kuning. “Mas dari maintenance, ya?” tanya pria itu.
“Betul, Pak. Ada keluhan dari karyawan di lantai tiga. Alarm ruangan kadang berbunyi tanpa sebab,” dalih Ajisaka. “Sekalian saya akan memeriksa kamera,” imbuhnya.
“Oh silakan, Mas!” Pria yang tadi bersikap sedikit ketus dan kaku, langsung berubah ramah. Dia membukakan pintu lebar-lebar untuk Ajisaka.
“Terima kasih.” Tak ingin membuang waktu, Ajisaka segera masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan monitor. Dia lalu meletakkan ranselnya pada satu meja khusus, di mana terdapat bagian perangkat CCTV yang disebut sebagai DVR. Komponen itu berfungsi untuk menyimpan memori rekaman.
Ajisaka mengeluarkan laptop, lalu menyambungkannya pada DVR tersebut, diiringi dengan tatapan awas beberapa petugas keamanan yang ada di sana. Tanpa orang-orang itu ketahui, sepupu Dwiki tersebut tengah menyalin semua informasi CCTV di tanggal yang sama dengan kedatangan preman-preman yang menyerang kediaman Rainier.
Berdasarkan keterangan Anika, orang-orang itu terakhir kali datang ke kantor Biantara, kurang lebih dua minggu yang lalu. Membutuhkan waktu yang sedikit lama bagi Ajisaka untuk menyalin semua rekaman memori ke dalam laptopnya.
__ADS_1
“Jadi, bagian mana yang mulai mengalami kerusakan, Mas?” tanya salah seorang satpam sambil mendekat ke arahnya.
“Oh, ini sedang saya deteksi,” ujar Ajisaka berkilah. Sebisa mungkin dia menghalangi pandangan orang-orang itu dari layar laptopnya. “Nah, sudah selesai.” Senyuman Ajisaka terkembang, bersamaan dengan semua file yang sudah tersimpan secara sempurna.
“Sudah aman semuanya. Saya hanya memperbaiki kesalahan sistem saja,” jelas Ajisaka, membuat para satpam itu manggut-manggut. Entah mereka benar-benar mengerti atau tidak dengan apa yang diucapkan oleh pria berwajah macho tersebut.
“Apa semua kamera berfungsi dengan baik, Mas?” tanya seorang satpam lain saat Ajisaka memasukkan laptopnya kembali ke dalam ransel.
“Iya, Pak. Semua kerusakan sudah teratasi. Oh, ya. Ruangan internet dan jaringan hardware di mana, ya? Saya juga harus memperbaiki sesuatu di sana,” tanya Ajisaka sebelum benar-benar keluar dari ruangan tersebut.
“Ada di sebelah ruangan ini, Mas. Tepat satu lantai di atas,” jawab salah seorang satpam sambil mengarahkan telunjuknya ke samping.
“Baiklah. Terima kasih semuanya.” Ajisaka buru-buru menutup ruang keamanan dengan rapat, sebelum bergegas ke ruangan selanjutnya. Tak sulit bagi dia untuk menemukan ruang yang telah disebutkan tadi. Hati-hati, Ajisaka mengetuk pintunya. Akan tetapi, tak ada jawaban atau suara apapun dari dalam.
Dengan nekat, dia mencoba membuka pintu yang ternyata tidak dikunci. Tampaklah sebuah ruangan luas yang penuh dengan komputer server, dan berjumlah sangat banyak serta berjajar rapi. Sambil mengendap-endap, Ajisaka masuk ke tengah-tengah ruangan.
Dia kembali mengeluarkan laptop dari dalam ransel dan menyalakannya. Dengan raut serius, Ajisaka menopang benda elektronik itu di tangan kiri, sedangkan tangan kanannya terulur lurus menyentuh satu demi satu komputer server lalu berhenti.
Ajisaka memilih satu server yang segera dia hubungkan dengan laptop miliknya. Senyuman lebar pun tersungging, ketika layar laptop mengeluarkan deretan tulisan dan bahasa pemrograman. Jarinya bergerak lincah menyentuh permukaan keyboard hingga beberapa saat. Setelah itu, dia menarik kabel data dan buru-buru mematikan laptop. Tujuannya kini adalah ruangan Anika.
Ajisaka kemudian bergegas keluar dari ruangan tadi, lalu memasuki lift sampai berhenti di lantai sekretaris Biantara tersebut.
“Permisi, Bu.” Ajisaka bersikap seolah-olah tak mengenal Anika. Dia bergegas menghampiri sambil mengangguk penuh hormat.
“I-iya?” Anika sempat tergagap, tetapi dapat menguasai diri dengan segera.
“Saya dari maintenance. Ingin memeriksa jaringan komputer client atas nama pak Haris Maulana,” ujar Ajisaka dengan gaya yang sangat meyakinkan.
“Oh, iya. Dari maintenance, ya?” Anika sengaja mengulang kata-kata yang sama, “tapi, pak Haris sedang keluar.”
“Saya hanya mengecek komputer kantornya saja, Bu,” balas Ajisaka dengan sorot mata penuh arti.
“Saya antarkan,” putus Anika sedikit gugup. Dia sempat mengangguk pada rekannya sebelum mengantar Ajisaka ke ruangan yang dituju.
“Apa-apaan kamu?” desis Anika. “Sudah kubilang kita tidak boleh kelihatan bersama,” ujarnya dengan suara tertahan, sesaat setelah memasuki ruang kerja Haris.
“Tenang saja, aku sudah membekukan kamera pengawas di lantai ini selama kurang lebih satu jam,” jawab Ajisaka dengan santai. “CCTV tidak akan merekam apapun selama satu jam ke depan,” imbuhnya.
“Astaga.” Anika berdecak pelan. “Ya sudah. Kalau begitu cepat lakukan apapun yang ingin kamu kerjakan.”
“Siap, Nona manis.” Ajisaka mengedipkan sebelah mata pada Anika sembari tersenyum menggoda hingga terlihat lesung pipinya, lalu serius mengetikkan sesuatu pada layar komputer milik Haris.
__ADS_1
Sementara Anika yang sempat tertegun saat menerima perlakuan genit tadi, kini serius mengamati apa yang Ajisaka kerjakan. “Apa itu?” tanyanya saat Ajisaka menyambungkan perangkat komputer Haris dengan laptop miliknya.
“Ada, deh,” jawab Ajisaka asal tanpa berhenti menggerakkan jemari. Ternyata dia tengah berusaha memecahkan kode password di komputer kantor milik asisten pribadi Biantara tersebut. Ajisaka bernapas lega saat dia berhasil.
“Apa masih lama?” Anika mulai was-was ketika mendengar ponselnya berdering.
“Sedikit lagi,” jawab Ajisaka dengan pandangan yang sama sekali tak lepas dari layar monitor.
“Masalahnya pak Haris sudah datang. Dia sekarang ada di lobi.” Anika terlihat panik. Berkali-kali dia menyisipkan helaian rambut indahnya ke belakang telinga.
“Kalau begitu hentikan dia,” ujar Ajisaka asal.
“Bagaimana caranya?” sahut Anika gusar.
“Entahlah. Coba bantu aku berpikir.” Ajisaka bersikap seolah tak menghiraukan Anika sama sekali. Dia terlalu serius menyalin data-data dari komputer Haris ke dalam laptopnya.
“Astaga, kenapa kamu menyebalkan sekali sih!” gerutu Anika sembari meninggalkan ruangan sambil membanting pintu.
Dia tak punya pilihan selain mencegah gerak Haris agar tidak memasuki ruangan untuk sementara. Darah Anika berdesir, jantungnya memompa lebih cepat ketika asisten pribadi Biantara itu sudah keluar dari dalam lift.
“Pak!” seru Anika. Dia merentangkan tangan seakan hendak memeluk pria jangkung berkaca mata itu.
“Apa-apaan ini, Anika!” Haris spontan melangkah mundur untuk menghindar. “Jangan bersikap kurang ajar, ya! Ini di kantor!” hardiknya.
“Justru itu, Pak. Saya ingin menunjukkan sesuatu pada Anda,” ujar wanita cantik itu.
“Apa?” Haris mengernyit seraya membetulkan letak kacamatanya.
“Mari, Pak.” Anika nekat menyeret tangan Haris dan mengajaknya ke pantri. “Mesin kopinya tidak berfungsi, Pak. Bisa gawat kalau besok lusa pak Bian datang dan belum diperbaiki. Bapak tahu sendiri ‘kan kalau pak Bian hanya suka meminum kopi dari sini,” kilahnya.
“Ya, ampun. Kenapa harus menyuruh saya? Masih banyak office boy di ruangan ini yang bisa dimintai bantuan. Terlebih lagi, itu pekerjaan mereka!” sahut Haris penuh penekanan.
“Betul juga ya, Pak.” Anika tak dapat menyanggah perkataan pria jangkung di dekatnya itu.
“Astaga, kamu ini.” Haris mendengus kesal sambil berniat meninggalkan pantri.
“Tunggu, Pak!” cegah Anika. Tanpa sadar tangannya mencengkeram lengan Haris kuat-kuat. “Ah, ma-maaf.” Dia segera melepaskan cengkeraman karena tersadar dengan tingkahnya yang sudah melewati batas.
“Jangan mengganggu pekerjaan saya ya, Anika!” Haris yang hampir kehilangan kesabaran, mengacungkan jari telunjuknya pada sang sekretaris sebelum berlalu dari tempat yang tak terlalu luas tersebut. Dia terus berjalan menuju ruangannya dengan Anika yang masih mengiringi langkah Haris dari belakang.
Jantung Anika seakan berhenti berdetak saat Haris membuka pintu ruang kerjanya. Akan tetapi, dia langsung dapat mengembuskan napas lega ketika Ajisaka sudah tak terlihat lagi di dalam sana.
__ADS_1