
Malam kian larut. Jam digital yang berada di atas meja sebelah tempat tidur Binar, sudah menunjukkan pukul setengah satu. Namun, gadis cantik itu masih tampak sibuk mempelajari rincian tugas dan segala kegiatan yang Angraini lakukan. Binar harus benar-benar teliti dalam menyusun setiap acara agar tidak saling bertabrakan. Dari sana, dia mengetahui bahwa Anggraini merupakan wanita yang sangat aktif dan juga berjiwa sosial tinggi. Sungguh luar biasa membanggakan, dan menjadi sebuah motivasi besar untuk dirinya.
Sesaat kemudian, gadis cantik berambut panjang itu termenung. Binar teringat akan beasiswa yang diberikan oleh Rainier Foundation bagi mereka yang berprestasi. Angannya melayang jauh. Andai dia dapat mengajukan diri agar dapat melanjutkan pendidikan, apalagi bila sampai ke luar negeri. Namun, rasanya terlalu dini jika harus mengungkapkan keinginan tersebut sekarang, karena Binar belum terlalu lama mengenal seorang Anggraini.
Lamunan Binar melayang semakin jauh pada kedua adiknya. Entah bagaimana kabar mereka berdua. Entah ke mana pula dia harus mencari Praya dan Wisnu yang sangat dirinya rindukan. Akan tetapi, gadis itu ingat jika Arsenio pernah mengatakan bahwa dia menyimpan alamat baru keluarganya. Mau tak mau, Binar harus kembali bicara dengan pria tampan dengan watak dan temperamen aneh tersebut.
Sebuah keluhan pendek meluncur dari bibir gadis dua puluh tahun itu. Tiba-tiba Binar merasakan jika perutnya benar-benar lapar. Haruskah dia keluar kamar dan pergi ke dapur? Rasanya malas sekali apalagi untuk menyusuri rumah sebesar milik keluarga Rainier. Bisa-bisa, dia tidak akan tidur semalaman karena sibuk mencari lorong yang benar. Namun, rasa lapar itu kian menjadi dan tak dapat dia tahan lagi.
Dengan terpaksa, Binar pun beranjak keluar kamar. Suasana rumah sudah begitu sepi. Seluruh lampu utama bahkan telah dimatikan, dan digantikan oleh lampu-lampu berwarna kuning temaram yang menempel di tiap dinding. Suasana rumah megah tersebut, telah membuat Binar merasa seperti berada di dalam kediaman bangsa Eropa.
"Luar biasa. Kapan aku bisa memiliki rumah semegah ini?" decaknya kagum seraya terus menyusuri lorong. Binar harus membuat patokan agar dirinya tak tersesat lagi seperti pagi tadi.
Setelah berjalan beberapa saat, gadis itu pun akhirnya tiba di tempat yang dia tuju, yaitu dapur. Dengan segera, Binar membuka kulkas. Di dalam lemari es dengan ukuran yang jauh lebih besar dari lemari pakaiannya saat masih berada di Bali, Binar dapat menemukan banyak sekali bahan makanan. Berbagai daging kemasan, beberapa macam sayuran, jamur, dan lain-lain. Namun, dia tak menemukan makanan yang bisa langsung dirinya makan.
"Masa iya aku harus makan daging mentah?" pikir Binar. Dia lalu melirik kompor yang tampilannya sangat berbeda dengan yang biasa dia gunakan. Kompor itu terlihat lebih bagus, elegan, dan tentu saja pastinya mahal. Satu hal yang paling utama adalah, Binar belum mengetahui cara menggunakannya.
Gadis itu kemudian mengedarkan pandangan. Tatapannya lalu terkunci pada buah-buahan di dalam keranjang rotan yang cantik. Binar tahu harga dari satu buah keranjang seperti itu, karena di toko suvenir tempatnya bekerja dulu ada barang yang sama persis.
"Orang kaya. Mereka membuang uang dengan cukup banyak hanya untuk tempat buah seperti ini," gumamnya seraya mengambil satu buah apel dari dalam sana.
"Begitukah?" Suara seorang pria yang tiba-tiba ada di belakangnya, telah membuat Binar begitu terkejut. Dia melepaskan apel tadi begitu saja, hingga menggelinding dan jatuh ke atas lantai. "Maaf," ucap pria yang tiada lain adalah Arsenio. Dia tertawa pelan. Sangat pelan bahkan terdengar hanya seperti sebuah hembusan angin semata. Namun, hangat napasnya begitu terasa di dekat telinga Binar.
"Kamu!" Binar menoleh kepada pria itu, tapi segera memalingkan wajah ke arah lain.
"Sedang apa malam-malam begini sendirian di dapur? Apa kamu tidak tahu kalau di rumah ini sering terjadi penampakan-penampakan misterius?" Arsenio berkata dengan raut wajah yang terlihat cukup serius. Dia kembali menakut-nakuti Binar dengan ceritanya yang aneh.
"Jangan ngaco!" sergah Binar pelan. "Zaman sekarang tidak ada yang namanya hantu," bantahnya kemudian.
__ADS_1
"Eh, kata siapa?" Arsenio kembali berusaha untuk meyakinkan Binar. Dia membalikkan tubuh gadis itu hingga jadi menghadap padanya. "Hantu di rumah ini sangat berbahaya. Dia kerap berbuat iseng, apalagi terhadap orang yang asing ...."
"Ya, apalagi jika orang asing itu merupakan gadis muda dan cantik. Maka hantu penghuni rumah ini pasti akan langsung berkeliaran ke sana-kemari," sindir Binar dengan wajah masam.
Sementara Arsenio hanya tertawa mendengar ucapan ketus Binar. Tiba-tiba dia mengangkat tubuh gadis itu dan mendudukkannya di atas meja. "Duduk manis di sini," pesan Arsenio seperti kepada anak kecil. Pria tampan tersebut lalu berjalan ke bagian lain meja berlapis granit hitam dengan ukuran yang lebar tadi. Dia mengambil satu buah apel yang baru, beserta pisau kecil.
Setelah itu, Arsenio kembali ke hadapan Binar. Pria dengan t-shirt round neck berwarna hijau armi tersebut memotong apel tadi menjadi beberapa bagian kecil. Setelah itu, Arsenio mengambil satu potong dan dia sodorkan ke dekat mulut Binar. Namun, gadis itu hanya terdiam menatap padanya.
"Buka mulutmu," suruh Arsenio pelan sambil menggerak-gerakkan ujung dari potongan apel yang lancip pada permukaan bibir Binar. "Haruskah aku memaksamu dengan cara yang lain?" tantangnya seraya menaikkan sebelah alis dengan tatapan nakal.
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Binar seakan tak merasa takut sama sekali.
"Ada banyak cara yang bisa kulakukan padamu. Salah satunya adalah ...." Arsenio mendekatkan diri, hingga bibirnya hampir bersentuhan dengan permukaan bibir gadis itu. Namun, dengan segera Binar memundurkan wajah, sehingga menimbulkan sedikit jarak di antara mereka.
Sementara Arsenio kembali tertawa pelan. Dia memasukkan potongan apel tadi ke dalam mulutnya, menggigit sedikit, lalu mengunyah dengan tenang. Setelah itu, dia menyodorkan sisa potongan yang masih dipegangnya. "Buka mulutmu," suruhnya lagi. Arsenio tetap memaksa untuk menyuapi gadis itu. Pada akhirnya, Binar pun mengalah. Dia membuka mulutnya. Setengah potongan apel tadi, kini sudah Binar kunyah.
"Sangat menyenangkan," jawab Binar. Dia lupa dengan niatnya untuk menjaga jarak dari pria tampan tersebut. Sikap Arsenio yang menggoda, membuat Binar tak kuasa untuk menghindarinya. "Kami pergi ke yayasan dan bertemu dengan beberapa anak. Tiba-tiba aku teringat kepada Wisnu dan Praya," ucap gadis itu kemudian.
"Kamu ingin pulang ke Bali? Aku bisa menemanimu," tawar Arsenio dengan enteng.
"Nanti saja, jika aku sudah punya cukup tabungan," tolak Binar polos sambil terus mengunyah apel tadi.
"Aku siap mengantarmu kapanpun." Arsenio kembali menegaskan. Dia menyuapi gadis itu lagi.
"Katakan sesuatu padaku," pinta Binar pelan.
"Tentang apa?" tanya Arsenio. Dia menatap gadis yang duduk di hadapannya.
__ADS_1
"Apa kamu selalu bersikap seperti tadi terhadap Fabien? Dia itu adikmu, kenapa kamu kasar padanya?" tegur Binar tak suka.
"Dia adik yang menyebalkan," sahut Arsenio dengan tak acuh.
"Apa karena dia memberitahuku tentang keburukanmu?" Binar menatap lekat Arsenio, seakan meminta penjelasan padanya. Sedangkan pria bermata colelat terang itu hanya mengeluh pelan. "Jadi, apa yang Fabien katakan memang benar, bahwa kamu yang telah merusak rumah tangga kak Chand bersama istrinya?"
"Binar, aku ...." Arsenio tak menyukai topik perbincangan mereka saat itu. "Bisakah kita membahas hal lain?" pintanya mencoba menghindar.
"Secara tidak langsung kamu telah mengakuinya," ucap Binar lagi seakan memaksa Arsenio untuk berkata iya.
"Itu kebodohanku dulu," ujar anak sulung dari Lievin dan Anggraini tersebut. "Seperti yang sudah kukatakan kemarin-kemarin. Aku senang mencari masalah dan melakukan apapun yang kumau. Namun, kebiasaan tersebut perlahan sirna setelah diriku mengenalmu," terang Arsenio dengan raut yang terlihat sungguh-sungguh.
"Kenapa kamu melakukan itu? Bukankah kalian bersahabat?" tanya Binar tak habis pikir.
"Ya. Namun, entahlah ... aku juga tak mengerti. Semuanya terasa menyenangkan pada saat itu. Akan tetapi, makin lama semuanya terasa seperti sebuah mimpi buruk. Aku mencoba untuk menghindarinya, tapi ternyata tak semudah yang kubayangkan." Nada bicara Arsenio terdengar begitu dalam. Dia lalu berdiri dengan posisi bersandar di sebelah Binar yang masih duduk di atas meja.
"Apakah Winona mengetahui hal itu?" tanya Binar lagi.
"Ya. Dia tahu segalanya. Akan tetapi, Winona selalu menutup mata dari segala kesalahan yang telah kuperbuat. Makin dia tak peduli, maka aku semakin ingin pergi darinya. Namun, tak semudah itu juga. Pada awalnya aku tak memikirkan hal seperti ini. Perasaan, itu bukan prioritas utama," jelas Arsenio.
.
.
.
Sekilas info. Mampir dulu yuk, di karya keren yg satu ini 😍
__ADS_1