
“Proses pembangunan tinggal sembilan puluh persen lagi,” tutur Lievin yang baru saja selesai menemui kepala proyek.
“Saat gedung-gedung ini benar-benar selesai dan dapat digunakan sepenuhnya, maka kegiatan belajar mengajar akan bisa segera dilangsungkan. Apalagi kita sudah mendapatkan tenaga pengajar mumpuni. Mereka telah melewati syarat yang sudah ditetapkan oleh Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi,” tutur Anggraini.
“Kita sudah berhasil menjaring mahasiswa-mahasiswa berpotensi di seluruh Indonesia. Mereka akan mendapatkan beasiswa penuh dari Yayasan Rainier,” lanjut Lievin lagi tersenyum bangga. Tak ada kepuasan lain dalam dirinya selama ini.
“Perlu diingat, bahwa calon mahasiswa yang berasal dari kalangan umum juga masih bisa mendaftar,” sambung Arsenio dengan kedua tangan di dalam saku celana panjangnya.
“Om dan Tante Rainier, saya sangat kagum akan kedermawanan Anda berdua,” sanjung Binar dengan mata berkaca-kaca, mengingat betapa banyak anak-anak di negeri ini yang sangat membutuhkan uluran serta bantuan untuk dapat mengenyam pendidikan yang layak.
“Oh, jangan salah, Nirmala. Seluruh prosesnya adalah atas inisiatif dan pendanaan dari Arsenio. Putra kami ini telah menyisihkan gajinya sebagai seorang CEO selama beberapa tahun. Lalu, dia menggunakan tabungan itu untuk mendirikan perusahaan investasi. Dari keuntungan bersih perusahaan investasi tersebut, Arsenio mendirikan universitas ini,” jelas Anggraini panjang lebar. Wanita cantik dengan penampilan anggun itu terlihat begitu bangga pada putra sulungnya.
“Arsenio sudah memiliki nama sendiri sebagai pebisnis sekaligus selebritas media sosial. Oleh karena itulah perusahaan memintanya menjadi brand ambassador maskapai penerbangan kami. Dia juga menjadi simbol wajah baru dari bisnis properti hasil kerja sama dengan Biantara, ayah Winona,” timpal Lievin.
“Itulah mengapa Arsenio dan Winona harus tetap bersama, karena mereka adalah simbol bersatunya dua perusahaan, yaitu Rainier dengan Biantara Sasmita,” lanjut Anggraini dengan sorot mata penuh harap yang mengarah pada putranya.
Napas Binar serasa tercekat di tenggorokan begitu mendengar penjelasan Anggraini. Dia segera menunduk untuk menghindari tatapan iba dari Arsenio. Pria tampan bermata indah itu juga tak menyangka bahwa ibunya akan berkata demikian.
“Tak disangka ternyata tuan muda Arsenio juga sama dermawannya dengan Anda berdua,” ucap Binar untuk menutupi perasaan tak nyamannya.
“Oh, begitulah Arsen. Di balik sifat nakal dan segala sisi negatifnya yang sulit untuk dikendalikan, dia memiliki empati yang cukup besar. Walaupun dia tak suka anak-anak, tapi dia telah banyak membantu yayasan untuk memberikan beasiswa pada mereka yang tak mampu,” balas Anggraini.
Binar pun menoleh pada Arsenio dengan tatapan heran. Masih teringat jelas dalam ingatan, ketika pria yang dia kenal sebagai Rain itu menginap di rumahnya dan sering bercanda dengan kedua adiknya. Saat itu tak tampak sama sekali bahwa Arsenio tak menyukai anak-anak. Binar menjadi semakin yakin bahwa ada banyak hal yang belum digali sepenuhnya dari pria tampan dua puluh tujuh tahun tersebut.
“Tidak perlu heran seperti itu. Kurasa wajar jika setiap orang memiliki sisi kemanusiaan dalam dirinya, meski sebejat apapun dia,” ujar Arsenio kalem. Dia juga melemparkan senyuman terbaiknya untuk Binar, lalu mengedipkan mata nakal di kala orang tuanya tak terlalu memperhatikan. "Setiap orang terlahir dalam sebuah kebaikan. Keadaanlah yang membentuk wataknya menjadi seperti apa. Pernah ada yang mengatakan padaku, bahwa mungkin saja diriku belum menyadari sisi terdalam dari karakter Arsenio yang sebenarnya," tutur pria itu lagi dengan sikap yang tenang.
Sementara Binar yang tadi sempat merasa terhempas dengan begitu dalam, kini dapat kembali memperlihatkan senyuman indahnya setelah mendengar ucapan Arsenio tadi. Ketiganya lalu kembali mengalihkan perhatian pada proyek pembangunan gedung. Mereka terus berbincang hangat sedangkan Binar hanya mendengarkan.
Saat itu, Binar yang berdiri di antara Anggraini dan Arsenio harus merasa tak nyaman, ketika merasakan ada sentuhan lembut pada pinggulnya.
__ADS_1
Namun, dia telah dapat mengetahui dengan jelas siapa yang melakukan itu. Gadis cantik yang kini lebih sering menggerai rambut hitamnya tersebut, memberanikan diri untuk melirik Arsenio. Akan tetapi, pria tampan dengan senyuman mematikan tersebut tak membalas lirikannya sama sekali. Arsenio masih asyik menanggapi obrolan kedua orang tuanya.
Setelah beberapa saat berlalu, obrolan tadi berubah menjadi percakapan yang jauh lebih serius terkait dengan peresmian universitas. Tanpa terasa, waktu bergerak cepat menuju siang. Mereka harus segera kembali, terutama karena Arsenio yang meninggalkan cukup banyak pekerjaan di kantornya.
Dengan kecepatan sedang, mobil yang mereka tumpangi telah sampai di kediaman Rainier. Selesai menurunkan kedua orang tuanya dan juga Binar, Arsenio bergegas ke kantor. Beberapa saat yang lalu, Dwiki menghubungi untuk membicarakan sesuatu yang penting dengan dirinya.
Setelah memarkirkan kendaraan, Arsenio bergegas turun begitu saja. Dia menuju ruangannya dengan langkah terburu-buru. Di sana, Dwiki sudah menunggu bersama seorang pria. Mata Arsenio tajam mengawasi pria yang berdiri di hadapannya itu. “Siapa dia?” tanyanya.
“Ini adalah pria yang terekam di dalam CCTV itu, Bos. Namanya Damar Wiguna,” jawab Dwiki bangga. Dia sudah berhasil melaksanakan tugas dari bosnya dengan baik.
“Oh, begitu,” sahut Arsenio. Pria itu melangkah gagah sambil memainkan kunci mobil. Dia mendekat dan berhadapan langsung dengan pria yang sedikit lebih pendek darinya. Arsenio kemudian memasukkan kunci yang sedari tadi dia genggam ke dalam saku celana panjang.
Damar yang awalnya lebih banyak menunduk, kini mendongak dan memberanikan diri untuk menatap mata coklat terang milik Arsenio.
“Jadi kamu pengacaunya,” seringai Arsenio.
“Apa maksudnya, Bos?” tanya Damar seolah tak paham.
“Apa yang harus saya jelaskan?” Damar menggeleng pelan, masih tetap pada sikap bingung yang entah memang sebenarnya atau hanya berpura-pura.
“Apa yang kamu lakukan di bank pada tanggal dua belas Juni kemarin?” tanya Arsenio dengan nada dingin tapi terdengar sangat tegas dan terasa begitu mengintimidasi.
“Sa-saya tidak ingat,” jawab Damar tergagap.
“Begitukah?” Arsenio tersenyum, lalu mengulurkan tangan pada pria yang sedang dia interogasi.
Dengan ragu, Damar menyambut jabat tangan pria rupawan itu. Namun, tak disangka karena setelah tangannya tergenggam, Arsenio malah menarik tubuh pria itu dan mengunci kakinya.
Begitu Damar terhuyung ke belakang dan hampir jatuh, Arsenio menahannya dengan kedua tangan. Dia mengangkat tubuh Damar, lalu membantingnya ke atas meja. Meja berlapis kaca itu pecah berhamburan tertimpa tubuh si pria.
__ADS_1
Dwiki cukup terkejut atas sikap bar-bar bosnya. Namun, dia lalu terbahak karena merasa mendapatkan hiburan gratis dengan adegan gulat di hadapannya itu.Tawanya berhenti ketika terdengar Damar mengerang kesakitan. Tampak tangan dan punggungnya mengeluarkan darah. Pecahan kaca tadi telah menggores tubuh di beberapa bagian.
Akan tetapi, Arsenio tak berhenti sampai di situ. Dia berjongkok dan mendekatkan wajahnya pada Damar. Kulit leher pria itu juga terlihat sobek dan berdarah. “Katakan padaku sejujur-jujurnya, atau kau akan merasakan sakit yang jauh lebih parah dari ini,” ancam Arsenio.
“Ampun, Bos,” rintih Damar pelan. “I-Indah yang memaksa saya untuk menransfer sejumlah uang ke rekening Burhan. Saya sama sekali tak tahu untuk apa uang itu. Saya hanya sekadar menuruti keinginan Indah,” tuturnya.
“Untuk apa kau menuruti Indah? Ada hubungan apa kamu dengannya?” cecar Arsenio.
“Dia pacar saya, Bos. Seringkali dia marah kalau saya tak mendengarkan apa yang dia minta. Indah bilang, uang itu untuk membayar jasa Burhan. Saya pikir semuanya berhubungan dengan pekerjaan,” jawab Damar lemah. Sesekali dia meringis merasakan darah menetes dari luka-lukanya yang terbuka.
Arsenio menoleh pada Dwiki. “Kalau begitu, tunggu apa lagi? Kejar Indah,” titahnya.
“Lalu, bagaimana dengan orang ini, Bos?” telunjuk Dwiki mengarah pada Damar.
“Biar orang-orangku yang akan membawa dia ke rumah sakit,” jawab Arsenio santai, lalu beranjak menuju ke kursi kebesarannya dan duduk tenang di sana.
Sementara itu, di salah satu ruangan apartemen mewah pusat kota Jakarta, seorang wanita muda tengah berjalan mondar-mandir sambil sesekali mengetuk-ngetukkan sudut ponsel pada kening sendiri. Wajahnya yang cantik tampak pias. Berkali-kali dia mengibaskan rambut ke belakang untuk menutupi rasa takut dan gelisah.
Dia sempat duduk di ranjang, lalu kembali berdiri menghampiri lemari. Dikeluarkannya semua baju dari dalam sana, lalu dia lemparkan begitu saja ke atas ranjang. Setelah itu, dia meraih koper yang terletak di samping lemari. Dimasukkannya baju-baju tadi secara tak beraturan ke dalam koper.
Apa yang dia lakukan itu berhenti ketika ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. Segera dibukanya pesan tersebut.
Dasar bodoh. Damar tertangkap. Aku tidak akan bertanggung jawab atas keadaanmu setelah ini.
Begitu bunyi pesannya.
“Tidak,” wanita cantik itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Dia segera membalas pesan tadi.
Lalu, bagaimana denganku? Apakah kamu akan lepas tangan begitu saja?
__ADS_1
Pesan itupun segera terkirim. Was-was dia menunggu balasan, sampai beberapa menit lamanya, sebuah panggilan datang dari nomor yang sama. Wanita itu menjawab dengan dada berdebar. “Ha-halo,” sapanya tergagap.
“Itu urusanmu. Dari awal perjanjian, kamu mau ikut secara sukarela dengan segala risiko yang akan kamu tanggung sendiri. Saranku, pergilah yang jauh. Jangan pernah menginjakkan kaki di Indonesia lagi,” jawab suara di seberang sana.