
“Binar?” Winona tersenyum kelu. Melihat dari cara Binar memandang ke arahnya, putri Biantara Sasmita itu seperti sudah dapat menebak bahwa ada sesuatu yang berbeda dengan istri dari Arsenio tersebut. Winona tak berani untuk mendekat apalagi berbasa-basi. Terlebih, saat dirinya melihat gerak mata Arsenio yang mengisyaratkan agar Winona tak melakukan apapun.
Winona tersenyum getir. Dia terlihat salah tingkah. Namun, wanita yang beberapa bulan lagi akan menginjak usia dua puluh tujuh tahun tersebut, segera dapat menguasai diri. Winona berusaha untuk tetap terlihat anggun dan berwibawa, dengan bahasa tubuhnya yang selalu mencerminkan bahwa dia adalah seorang wanita kelas atas. “Aku kemari untuk mencari Dwiki. Kupikir dia ada di sini. Namun, berhubung dia tidak ada, sebaiknya aku kembali saja.” Winona mengangguk pelan sebagai tanda bahwa dirinya hendak berpamitan. “Sampaikan salamku untuk Om Lievin.” Wanita dengan rok span selutut itu pun membalikkan badan.
Namun, baru saja Winona akan melangkah ke pintu keluar, suara Binar telah berhasil menahannya. “Apa Kakak sudah menyiapkan penjelasan untuk Dwiki? Kulihat tadi dia sangat terpukul.”
Winona mengembuskan napas pelan sebelum menoleh kepada Binar. Akan tetapi, dia tak ingin menghindar dari masalah yang kini tengah dihadapinya. Kekasih Dwiki itu tahu bahwa Binar pun pasti terpengaruh dengan apa yang sudah dilihatnya.
Perlahan, Winona membalikkan badan. Dia kembali memperlihatkan senyuman yang tampak tulus. “Aku rasa Dwiki kecewa bukan karena apa yang kulakukan bersama Arsen dulu. Dia sudah mengetahuinya sejak awal kami bersama. Aku juga tak harus menjelaskan apa atau mengapa, karena hal itu terjadi jauh sebelum kami saling mengenal dan jatuh cinta.” Winona terdiam sejenak.
“Semua orang memiliki masa lalu, dan itu tak selalu terlihat positif. Tak ada siapa pun yang berhak untuk menghakimi seseorang atas apa yang telah dia lakukan. Entah itu kesalahan besar atau kecil sekalipun. Hanya Tuhan yang berhak menentukan dosa seseorang, Binar.” Winona menundukkan wajahnya untuk sesaat. Sementara Arsenio hanya terdiam. Dia memang tak mengenali sosok wanita yang pernah menemaninya selama beberapa tahun tersebut.
“Dwiki yang selalu mengatakan itu padaku.” Winona tertawa getir. Dia kembali mengangkat wajah dengan raut yang dibuat setenang mungkin. Tanpa banyak bicara, Winona bergegas keluar dari kediaman mewah Keluarga Rainier sambil menyeka sudut matanya. Wanita berambut panjang tersebut segera memasuki mobil yang terparkir di halaman depan.
Sepeninggal Winona, kini hanya ada Arsenio dan Binar di ruang tamu. Hening dan canggung menyelimuti sepasang suami istri tersebut. Arsenio tak juga mengalihkan pandangannya dari paras sang istri yang masih terlihat merajuk. Sedangkan Binar tak ingin membalas tatapan si pemilik mata cokelat terang tersebut.
Entah Binar dapat mencerna apa yang Winona ucapkan atau tidak. Namun, perasaan cemburu dan kesal itu tetap saja ada. Dia menyesal kenapa harus ikut menyaksikan video syur antara sang suami dengan mantan tunangannya. Merasa tak nyaman dengan suasana di antara mereka berdua, Binar pun memutuskan untuk menghindar. Niatnya saat itu adalah taman, di mana Lievin dan Fabien telah menunggu sejak beberapa saat yang lalu.
Tanpa mengatakan apapun, Binar segera membalikkan badan. Dia tak memedulikan Arsenio yang memanggil namanya. Perasaan wanita muda tersebut masih terasa aneh. Binar kesulitan untuk dapat mengendalikan gejolak dalam dirinya. Usia yang masih terbilang muda, menjadi salah satu pengaruh dari segala sikap manja dan cemburu yang tak jarang membuat dia terlihat begitu kekanak-kanakan.
“Binar, Sayang. Kumohon.” Arsenio menyusul dan mencoba menyejajari langkah sang istri yang hendak menuju taman. “Kamu dengar apa yang Winona katakan tadi, kan?” Arsenio masih terus membujuk agar Binar berhenti merajuk.
“Jangan ganggu aku, Rain,” tolak Binar tanpa menoleh apalagi sampai menghentikan langkahnya.
“Aku akan terus melakukan ini sampai kamu mau memaafkanku dan bersikap biasa lagi,” balas Arsenio.
“Kenapa kamu sangat menyebalkan, Rain?” Binar tak tersenyum sedikit pun. Dia bahkan menekuk wajahnya. Hal yang biasa dirinya lakukan jika sedang merasa kesal terhadap Arsenio.
“Apa lagi yang harus kukatakan padamu? Aku bingung karena selalu menjelaskan hal yang sama secara berulangkali. Kumohon. Ayolah. Kita sudah sejauh ini. Jangan jadikan semuanya sia-sia hanya karena ….”
“Hanya karena katamu?” sela Binar kesal. Dia menghentikan langkahnya, kemudian menatap Arsenio dengan tajam. “Bagaimana jika kamu berada di posisiku? Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Binar dengan ketus.
“Karena itulah Tuhan memberikanmu padaku,” jawab Arsenio. “Aku tak bisa membayangkan andai kamu … aku tidak sekuat itu,” ucap Arsenio lagi. Dia lalu meraih jemari lentik sang istri, kemudian menggenggamnya erat. Arsenio tak melepaskan, meskipun Binar berusaha menariknya.
__ADS_1
“Kamu adalah cahaya terang dalam hidupku yang dipenuhi kegelapan. Aku yang dulu merasa nyaman hidup dalam kondisi seperti itu, kini sudah merasa seribu kali lebih baik setelah melihat sinar terang yang membuat mataku dapat memandang segala hal dengan jelas. Apakah kamu akan kembali mengirimku pada kegelapan yang telah lama kutinggalkan?”
“Selama menjalani hidup denganmu, apakah aku pernah berbuat macam-macam? Aku bahkan tak ingin lagi melihat keindahan yang lain, selain parasmu. Dengan cara apa harus kubuktikan semua itu? Kamu tahu bahwa aku rela meninggalkan semuanya demi mempertahankan cinta kita. Aku bahkan menjauh dari kedua orang tuaku. Apakah itu tak berarti sama sekali?” Terbersit rasa kecewa dalam dada Arsenio. Namun, lagi-lagi kedewasaan sulung dari dua bersaudara itu kembali diuji.
Belum sempat Binar menanggapi ucapan Arsenio, terdengar suara Lievin yang memanggil mereka berdua. Pria itu melambaikan tangan dari kursi taman. Memberi isyarat agar Arsenio dan Binar segera bergabung bersamanya dan juga Fabien.
“Papa memanggil kita. Tolong jangan perlihatkan kemarahanmu di hadapannya. Itu juga jika kamu masih menganggap kami sebagai orang-orang yang berharga bagimu,” pesan Arsenio seraya meraih tangan Binar. Dia menggenggam jemari sang istri yang tak menolak sama sekali saat, saat Arsenio menuntunnya hingga ke hadapan Lievin. “Ada acara apa ini? Kelihatannya seru sekali,” tanya Arsenio berbasa-basi. Dengan cepat, sikap serta raut wajah pria itu berubah ceria di hadapan ayah serta adiknya.
“Tidak ada yang istimewa. Papa hanya ingin mengajak Binar minum teh di sore hari. Ternyata kamu juga ikut,” sahut Lievin yang sudah terlihat jauh lebih tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya.
“Astaga. Apakah semenjak ada Binar, aku tidak dianggap anak lagi oleh Papa?” Arsenio mencoba melemparkan candaan. Sementara Binar hanya terdiam. Dia sedang belajar bagaimana caranya berpura-pura.
“Sudah kucoret dari silsilah keluarga pun kamu pasti kembali. Keluarga Rainier memang harus berbangga hati karena memiliki putra sepertimu, Arsen,” sahut Lievin. Dia menuangkan teh pada cangkir milik Arsenio dan juga Binar.
“Kamu dengar itu, Sayang?” Arsenio melirik Binar yang menoleh padanya. “Papa menyanjungku.” Arsenio tertawa renyah. Sedangkan Binar hanya menanggapi dengan senyum yang dipaksakan, membuat Arsenio harus mere.mas paha sang istri sebagai isyarat.
Binar yang tadinya hendak protes, sudah melotot tajam kepada pria tampan berambut cokelat tersebut. Namun, setelah melihat Arsenio tersenyum kalem sambil mengedipkan sebelah mata, wanita yang tengah hamil muda itu segera mengurungkan niatnya. Bagaimana tidak? Arsenio terlihat sangat tampan. “Kamu memang sangat membanggakan, Rain,” ujar Binar sambil tersenyum lebar.
“Karena itu segeralah mencari pasangan, lalu ajak dia menikah. Namun, ingat satu hal, Fabien. Jangan sampai istrimu nanti tahu kebiasaan buruk yang kamu rahasiakan darinya,” ujar Binar setengah menyindir Arsenio.
“Aku tidak mempunyai kebiasaan buruk apapun ….”
“Kau selalu memakai pakaian dalam yang sama selama berhari-hari,” sela Arsenio.
“Dari mana kau tahu itu, Arsen?” Fabien melayangkan tatapan protes kepada sang kakak. “Itu hanya dalam kondisi terdesak,” kilahnya.
“Dalam satu bulan, berapa kali kau berada dalam kondisi terdesak?” Arsenio tak mau kalah.
“Kapan-kapan Papa harus membawa Fabien memeriksakan diri ke dokter,” ujar Arsenio lagi seraya mengarahkan perhatiannya kepada Lievin yang hanya menyimak.
“Maaf. Aku tidak mau ikut campur dalam masalah kalian. Jangan libatkan aku,” tolak Lievin seraya meneguk teh yang terlihat masih mengepulkan asap.
Sore itu dilalui dengan acara minum teh di taman. Satu hal yang menjadi kebiasaan semasa Anggraini masih ada. Lievin hanya ingin meneruskan kegemaran sang istri, agar kenangan tentangnya tetap ada dan selalu terjaga.
__ADS_1
Menjelang petang, Lievin berpamitan ke kamar. Demikian pula dengan Fabien yang terlihat sedikit lebih ceria dibanding hari-hari kemarin. Kini tinggallah Binar dan Arsenio yang masih duduk berdampingan, tetapi saling membisu.
“Apa kamu tidak ingin masuk, Sayang?” tanya Arsenio hati-hati.
“Aku masih ingin di sini. Sudah beberapa hari ini aku terkurung terus di dalam kamar,” jawab Binar dengan nada dingin dan datar.
“Baiklah. Akan kutemani,” putus Arsenio. Diam-diam dia meletakkan tangannya di sandaran kursi, tepat di belakang punggung Binar. “Apa yang kamu pikirkan?” tanyanya lagi ketika memperhatikan wajah murung istrinya.
“Sepertinya aku tidak sanggup,” sahut Binar lirih seraya menunduk dalam-dalam.
“Tidak sanggup kenapa?” Mendadak perasaan Arsenio menjadi was-was.
“Ternyata aku belum sepenuhnya bisa menerima masa lalumu, Rain,” ungkap wanita muda itu. “Setiap kali aku melihatmu, aku selalu membayangkan kamu di dalam video itu. Kamu bercinta dengan kak Wini. Ekspresimu, senyumanmu, suaramu, sama sekali tak ada bedanya ketika bercinta denganku.”
Binar menutupi wajah cantiknya dengan kedua tangan. Isakan yang awalnya terdengar pelan kini semakin kencang.
“Ya, Tuhan. Sayangku.” Tanpa berpikir dua kali, Arsenio beringsut dari tempat duduknya, lalu duduk bersimpuh di hadapan Binar. Kedua tangannya dia letakkan di pangkuan sang istri. Arsenio bahkan sudah tak dapat menghitung lagi, berapa kali dirinya berlutut di hadapan wanita itu.
“Bisakah kamu melupakan semua yang kamu lihat tadi? Harus dengan cara apa agar kamu tak membayangkannya terus-menerus?” Suara pria rupawan itu terdengar begitu putus asa. “Aku sama sekali tidak menyangka jika dampaknya akan menjadi sebesar ini, Binar.”
“Entah apa yang kamu rasakan padaku sebenarnya, Rain. Apa tujuanmu saat menyentuh dan menikmati tubuhku. Aku sudah tidak mengerti lagi.” Binar bergumam pelan sambil terus menyembunyikan wajahnya.
“Haruskah kamu bertanya demikian? Aku bahkan rela kehilangan segalanya demi bersama denganmu. Apa lagi yang harus kubuktikan? Aku mencintaimu! Lebih dari segalanya! Tidak seperti Wini, karena aku tidak pernah mencintainya!” tegas Arsenio dengan intonasi yang sedikit meninggi.
“Beginilah aku yang brengsek ini, Binar. Dulu aku bisa berhubungan dengan wanita manapun yang aku mau. Tanpa perasaan cinta sedikit pun!” ucap Arsenio penuh penekanan. “Namun, sejak mengenalmu aku telah membuang sikap buruk itu jauh-jauh.”
Perlahan, Binar menyingkirkan tangan. Menampakkan parasnya yang semakin cantik. Melihat hal itu, Arsenio merasa sedikit lega. Akan tetapi, perasaan itu tak berlangsung lama, ketika Binar tiba-tiba melepas cincin pernikahan bermata lumba-lumba. Dia lalu memberikan cincin itu pada sang suami.
“Apa maksudnya ini, Binar?” desis Arsenio dengan suara bergetar.
“Kukembalikan cincin ini padamu, Rain. Sepertinya aku ingin kita berpisah dulu sampai aku siap dan yakin dengan perasaanku,” jawab Binar.
Kalimat sederhana yang keluar dari bibir ranum sang istri, nyatanya bagaikan pedang tajam yang menembus jantung Arsenio. Dunia Arsenio seakan runtuh untuk kedua kalinya.
__ADS_1