Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Sejuta Maaf


__ADS_3

Binar seakan membeku. Pikirannya mendadak kosong saat melihat adegan percintaan yang diperankan oleh suaminya sendiri bersama sang mantan tunangan, Winona. Selama ini, Binar memang telah mendengar betapa bejatnya Arsenio di masa lalu. Namun, baru kali ini wanita muda itu melihatnya dengan mata kepala sendiri.


“Sayang, dengarkan aku. Itu rekaman lama. Jauh sebelum kita bertemu.” Arsenio memegang kedua lengan Binar. Dia berusaha menjelaskan kepada Binar, karena istrinya terlihat bersikap berbeda.


Mendengar suara lembut suaminya, Binar segera tersadar. Dia menepiskan tangan Arsenio dengan kencang. Sorot matanya terlihat jijik dan tak percaya. Binar menggeleng pelan, seakan menolak penjelasan apapun yang akan dikemukakan suaminya. “Jangan pernah sentuh aku lagi,” desisnya.


Sementara Ajisaka hanya melongo saat menyaksikan hal itu. Dia lalu melirik ke arah Dwiki yang juga menunjukkan rasa kecewa. “Ki, sudahlah. Semua yang di dalam video itu sudah lama terjadi. Bukan berarti Bos Arsen dan Bu Winona masih ada hubungan sampai sekarang,” ucapnya mencoba menenangkan sepupunya yang tampak kian bermuram durja.


“Oh, ya? Begitukah menurutmu? Lalu, kenapa Winona masih menyimpan semua itu hingga saat ini? Untuk apa dia menyimpan video mesumnya bersama bos kita?” Dwiki menatap sinis kepada sang sepupu. Dia tersenyum getir, kemudian berdiri.


“Bos, saya pamit pulang dulu,” ucapnya sembari melewati Arsenio yang tengah membujuk Binar. Dia tak menunggu jawaban dari sang majikan untuk terus keluar dari kamar dan membiarkan pintunya terbuka lebar.


“Tunggu, Ki!” cegah Binar saat anak buah kesayangan suaminya tersebut sudah berada di ambang pintu. “Aku juga ingin pergi dari sini! Bantu aku agar dapat pulang ke Bali!”


Perkataan Binar barusan tentu saja membuat Arsenio terkejut bukan kepalang. “Apa maksudmu pergi dari sini, Binar?” tanyanya dengan intonasi meninggi. “Jangan dengarkan apa kata istriku, Ki! Kamu pulang saja dulu dan dinginkan kepalamu!” titah Arsenio seraya menoleh pada Dwiki yang masih berdiri di tempatnya.


“Baik, Bos.” Dwiki mengangguk, kemudian berlalu tanpa menoleh lagi.


“Dwiki! Tunggu!” Binar tak ingin menyerah. Dia mencoba mengejar kekasih Winona tersebut. Namun, Arsenio lebih dulu mencegahnya.


“Binar, kamu sedang hamil!” tegurnya. “Kamu masih diliputi emosi.” Nada bicara Arsenio melemah. Dia menatap istrinya dengan lembut.


“Siapa yang tidak emosi saat melihat adegan tak senonoh macam itu, Rain!” balas Binar ketus. “Kamu dan ….” Binar tak melanjutkan kata-katanya, sebab air mata lebih dulu menetes.


“Itu terjadi di masa lalu, Binar. Aku ….” Arsenio kehabisan kata-kata untuk memberikan penjelasan di hadapan sang istri. Terlebih, saat itu Binar tengah dikuasai amarah luar biasa.


“Dilakukan di masa lalu atau bukan, yang jelas adegan intim itu memang terjadi. Mungkin aku bisa menerima berita miring tentangmu dan tak memasukkannya ke hati. Akan tetapi, ini berbeda, Rain. Aku melihatnya secara langsung, seperti apa kelakuanmu dulu!” Binar menggeleng pelan. Dia menggigit bibirnya kuat-kuat untuk menahan rasa sesak di dada. Hatinya teramat sakit bagai disayat ribuan belati.

__ADS_1


Kini, Binar sudah melihat sisi kelam sang suami. Pria yang dia nikmati raga dan cintanya setiap malam. Sejak detik ini, Binar tak akan dapat melihat Arsenio dengan cara yang sama lagi. Setiap kali dia memandang wajah tampan beriris mata coklat terang itu, Binar akan mengingat desa•han napas suaminya bersama Winona. Setiap kali Arsenio menyentuhnya, Binar akan selalu teringat pada sang suami yang tengah mencumbu tubuh wanita lain dengan penuh nafsu.


Binar kembali menggeleng, sambil mundur menjauh dari Arsenio. “Aku ingin pulang,” ujarnya beberapa saat kemudian.


“Pulang ke mana, Sayang? Ini rumahmu,” Arsenio menatap lekat paras cantik sang istri yang tampak sangat kecewa.


“Aku ingin bertemu Wisnu dan Praya,” jawab Binar mulai terisak. Makin lama tangisannya makin kencang.


“Sayang ….” Arsenio tak putus asa untuk merengkuh tubuh ramping istrinya. “Biar mereka yang datang kemari. Kamu jangan ke mana-mana,” pintanya sambil berusaha memeluk Binar.


“Lepaskan!” Sekuat tenaga Binar menolak. Dia bahkan mendorong tubuh Arsenio hingga terhuyung ke belakang. “Sudah kubilang, jangan sentuh aku lagi!” tolaknya. “Suruh Ajisaka mengantarkan aku pulang ke Bali.” Binar masih ngotot dengan permintaannya.


“Aku tidak akan mengizinkan kamu pergi ke manapun, Binar! Kamu istriku!” tegas Arsenio. “Sampai kapanpun kamu tetap istriku!”


“Baiklah.” Binar mengangguk pelan. “Kalau kamu melarang aku keluar dari rumah ini, setidaknya carikan aku kamar lain.”


“Bos Arsen benar, Bu Bos. Tenanglah.” Ajisaka akhirnya ikut angkat bicara. Dia merasa canggung ketika harus melihat pertengkaran suami istri di depan matanya.


Binar menoleh pada Ajisaka. “Tolong, bawakan semua barang-barangku yang ada di kamar ini, lalu pindahkan ke kamar lamaku,” suruhnya. Binar terus menghindari tatapan sendu Arsenio.


“Um, kamar lama Bu Bos ada di sebelah mana?” Ajisaka meringis sambil menggaruk pelipisnya.


“Kamarnya ada di paling ujung, Ji. Di lantai yang sama dengan kamar ini,” jawab Arsenio sebelum Binar sempat membuka mulut. “Turuti saja kemauan istriku sampai dia tenang.” Pria blasteran Belanda itu mengalah. Tak ada gunanya dia mencegah Binar yang masih dalam kondisi panas. Satu-satunya keputusan terbaik yang dapat Arsenio lakukan adalah menuruti semua kemauan sang istri.


“Terima kasih.” Binar langsung bergerak cepat. Dia menunjukkan barang-barang mana yang harus dikemas oleh Ajisaka. Namun, ada barang-barang tertentu yang harus dia bawa sendiri, seperti pakaian dalam. Arsenio sendiri tak dapat berbuat apa-apa. Setiap kali dia berusaha mendekat dan membantu, Binar selalu saja menolak.


Setelah semuanya siap, Binar mengarahkan Ajisaka ke sebuah kamar yang dia tempati saat pertama kali pindah ke rumah megah itu dua tahun yang lalu. Seketika, kenangan lama menyeruak masuk memenuhi benaknya saat Binar membuka pintu kamar lebar-lebar.

__ADS_1


Air mata wanita muda itu kembali jatuh tanpa bisa ditahan. Dia tak pernah menyangka bahwa mencintai seseorang ternyata bisa sedemikian menyakitkan.


“Ditaruh di mana koper-koper ini, Bu Bos?” tanya Ajisaka yang kebingungan. Bagaimana tidak, Binar hanya terdiam membisu di ambang pintu dan menghalangi jalannya. Binar tidak bergerak sama sekali, sedangkan kedua tangan Ajisaka sudah kesemutan karena membawa koper-koper besar dan berat.


“Oh, iya. Maaf. Taruh saja di sudut kamar. Nanti biar kutata sendiri,” tunjuk Binar seraya menggeser tubuhnya. Dia memberi jalan untuk Ajisaka agar dapat masuk.


Dengan cekatan, Ajisaka melakukan perintah Binar hingga selesai. Dia lalu berpamitan hendak keluar kamar, bersamaan dengan Arsenio yang tiba-tiba muncul di depan pintu. “Bos?” sapanya.


“Pergilah dulu ke kamarku. Aku akan bicara sebentar dengan Binar,” titah Arsenio pelan.


“Baik, Bos.” Ajisaka mengangguk, lalu bergegas meninggalkan majikannya.


Sementara Arsenio berjalan pelan, saat mendekati Binar yang tampak melamun dengan tatapan kosong. “Sayang,” panggilnya lembut.


Mendengar suara Arsenio, Binar langsung berjingkat dan mundur beberapa langkah. Dia menjauh dari suaminya sendiri. “Mau apa lagi!” sentaknya.


“Aku ingin meminta maaf atas kebodohanku di masa lalu,” ucap Arsenio. “Maukah kamu memaafkanku, Sayang?”


Binar terdiam. Dia fokus pada bibir tipis kemerahan suaminya. Bibir yang sama yang digunakan untuk mencumbui Winona. Saat itu juga Binar menggeleng kencang. “Tolong tinggalkan aku sendiri!” pintanya.


“Apa yang ada di dalam video itu sudah lama berlalu, Sayang. Itu diriku yang dulu, sebelum aku berjumpa denganmu. Aku yang sekarang sangatlah berbeda,” ujar Arsenio membela diri.


“Nyatanya pria yang ada dalam video itu adalah sosok pria yang sama dengan yang berdiri di hadapanku saat ini.” Binar tersenyum sinis pada Arsenio sebelum membuang muka.


“Di mana kalimatmu yang selalu menegaskan bahwa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua?” Arsenio terus berjuang untuk mendapatkan maaf dari istri tercinta. “Kamu juga mengatakan bahwa seorang ibu akan selalu memaafkan setiap kesalahan anaknya. Sebesar apapun,” imbuhnya.


“Aku bukan ibumu!” sahut Binar.

__ADS_1


__ADS_2