
"Jadi, kamu yang selama ini dicari oleh anakku?" tanya Anggraini dengan nada suara yang bergetar. Hati wanita paruh baya itu sungguh tak karuan, terlebih saat melihat Binar pun mengangguk dengan yakin.
"Selama ini ternyata kamu berada di dekat kami. Membohongi kami," lanjut Anggraini seraya menggeleng tak percaya. "Katakan yang sebenarnya, apakah kamu benar-benar kekasih Chand atau bukan?" Raut wajah wanita paruh baya itu tak terlihat hangat dan bersahabat seperti sebelumnya. Jelas sudah bahwa dia tak menyukai kebenaran yang baru terungkap di depan mata.
"Saya dan kak Chand tidak pernah memiliki hubungan apapun," jawab Binar dengan pasti. Dia memberanikan diri dan mengesampingkan segala rasa takut yang kerap hadir saat berhadapan dengan orang tua Arsenio tersebut.
"Lalu apa yang kamu inginkan? Kamu telah menipu Chand dan juga menipu kami semua!" Nada bicara Anggraini mulai meninggi. Selama Binar mengenal wanita itu, baru kali ini dia menyaksikan amarahnya yang seperti akan segera meledak.
"Saya tidak bermaksud menipu siapa pun, Tante. Saya ...."
"Tutup mulutmu dan jangan pernah memanggilku dengan sebutan 'tante'. Aku hanya mengenal Nirmala, bukan Binar!" tegas Anggraini dengan penolakannya.
"Nama saya memang Nirmala, Tante. Nirmala Binar Candramaya. Itu adalah hadiah yang diberikan oleh mendiang kedua orang tua saya sejak pertama dilahirkan. Jadi, saya tidak pernah memalsukan jati diri di hadapan siapa pun," sanggah Binar membuat Lievin dan Anggraini tak tahu harus menanggapi apa. Begitu juga dengan Arsenio yang saat itu menoleh padanya sambil tersenyum kalem.
"Binar memang benar. Dia tak pernah menipu siapa pun. Aku yang menyuruhnya agar tak bicara jujur kepada kalian berdua. Aku hanya ingin mencari saat yang tepat untuk mengatakan ini semua. Aku juga tak pernah mengira akan seperti ini. Semuanya di luar rencana," bela Arsenio.
"Kamu sama saja, Arsen!" hardik Lievin. "Aku tidak butuh penjelasan apapun. Aku hanya ingin agar kamu meninggalkan gadis ini dan memperbaiki hubungan dengan Winona!" tegas pria asal Belanda itu lagi. Wajahnya sudah semakin memerah, pertanda bahwa api kemarahan yang ada dalam dirinya kian berkobar dan membakar seluruh akal sehat. Dia tak dapat lagi mengendalikan kewarasan serta sikap selayaknya orang dari kalangan atas.
Namun, semangat dalam diri Binar pun kian muncul. Sekarang dia tahu apa yang benar-benar dirinya inginkan. "Saya ... mencintai putra Anda. Itu sudah berlangsung dari semenjak pertama kali kami bertemu," tutur Binar. Dia berusaha untuk tetap berdiri tegar di hadapan para penguasa itu.
"Ah cinta!" Lievin tertawa meremehkan sambil mengusap dagu. Dia tak segera menanggapi lagi, melainkan hanya terus mengamati Binar dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Perlahan, pria dengan postur tinggi besar itu mulai menenangkan diri. Dia sudah berumur dan tak sanggup lagi untuk memacu diri dalam amarah yang terlalu meledak-ledak.
"Katakan apa yang kamu inginkan sebenarnya? Jujur saja. Kamu tidak perlu takut. Aku berjanji tak akan marah," bujuk pria tersebut dengan nada bicara yang jauh lebih tenang.
"Saya hanya ingin bersama Rain, maksud saya Arsenio," jawab Binar dengan yakin.
Tak terkira betapa bahagianya perasaan Arsenio ketika Binar berkata demikian. Semakin dieratkannya genggaman tangan pada jemari sang kekasih. Tanpa sungkan dan malu, Arsenio mengecup punggung tangan Binar. Dia seakan tak peduli jika di hadapannya masih berdiri dua orang yang jelas-jelas menentang hubungan mereka berdua.
Apa yang Arsenio lakukan, ternyata kembali memantik amarah dalam diri Lievin dan Anggraini. Bagi Lievin, sikap putra sulungnya tersebut bagaikan telah menantang terhadap dia dan sang istri. Namun, Lievin tak hendak berteriak ataupun bicara dengan nada berapi-api lagi. "Sepertinya aku tahu apa yang lebih kamu inginkan, Binar," ucap Lievin tiba-tiba. Dia lalu membalikkan badan kemudian meninggalkan kedua sejoli itu. Sementara Anggraini masih lekat memperhatikan Binar.
Tak berselang lama, Lievin kembali dengan membawa buku cek dan pulpen. Dia menyobek selembar, lalu menyodorkannya kepada Binar. "Isilah nominal yang kamu inginkan. Sebanyak apapun itu sama sekali tak masalah bagiku, asalkan kamu mau meninggalkan Arsenio," ujar Lievin yang seketika membuat Binar dan Arsenio terbelalak tak percaya.
__ADS_1
"Saya tidak ingin uang Anda, Om," tolak Binar. Butiran air mata mulai menetes di pipinya.
"Anggap saja sebagai bentuk terima kasih kami, karena kamu telah menyelamatkan nyawa Arsenio saat di Bali," timpal Anggraini. "Tulislah sebanyak apapun nominal yang kamu mau," lanjutnya dengan raut keramahan yang teramat dia paksakan. Bagaimanapun juga, Anggraini tahu bahwa Binar adalah gadis yang baik.
"Mama keterlaluan!" Arsenio berseru tertahan. "Kenapa kalian selalu saja mengukur segala sesuatunya dengan uang? Jika malam itu Binar tak menemukanku, pasti saat ini aku sudah mati! Seberapa besar kalian akan menghargai nyawaku?" geramnya.
"Tentu saja nyawamu tak bisa ditukar dengan apapun, Nak. Mama hanya ingin berterima kasih pada Binar. Bukan begitu?" Anggraini mengalihkan tatapannya pada wajah cantik yang tengah menahan amarah serta rasa sakit dan tersinggung.
"Saya tulus membantu putra Anda. Saya tidak berharap akan apapun juga, Tante. Maaf, bukannya saya bermaksud sombong. Akan tetapi, saya tidak bisa menerima pemberian Anda," tolak Binar dengan halus.
"Lalu, apa yang harus kami lakukan agar kamu mau menjauhi Arsenio?"
"Ma!" sentak Arsenio menyela kalimat Anggraini begitu saja. "Hargai perasaan Binar!"
"Untuk apa Mama harus menghargainya, sedangkan dia sendiri sudah menipu kami mentah-mentah. Dia datang mengaku sebagai Nirmala, mendekatiku, dan bahkan sampai kupekerjakan sebagai asisten pribadi. Namun, lihatlah kenyataannya. Dia memporakporandakan hubunganmu bersama Winona," ungkap Anggraini tanpa jeda. Wanita itu sama menangisnya dengan Binar, yang begitu terluka hatinya atas kata-kata Anggraini.
"Jangan sebut dia sebagai penipu, Ma. Aku tidak terima," desis Arsenio. "Jika harus jujur, maka akulah yang sebenarnya telah menipu kalian berdua," ucap Arsenio tiba-tiba.
"Sejujurnya, ingatanku telah pulih sejak beberapa waktu yang lalu, tepat saat aku memutuskan untuk bertunangan dengan Winona," ungkap Arsenio yang membuat sepasang suami istri itu saling pandang.
"Aku memang sengaja merahasiakan ini. Aku juga yang memaksa Binar agar bersedia untuk bekerja di sini, karena pada awalnya dia menolak dengan tegas. Kumohon mengertilah. Aku sudah mencarinya. Jadi, mana mungkin akan melepaskan dia setelah kami dipertemukan kembali." Arsenio mulai menurunkan tensi. Dia mencoba untuk kembali pada karakternya yang tenang dan tak acuh dalam menghadapi masalah.
"Aku berencana untuk bersikap jujur, ketika dirasa bahwa kalian sudah bisa menilai dengan obyektif bagaimana sifat dan karakter Binar sebenarnya," jelas Arsenio lagi.
"Bukankah dari awal Mama sudah mengatakan bahwa kami hanya akan merestuimu bersama Wini, Arsen? Mama tidak bisa menerima perempuan lain selain dia!" tegas Anggraini. Sosok kalem dan lemah lembut yang selama ini Binar kenal, tidak tampak lagi dalam diri wanita itu.
"Aku tidak mencintai Wini, Ma! Lagi pula Wini sudah mengumumkan putusnya hubungan kami. Apa lagi yang ingin Mama lakukan?" balas Arsenio yang kembali terlihat gusar.
"Perbaiki hubunganmu dengannya. Datanglah ke rumah Biantara. Mintalah maaf. Kalau perlu, berlututlah di kaki Wini," ujar Lievin menimpali ucapan Anggraini.
Arsenio terperanjat, seakan tak percaya akan kalimat yang baru saja diucapkan oleh sang ayah. "Apa? Papa ingin aku berlutut di depan Wini?" desisnya.
"Akui saja kalau kamu memang salah dan selama ini selalu membuat gara-gara," sahut Anggraini dengan entengnya.
__ADS_1
"Sadarkah kalian berdua atas apa yang telah kalian katakan barusan?" Arsenio menggeleng tak percaya. "Demi apa aku harus menjatuhkan harga diriku di hadapan keluarga Biantara Sasmita?" protes sulung dua bersaudara itu dengan tegas.
"Harga dirimu sudah tak ada semenjak kamu membawa gadis itu masuk ke dalam rumah dan berkali-kali mencium tangannya!" telunjuk Lievin terarah pada Binar. Amarah yang tadi sempat mereda, kini kembali tersulut karena sikap Arsenio yang dinilai keras kepala dan tak bersedia menurut terhadap kata-katanya.
"Rain, sudahlah. Jangan dilanjutkan lagi," bisik Binar lirih. "Aku tak ingin menghancurkan hubungan keluarga kalian. Biarlah aku yang mengalah," ujar gadis itu pelan. Namun, Anggraini dapat mendengarnya dengan jelas.
"Terima kasih atas pengertianmu, Binar. Aku sangat menghargainya. Kamu dengar sendiri apa katanya 'kan, Arsen?" seutas senyuman samar mulai terbit di bibir Anggraini.
Lain halnya dengan Arsenio yang semakin emosi. "Aku tidak akan melepaskan Binar. Terserah kalian menyukainya atau tidak. Aku juga tidak peduli apakah kalian akan merestui kami atau sebaliknya." Arsenio menggenggam erat jemari Binar sampai-sampai gadis itu meringis kesakitan.
"Rain, hentikan." Binar menunduk dan mulai terisak. Caci maki terus dia terima. Akan tetapi, Binar akan merasa berdosa apabila karena dirinya hubungan orang tua dan anak menjadi retak.
"Kamu sudah berjanji, Binar! Kamu berjanji tidak akan meninggalkanku! Sekarang penuhilah janjimu." Intonasi Arsenio penuh penekanan sambil melotot tajam kepada sang kekasih.
"Lepaskan saja dia, Arsen! Papa berjanji, dia tidak akan hidup kekurangan," bujuk Lievin lagi. Kali ini dengan nada bicara yang jauh lebih lembut.
"Simpan saja semuanya, Pa. Baik Binar maupun aku, kami tidak membutuhkan materi darimu. Ayo, Binar!" Arsenio menarik tangan sang kekasih dan memaksanya untuk meninggalkan tempat itu.
"Selangkah saja kamu meninggalkan tempat ini, maka kuanggap kamu mati!" Kata-kata Lievin menggelegar, menggema di seluruh sudut ruangan. Anggraini sendiri juga tampak terkejut. Lalu menoleh pada Lievin seakan melakukan protes.
"Hidup ini adalah pilihan, Arsenio Wilhelm Rainier! Kau boleh mengikuti gadis itu dengan syarat, tinggalkan semua hartamu! Keluarlah dari sini tanpa membawa apapun, sama seperti kau yang baru saja keluar dari perut ibumu!" sentak Lievin.
Sontak Arsenio berbalik dan menghadap ke arah sang ayah. "Apapun?" ulangnya.
"Apapun itu! Kalau bisa bahkan baju yang kamu pakai sekarang!" tegas Lievin penuh keyakinan. Anggraini sendiri tak banyak bicara. Dia terlalu terkejut, sampai-sampai tenggorokannya terasa sesak.
"Apakah itu termasuk perusahaan investasi yang kurintis dari nol dengan usahaku sendiri? Aku mendirikannya dengan gaji yang kudapat selama menjabat sebagai CEO Groenland Property," tanya Arsenio ragu.
"Kau pikir saja sendiri, siapa yang memberimu gaji? Aku dan Biantara, bukan Binar atau yang lain," Lievin menyeringai dan memandang sinis kepada putranya. Dia sangat yakin jika Arsenio pasti akan tetap memilih harta daripada seorang Binar. Putranya itu sudah terbiasa hidup dalam kemewahan.
"Baiklah, kalau itu memang yang Papa inginkan," sahut Arsenio beberapa saat kemudian.
"Aku akan mengurus berkas-berkas pemindahan kepemilikan perusahaan. Semuanya akan aku kuasakan atas nama Papa," lanjutnya dengan nada bicara yang begitu tenang.
__ADS_1