Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Si Kepiting Merah


__ADS_3

"Fabien?" Binar tak jadi menutup pintu kamarnya. Gadis itu menjadi salah tingkah, ketika adik dari Arsenio tadi memanggilnya dengan nama Binar. "Namaku ... Nirmala, bukan Binar."


Fabien tersenyum simpul. Dia mendekat, lalu berdiri di hadapan Binar yang bersembunyi di balik pintu kamar. "Jangan takut. Aku dan Arsenio memang kerap bercanda secara berlebihan. Namun, seperti itulah cara kami saling menunjukkan rasa perhatian satu sama lain," terangnya dengan santai. "Aku juga sudah mengetahui bahwa kamu adalah Binar, bukan Nirmala," ucapnya lagi.


"Lalu?" tanya Binar polos. Tatap matanya sudah begitu sayu. Gadis itu belum tidur sama sekali.


"Kenapa kamu hanya bertanya 'Lalu?'. Tidakkah kamu ingin mengatakan sesuatu padaku, mungkin sedikit cerita tentang kakakku saat dia amnesia. Apakah Arsenio masih menyebalkan saat dia hilang ingatan?" pertanyaan dari Fabien terdengar aneh sekaligus lucu bagi Binar. Gadis itu tertawa pelan di antara rasa kantuk yang sudah mendera.


"Pertanyaanmu sesuatu sekali," ucap gadis itu menanggapi. Binar kemudian menguap. "Bukannya aku tak ingin bercerita padamu, tapi aku belum tidur sama sekali sepanjang malam ini. Sementara besok aku harus menemani tante Anggraini mengunjungi panti asuhan," tolak Binar dengan halus. Dia juga kembali menguap panjang.


"Ah sayang sekali. Baiklah kalau begitu. Jangan lupa kamu masih punya utang padaku untuk bercerita. Apalagi waktuku di sini hanya tinggal beberapa hari," pesan Fabien seraya berjalan mundur. Gayanya hampir sama seperti Arsenio tadi saat berlalu dari dekat kamar gadis cantik itu.


Sedangkan Binar tidak menjawab. Dia hanya tersenyum. Segera ditutupnya pintu dengan rapat, ketika Fabien tak lagi terlihat di koridor. Kini, Binar dapat merebahkan tubuhnya dengan leluasa. Tanpa terasa, kedua matanya pun terpejam dengan sempurna.


................


Alarm berbunyi nyaring di sebelah tempat tidur Arsenio. Pria tampan itu menyibakkan selimut yang menutupi hingga kepala. "Sialan!" gerutunya. Tangan kanan Arsenio meraba meja di mana terdapat jam yang telah mengganggu tidurnya. Segera dimatikan suara nyaring tersebut. Mau tak mau Arsenio harus bangun, padahal dia baru tidur kurang lebih dua jam yang lalu.


Setelah duduk sejenak di tepian tempat tidur untuk mengumpulkan segenap kesadaran, Arsenio pun beranjak dari dalam kamar. Dia berjalan ke dekat wastafel dan membasuh wajahnya di sana. Setelah merasa cukup segar, pria itu hendak lanjut berolahraga pagi sebelum berangkat ke kantor.


Sekitar enam puluh menit waktu yang Arsenio habiskan, untuk melakukan aktivitas rutin di pagi hari hingga selesai. Keringat pun telah membasahi tubuh atletisnya. Seperti biasa, setelah dari ruang gym pribadi yang ada di dalam rumah megah itu, Arsenio langsung menuju dapur. Pria itu tak merasa risih meski ke sana-kemari dengan bertelanjang dada.


Saat melewati ruang makan, tampak dua orang pelayan yang tengah menyiapkan sarapan. Mereka menata meja dengan rapi, sebelum sang majikan datang dan berkumpul di sana untuk melakukan sarapan bersama. Namun, yang menjadi perhatian pria tampan berambut cokelat tadi bukanlah hal itu. Sepasang matanya yang indah dan berwarna terang terkunci pada sosok ramping yang baru saja muncul di sana. Arsenio pun menyambutnya dengan sebuah siulan nakal khas para pria, saat menggoda wanita yang melintas di hadapan mereka.


Binar menoleh sesaat. Akan tetapi, gadis itu segera mengalihkan pandangan ke arah lain. Dia tak akan menanggapi godaan nakal dari Arsenio, karena dirinya tahu bahwa di belakang ada Anggraini beserta Lievin yang tengah menuju ke ruang makan.

__ADS_1


"Sombong sekali. Apa perlu kucium dulu agar kamu ...."


"Iya, Sayang. Kita harus pulang dulu ke Belanda. Jika kau tak mau ikut, aku bisa pulang sendiri karena ini mendesak." Suara Lievin dengan aksen Belandanya membuat Arsenio segera menjaga jarak dari Binar. Dia mengambil satu buah apel dari dalam keranjang, lalu menggigitnya.


"Selamat pagi Tuan dan Nyonya Rainier. Aku iri melihat kemesraan kalian berdua. Rasanya aku ingin segera mandi karena kepanasan." Arsenio berkata sambil terus menggigit dan mengunyah apel yang baru dia ambil.


"Jika kamu iri, makanya segeralah menikah," sahut Anggraini seraya menepuk pelan pipi putra sulungnya. "Mana Fabien? Apa dia belum bangun?" Wanita paruh baya yang sudah tampak rapi tersebut menautkan alisnya.


"Fabien itu pemalas. Mama sudah mengetahuinya sejak dulu," sahut Arsenio enteng.


"Ya, hanya Arsenio yang terbaik dalam segalanya." Suara Fabien terdengar di sana dan segera menanggapi ucapan sang kakak. "Aku rasa dia sudah berhasil mengencani seperempat dari gadis cantik yang ada di Indonesia," celoteh pemuda itu lagi. Dia menyugar rambut belah tengahnya yang terlihat acak-acakan. Fabien juga masih mengenakan celana pendek biru langit bergambar kepiting. Dengan tak acuhnya, dia langsung duduk pada salah satu kursi dan menuangkan jus jeruk yang sudah tersedia di sana.


"Tutup mulutmu! Adik tidak tahu diri," hardik Arsenio.


"Aku selangkah lebih maju, karena tadi sudah berolahraga. Beda dengan si tukang tidur ini," sahut Arsenio membela diri. Dia lalu duduk pada kursi yang berhadapan dengan tempat duduk Binar.


"Ini Indonesia. Kalian harus membiasakan mandi pagi di sini," tegur Angraini.


"Aku sudah lama tinggal di sini, Ma. Seharusnya Mama tujukan pada si kepiting merah itu," tunjuk Arsenio setelah meneguk minumannya.


"Aku akan mandi sebentar lagi. Semalam aku kurang tidur. Perutku sakit. Saat aku hendak mencari obat ke dapur ternyata ...." Fabien tak melanjutkan kata-katanya, karena melihat Arsenio yang sudah melotot tajam. Begitu juga dengan Binar yang mendehem pelan, setelah hanya terdiam mendengarkan percekcokan kakak beradik itu.


"Ternyata aku malah menemukan sepasang cicak yang sedang kawin." Fabien terkekeh sendiri atas ucapannya. Sementara Anggraini dan Lievin sontak menatap ke arahnya.


"Dasar bodoh," gumam Arsenio puas. Sementara Binar hanya mengulum senyumnya. Kehangatan itu terus berlangsung hingga sarapan usai. Binar pun harus membiasakan diri dengan suasana yang sangat jauh berbeda, dengan yang sering dia lewati saat masih tinggal bersama Widya.

__ADS_1


Rasa rindu terhadap kedua adiknya kian mendera. Sudah beberapa bulan dia meninggalkan Bali, menjauh dari keceriaan Wisnu dan Praya yang tak jauh berbeda dengan Arsenio dan Fabien. Lamunan tentang kedua adiknya semakin dalam masuk ke pikiran Binar, membuat gadis itu makin lama semakin terhanyut. Satu, dua kali menguap, pada akhirnya kedua mata Binar terpejam sempurna. Terlebih karena semalam dia kurang tidur.


Selagi Binar terlelap dalam perjalanannya menuju panti asuhan yang akan dia dan Anggraini datangi, Arsenio sibuk berkirim pesan dengan seseorang.


Datanglah ke ruanganku. Hari ini aku ada di kantor. Aku ingin bertemu dan bicara denganmu. Sudah lama kita tidak bersenang-senang.


Seperti itulah isi pesan yang dia kirimkan pada seseorang, yang tak lama kemudian segera berbalas manis.


Tentu. Aku akan ke sana dengan senang hati. Apa perlu kubelikan pengaman untukmu?


Arsenio tersenyum simpul. Dia kembali membalas pesan nakal tadi.


Tidak perlu. Aku sudah membawa pengaman sendiri. Kamu tinggal datang dan siapkan mental. Karena aku akan membuatmu terhentak dengan kencang.


Dia mengirimkan pesan itu tapi tak membalas lagi, meskipun hanya berselang sekitar beberapa detik saja sebuah balasan masuk kembali.


.


.


.


Ya, ampun. Penasaran ga kalian? Intip dulu karya keren yg satu ini, deh. 😆


__ADS_1


__ADS_2