Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Metamorfosis


__ADS_3

Gejolak nafsu kian menjadi, di antara kedua insan yang sedang dilanda gairah membara. Kamar mewah dengan ukuran luas itu menjadi saksi, ketika Arsenio berhasil melucuti pakaian yang Binar kenakan satu per satu. Tubuh ramping gadis cantik berambut panjang tersebut kini telah benar-benar polos. Dia bahkan sudah berada di atas ranjang berlapis bed cover abu-abu, di bawah kungkungan tubuh tegap Arsenio yang sejak tadi mencium bibirnya dengan tanpa henti.


Binar menatap sayu pria yang tak mampu lagi untuk mengendalikan dirinya. Hasrat yang begitu besar dari seorang Arsenio terhadap gadis belia nan lugu itu kian besar. Rasa cinta bercampur dengan penasaran atas raga indah yang menjadi daya tarik si gadis, telah mejadikan Arsenio harus berkali-kali menahan diri. Namun, kali ini dia tak mampu lagi bersikap demikian.


Dibalasnya tatapan Binar dengan lembut. Arsenio kemudian mengecup mesra kening gadis pujaannya. Dia juga membelai pucuk kepala Binar. "Aku mencintaimu," ucapnya dengan setengah berbisik. "Aku tak bisa melepaskanmu begitu saja." Arsenio kembali melu•mat bibir berwana pink rose dengan aroma strawberry itu. Sementara tangan kanannya sibuk menjelajahi setiap bagian tubuh polos Binar, mencari area yang menjadi kesukaannya.


Binar mencengkeram erat punggung pria tampan yang tengah menggerayangi tubuh polosnya. Untuk pertama kali, dia merasakan sentuhan demi sentuhan yang membuat dirinya seperti tengah berada di dunia baru yang belum pernah dia datangi. Binar terbuai hingga tubuhnya seakan melayang tinggi, ketika sentuhan bibir Arsenio mulai menjalari permukaan kulit.


Lihai dan begitu berpengalaman. Ujung lidah pria berdarah Belanda tersebut bermain-main dengan titik terpeka seorang Binar. Tak dia pedulikan meskipun gadis itu terus bergerak, menggelinjangkan tubuh dengan tak beraturan. Namun, makin lama Binar semakin menemukan ritmenya. Dia tak lagi terkejut atas apa yang dirasakan saat itu.


Lenguhan demi lenguhan pun mengiringi detik-detik terindah yang membuat Binar merasa istimewa. Hingga akhirnya, dia tiba pada satu momen yang paling mendebarkan bagi semua gadis di seluruh dunia.


Binar meringis kecil sambil memundurkan tubuh, ketika Arsenio mulai mengetuk pintu ruang terdalamnya. "Tidak. Sakit sekali," tolak gadis itu dengan suaranya yang hanya berupa sebuah desa•han pelan.


"Tak apa. Itu tidak akan lama," bujuk Arsenio, mengikuti gerak tubuh Binar yang berusaha menghindar. Dia kembali mengecup kening gadis itu dengan lembut, mencoba menenangkannya. "Buat dirimu lebih rileks, Sayang," bisik Arsenio dengan napas menghangat di wajah Binar. Dia melu•mat bibir beraroma strawberry tadi sekali lagi.


Ketika Binar sudah mulai tenang, Arsenio kembali pada tujuan utamanya. Dia mencoba mengarahkan dengan tepat pada sasaran, tapi lagi-lagi hanya berbuah kegagalan. Binar bergerak menghindar, sehingga tembakan yang tadi sempat dia bidikkan pun meleset. Namun, pria itu tak hendak menyerah. Dibelainya kulit halus Binar dengan penuh perasaan. "Jangan banyak bergerak. Aku janji akan melakukannya dengan perlahan," ucap Arsenio lagi. Satu tangannya menahan pergelangan Binar, sementara tangan yang lain menelusup ke balik pinggul lalu mengangkatnya perlahan.


"Rain ...." de•sah gadis itu tertahan, ketika kembali merasakan sesuatu yang berusaha merangsak masuk ke dalam dirinya.


"Tahan, Sayang," bisik Arsenio. Seusai berkata demikian, maka tak ada ampun lagi. Dia memaksa untuk menerobos dan merobek jala pertahanan Binar, tanpa peduli dengan erang kesakitan panjang yang meluncur dari bibir gadis itu. Arsenio terengah. Sebuah anugerah bagi pria tampan tersebut, ketika dapat memetik sekuntum bunga yang baru mekar dan belum pernah tersentuh orang.

__ADS_1


"Binar ...." Arsenio kembali melu•mat bibir gadis itu saat dirinya mulai bergerak perlahan. Satu hentakan pertama ketika dia sudah berada dan menyatu seutuhnya dengan Binar.


Sementara Binar masih terkejut. Ini seperti sebuah mimpi bagi gadis tersebut. Tak pernah terbayangkan jika pada akhirnya dia akan jatuh dalam buaian seorang Arsenio, hingga rela menyerahkan mahkota paling berharga yang dijaga sebaik mungkin. Apa lagi yang menjadi kebanggaannya kini? Binar hanya memiliki satu harapan, semoga Arsenio memang pria yang berhak menerima keistimewaan atas pengorbanannya tersebut. Namun, makin lama Binar semakin menyadari. Dia tak menganggap itu sebagai sebuah pengorbanan.


"Aku mencintaimu," ucap Arsenio lagi. Dia kembali mengatakan hal itu dengan segenap perasaan yang tulus dan sungguh-sungguh. Dilepaskannya cengkeraman dari pergelangan tangan Binar, sehingga gadis itu kini dapat bergerak dengan leluasa.


Tak pernah terbayangkan seperti itu rasanya, Binar pun tidak mampu berkata-kata. Namun, tatapan yang penuh cinta telah mewakili segalanya dan dapat dipahami dengan baik oleh Arsenio, yang tak bosan-bosan mengecup kening gadis cantik tersebut.


Perlahan, Arsenio mengangkat dan melepaskan diri. Pria itu berpindah ke samping kanan Binar, lalu memposisikan tubuh gadis yang telah berhasil dia miliki agar mengikutinya. Pria tampan bermata cokelat terang tadi mengecup pundak, lalu menciumi leher belakang sang kekasih. Binar pun bereaksi. Dia mende•sah pelan karena menahan rasa geli atas gelitikan yang dilakukan oleh Arsenio.


"Lepaskan dirimu, jangan ditahan," bisik pria tampan tersebut sambil menyentuh paha sebelah kanan Binar dan sedikit mengangkatnya, hingga ada jarak yang merenggang untuk dia masuki. Arsenio kembali menyatukan dirinya. Dia bergerak maju mundur dengan penuh irama, dan membuat Binar kembali merasakan kenyamanan yang luar biasa.


Binar pun sudah semakin rileks dan dapat mengimbangi. Arsenio mengajari dengan pelan-pelan hingga dia bisa memahami tanpa harus mendengar banyak intruksi. Gadis cantik berdarah Jawa itu melingkarkan tangan hingga bisa meraih wajah Arsenio. Tak bosan dirinya menatap paras tampan yang terlihat begitu seksi dan sensual dalam luapan gairah yang tengah mereka rasakan. Binar bahkan sedikit menarik pria itu agar mendekat dan menciumnya.


Dengan senang hati Arsenio memberikan apa yang Binar inginkan. Dia melu•mat bibir itu dan menikmatinya. Tak lupa, Arsenio juga kembali memanjakan tangannya. Dia sangat menyukai sepasang dada Binar yang terasa masih kencang dan asli. Sangat jauh berbeda dengan milik Indah ataupun Ghea. Meskipun keduanya memiliki ukuran jauh lebih menggiurkan, tapi nyatanya terasa begitu biasa bagi Arsenio yang tak asing lagi dengan tubuh wanita.


"Aku menyukainya. Aku menyukai ini," bisik Arsenio lagi sebelum dia mengempaskan napas berat tertahan, saat dirinya telah tiba di puncak gairah. Arsenio pun memuntahkan semuanya di dalam diri Binar. Sesuatu yang baru pertama dia lakukan.


Arsenio selalu bermain dengan bersih. Dia tak pernah melupakan pengaman, setiap kali akan bercinta dengan wanita manapun. Namun, kali ini sangat berbeda. Arsenio tak peduli dengan semua itu. Dapat memiliki seorang Binar, telah membuat dia lupa akan segala peraturan hidupnya selama menjadi seorang Arsenio Wilhelm Rainier.


Beberapa saat berlalu. Waktu sudah menunjukkan tengah hari, saat kedua sejoli tadi saling melepas lelah dengan tetap berada di atas tempat tidur. Binar terlihat begitu nyaman berada dalam dekapan lengan Arsenio. Putra sulung dari keluarga Rainier tersebut pun tak henti-henti mengecup kening serta pucuk kepala gadis pujaannya.

__ADS_1


"Jangan pergi dariku. Aku tak membutuhkan gadis lain selain dirimu," pinta Arsenio. Telapak tangannya mengusap-usap lengan si gadis dengan lembut.


"Berada di dekatmu membuatku merasa nyaman, tapi harus diakui bahwa aku sangat takut. Sejujurnya bahwa diriku belum pernah berada dalam situasi seperti ini. Aku tidak tahu harus bagaimana." Binar menyandarkan kepalanya di dada Arsenio. Dia meletakkan tangan di atas perut yang sebagian tertutup selimut.


"Pada awalnya aku juga merasa takut. Namun, ada satu keyakinan dalam diri yang terus memaksa agar aku tetap mempertahankanmu. Perlahan, semua perasaan itu sirna seiring dengan makin besarnya cinta yang tumbuh. Aku jatuh cinta, Binar. Ini adalah sesuatu yang baru bagiku dan sangat istimewa," tutur Arsenio.


"Aku juga baru pertama kali ini merasakan jatuh cinta. Namun, kenapa harus seberat ini?" Setitik air mata menetes dan terjatuh di atas dada Arsenio.


"Tak akan terasa berat jika kita membuatnya menjadi ringan. Aku sudah terbiasa hidup dalam sebuah beban yang bahkan tak sanggup untuk kupikul seorang diri. Namun, keadaan terkadang memaksa diriku untuk berada dalam situasi seperti itu. Aku mencoba untuk sedikit bersenang-senang. Akan tetapi, makin lama rasanya semakin membosankan," tutur pria tampan itu lagi menanggapi ucapan Binar.


Arsenio mengangkat dagu Binar hingga gadis itu mendongak padanya. Dia lalu mengusap butiran bening yang menggenang di pelupuk mata sang kekasih tercinta. "Tolong temani aku melewati perubahan ini. Aku ingin kamu menjadi saksi metamorfosis dari seorang Arsenio. Selangkah lagi, Binar. Aku yakin akan bisa mengungkap para pelaku yang ingin mencelakaiku. Selain itu, hubungan kita pun akan segera diikrarkan di hadapan semua orang," ucap Arsenio dengan tegas.


"Kamu yakin?" tanya Binar ragu.


"Aku adalah seorang pebisnis, Sayang. Keyakinan menjadi modal pertama dalam menentukan segala langkah. Selama ada aku di dekatmu, maka tak ada satu hal pun yang perlu kamu takutkan." Arsenio menutup kata-katanya dengan sebuah ciuman mesra di bibir sang kekasih.


Binar tersenyum lembut menerima perlakuan itu. "Kita harus segera pergi. Aku masih punya banyak tugas," ucap gadis itu seraya melepaskan diri dari dekapan Arsenio.


"Kamu benar. Aku juga seharusnya pergi ke kantor hari ini." Arsenio menyibakkan selimut, kemudian turun dari tempat tidur. Dia melangkah begitu saja ke dalam kamar mandi. Arsenio tak peduli bahwa dirinya dalam keadaan telanjang . Binar pun tercengang saat melihat pemandangan tersebut.


Beberapa saat kemudian, mereka telah kembali berpakaian. Keduanya lalu menuju lift. Namun, sebelum masuk ke sana, Arsenio kembali mencium Binar dengan mesra. Bersamaan dengan itu, pintu lift terbuka dan memperlihatkan wajah Winona yang terkejut bukan kepalang.

__ADS_1


__ADS_2