
Ini adalah hari ketiga bagi Arsenio untuk mendatangi kantor polisi. Setelah beberapa hari yang lalu bersama pengacara kepercayaan Lievin, dia memasukkan laporan atas kasus kejahatan yang dirinya alami.
Sekarang Arsenio harus menerima panggilan untuk mengenali serta mencocokkan para tersangka yang berhasil terekam oleh CCTV.
Kini, dia harus meyakinkan bahwa para calon tersangka itu sesuai dengan rekaman yang telah dijadikan barang bukti di kepolisian.
“Pada waktu itu, sesuai dengan yang Anda perhatikan dalam rekaman CCTV beberapa hari lalu, jumlah orang yang memasuki paksa rumah Anda berjumlah tujuh orang, Pak. Kami berhasil menangkap lima di antaranya yang memiliki ciri-ciri wajah sama persis,” tutur polisi tersebut.
Dia lalu memberi kode pada rekannya untuk membawa masuk para calon tersangka tersebut ke dalam ruang penyidikan. Tak berselang lama, serombongan orang-orang dengan seragam tahanan, berbaris rapi memasuki ruangan. Mereka lalu berjejer ke samping dan serempak menundukkan kepala, sampai polisi yang duduk di hadapan Arsenio memaksa semuanya untuk mengangkat wajah.
Kelima orang tadi berposter tinggi besar, sesuai dengan gambaran yang dia dapat melalui rekaman CCTV di rumah. Akan tetapi, Arsenio tak dapat menemukan sosok pria yang berusaha mendobrak kamarnya. “Yang dua lagi bagaimana, Pak?” tanya Arsenio.
“Masih dalam pengejaran, tapi kami berhasil mengungkap latar belakangnya. Mereka semua bekerja pada perusahaan jasa pengamanan dan pengawalan pribadi,” terang polisi itu.
“Lalu, siapa yang menyewa jasa mereka?” tanya pria rupawan itu lagi.
“Kami masih menggali lebih dalam, sebab mereka tidak tahu siapa kliennya,” jawab polisi berpangkat Inspektur Dua tersebut. Tampak pin nama yang tersemat di seragam yang bertuliskan nama ‘Doni Kurniawan’.
“Bagaimana bisa?” Arsenio mengernyitkan kening tanda tak mengerti.
“Sesuai dengan pengakuan bahwa mereka tidak pernah bertemu secara langsung dengan setiap klien yang menyewa jasa. Klien tersebut hanya menghubungi melalui aplikasi online yang telah disediakan oleh perusahaan,” jelas Ipda Doni.
“Begitu rupanya.” Arsenio berdecak pelan, seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
“Jangan khawatir, Pak. Kami akan terus mengabarkan semua perkembangan kepada Anda,” ucap Ipda Doni yang seakan paham dengan segala keresahan Arsenio.
“Baiklah. Saya tunggu,” sahut Arsenio. Dia bangkit dari duduknya dan segera berpamitan. Arsenio masih merasa khawatir saat harus meninggalkan Binar sendirian setelah kejadian mengejutkan beberapa hari yang lalu.
Ketika berjalan menuju area parkir, Arsenio teringat akan saran dari Fahmi, pengacara kepercayaan sang ayah.
“Sebisa mungkin, jangan selesaikan masalah ini sendirian. Kita serahkan saja sepenuhnya pada pihak yang berwajib.” Demikian saran Fahmi waktu itu.
Namun, tentu saja Arsenio menolak hal itu meski dengan diam-diam. Dia sudah berniat untuk bergerak sendiri, demi menyelidiki kasus pembobolan dan pengrusakan tersebut. Tak sabar rasanya jika harus duduk menunggu laporan dari pihak kepolisian.
Di dalam mobil, Arsenio mengetuk-ngetukkan jemarinya pada kemudi sebelum memutuskan untuk menghubungi seseorang. Beberapa detik berlalu, seseorang di seberang sana menerima panggilan darinya. “Halo,” sapa suara berat itu.
__ADS_1
“Ajisaka. Apa kabarmu?” balas Arsenio.
“Siapa ini?” tanya seseorang bernama Ajisaka, yang malah menanggapi sapaannya dengan garang.
“Ini aku. Arsenio.” Suami dari Binar tersebut menyunggingkan senyuman samar.
“Bos?” seru Ajisaka. “Bos Arsen?” ulangnya.
“Ya. Kamu belum menjawab pertanyaanku,” ujar Arsenio kemudian.
Ajisaka menanggapinya dengan tertawa. “Aku baik-baik saja, bos. Bagaimana kabar anda?”
“Tidak baik, Ji. Sejujurnya aku membutuhkan bantuanmu,” jawab Arsenio pelan.
“Bagaimana dengan Dwiki? Apa anda sudah tidak memperkerjakan dia lagi?” tanya Ajisaka.
“Aku sudah merekrut dia. Akan tetapi, sepertinya aku membutuhkan lebih banyak tenaga,” jawab Arsenio.
“Apakah ada masalah besar, bos?” pria itu mulai penasaran.
“Besar sekali, Ji. Ini mengenai perusahaan papaku,” terang Arsenio lalu menceritakan semuanya sedari awal secara mendetail.
“Biantara Sasmita? Sepertinya saya pernah mendengar nama itu,” pikir Ajisaka.
“Cari saja namanya di mesin pencarian. Nanti kamu akan tahu.” Arsenio terkekeh sambil terus menjalankan kendaraan kembali ke kediamannya.
“Baiklah. Aku bersedia, bos. Lagi pula, sudah lama aku tidak bertemu dengan Dwiki,” putus Ajisaka.
“Bagus. Nanti akan kupertemukan kalian berdua. Seharusnya kamu lebih sering menghubungi sepupumu itu,” saran Arsenio.
Ajisaka malah terbahak mendengar kalimat Arsenio. “Kalau kami sering bertemu dikhawatirkan malah menjadi baku hantam, bos,” kilahnya.
“Dasar.” Arsenio terkekeh pelan. “Ya sudah. Nanti kukabari lagi,” tutupnya kemudian.
Pria blasteran Belanda itu sudah hampir melepas earphone bluetooth, ketika terdapat panggilan masuk lagi. Tampaklah nama Dwiki tertera di layar ponsel yang terpasang di tempat khusus yang menempel pada dashboard.
__ADS_1
“Ada apa, Ki?” tanya pria tampan itu tanpa basa-basi.
“Bos, saya baru bertemu Winona. Dia menawarkan pekerjaan sebagai sopir pribadi. Bagaimana menurut anda?” tutur Dwiki.
“Ini kesempatan emas, Ki. Dengan menjadi sopir pribadi, kamu tidak perlu repot-repot memasang alat pelacak di mobilnya,” sahut Arsenio seraya tergelak.
“Baiklah. Kalau begitu saya akan menerimanya. Tunggu kabar selanjutnya, bos,” seru Dwiki. Nada bicaranya terdengar ceria di telinga Arsenio.
Sedikit heran, putra sulung keluarga Rainier itu mengakhiri panggilan. Keningnya berkerut seolah tengah serius memikirkan sesuatu.
Namun, beberapa menit kemudian, raut tegangnya langsung memudar saat dia sudah tiba dan memarkirkan mobil di halaman depan rumah mewahnya.
“Pak." Mono, sang sopir pribadi bergegas menyambut Arsenio saat dirinya turun dari kendaraan. “Tadi ada seseorang bernama pak Bayu datang mencari Anda. Saya bilang, Anda sedang berada di kantor polisi,” terang pria kurus itu.
“Lalu?” Arsenio menghentikan langkah sambil menghadap ke pria paruh baya tersebut.
“Pak Bayu mengatakan bahwa dia akan kembali lagi malam nanti,” jawab Mono seraya terus mengikuti majikannya yang berjalan melintasi ruang tamu.
“Oke. Di mana Binar?” tanya Arsenio setelah dirinya sudah sampai di tangga.
“Oh ya. Ada satu lagi tamu setelah pak Bayu. Namanya pak Haris. Dia cuma datang sambil membawa map plastik lalu menitipkannya pada satpam, Pak,” tutur Mono lagi. Dia sekaan tak mengindahkan pertanyaan sang majikan.
Arsenio segera saja menghentikan langkahnya kembali. “Haris?” desisnya.
“Iya. Sebentar, saya ambilkan titipannya.” Tanpa menunggu jawaban, pria paruh baya tersebut segera berjalan cepat menuruni anak tangga.
“Kutunggu di kamar!” seru Arsenio. Dia tak dapat berpikir dengan jernih jika belum melihat keadaan Binar. Arsenio baru dapat bernapas lega, ketika mendapati sang istri yang tengah tertidur pulas di atas ranjang. Baru saja dia berniat untuk menyentuh dan mencium pipi Binar, terdengar ketukan pelan di pintu kamar.
“Ya ampun.” Arsenio mendengus kesal.
Dengan malas dia membuka pintu kamar.
Tampak Mono berdiri di hadapannya sembari tersenyum lebar. “Ini titipan tadi, Pak.” Pria itu menyodorkan map plastik transparan yang berisi kertas-kertas dan sebuah flash disk.
Dengan seenaknya, Arsenio menutup pintu kamar tanpa berkata apapun pada Mono yang masih berdiri di tempatnya.
__ADS_1
Arsenio segera saja membuka map plastik tadi, lalu membaca lembar demi lembar kertas yang terdapat di dalamnya. Kertas-kertas itu hanya berisi laporan keuangan perusahaan investasi miliknya yang telah dia serahkan pada Lievin.
Keningnya berkerut ketika membaca laporan pada lembar terakhir. “Apa-apaan ini?” geram Arsenio. Penuh emosi, dia mere•mas kertas-kertas itu dan membuangnya dengan begitu saja.