Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Pertemuan Kembali


__ADS_3

Binar yang berjalan masuk sambil menggandeng lengan Chand, seketika tertegun. Dia melihat Arsenio tengah memasangkan cincin di jari manis Winona. Mata gadis itu menatap nanar pasangan yang tadinya saling berhadapan, kini berbalik jadi menghadap ke depan pada para tamu undangan.


Awalnya, Arsenio memaksakan untuk tersenyum kepada mereka yang terlihat sangat bahagia atas pertunangan tersebut. Namun, senyuman kecil pria itu seketika memudar, saat pandangannya beradu dengan sosok cantik di sebelah Chand. "Binar," gumam pria tampan itu teramat pelan. Dia menatap tajam kepada gadis dengan tampilan yang terlihat sangat berbeda tersebut.


Tak jauh beda dengan sorot mata Indah serta Ghea yang juga tertuju kepada Chand. Terlebih Ghea sang mantan istri yang menunjukkan raut tak percaya. "Wow ... lihat siapa yang datang?" bisik Indah dengan senyum sinis saat melihat sosok Binar. "Sejak kapan Chand tertarik dengan gadis belia? Astaga, rupanya dia ingin mencari sensasi baru," ujar Indah lagi yang seakan tengah memanas-manasi Ghea.


"Kamu pikir aku akan cemburu terhadap gadis kecil seperti itu?" balas Ghea yang masih menunjukkan sikap tak peduli.


"Masih muda, segar, kencang, cantik lagi. Mbak Ghea yakin tidak merasa tersaingi?" Ucapan Indah terdengar semakin memprovokasi, membuat Ghea terdiam dan berpikir. Setelah itu, barulah dia beranjak dari tempatnya yang semula berdiri di sebelah Indah. Ghea melangkah dengan gemulai ke arah Chand dan Binar berada.


"Chand," sapa Ghea dengan bahasa tubuh yang selalu terlihat menggoda. Sesekali dirinya melirik kepada Binar yang masih menggandeng lengan Chand. "Kamu tidak ingin memperkenalkannya padaku?" tanya wanita cantik bertubuh sintal itu.


"Tentu," jawab Chand dengan kalem. Dia lalu melirik kepada Binar yang masih mematung dengan tatapan tertuju pada Arsenio. Chand kemudian meletakkan tangannya di atas punggung tangan Binar, membuat gadis itu seketika tersadar dan menoleh. "Ada seseorang yang ingin berkenalan denganmu," bisik pria tampan tersebut dengan senyuman yang terlihat sangat memesona. Chand menunjuk kepada Ghea dengan isyarat mata.


Perhatian Binar langsung beralih kepada wanita cantik dengan penampilan kelas atas di hadapannya. Gadis itu tersenyum ramah, seraya mengulurkan tangan. "Selamat malam," sapanya mencoba untuk terlihat ramah.


Namun, rasanya apa yang Binar lakukan menjadi sia-sia, ketika Ghea hanya menyentuh ujung jemarinya sambil tersenyum sinis. Wanita cantik berambut panjang itu seakan tak ingin bersentuhan langsung dengan Binar.


"Namaku Ghea. Aku adalah mantan istri si tampan ini," ucapnya sambil menyentuh bagian depan blazer yang Chand kenakan.


Mendengar ucapan Ghea, sontak membuat Binar terdiam. Dia melirik kepada Chand yang tengah menatap Ghea dengan tajam. "Oh, namaku Nirmala. Aku ...."


"Dia pacarku," sela Chand dengan segera. "Sebaiknya kita pindah, agar dapat menikmati pesta ini," ajak Chand yang segera mengalihkan pandangannya kepada Binar. Gadis itu pun tidak banyak membantah. Dia menurut saja, ketika Chand membawanya untuk menjauh dari hadapan Ghea.


"Cantik sekali," ucap Binar, membuat Chand segera menoleh padanya. Dia mengambil segelas minuman, kemudian memberikannya kepada Binar.


"Siapa?" tanya Chand pura-pura tak mengerti.


"Mantan istri Kak Chand," jawab Binar. Dia lalu meneguk minuman itu.


"Aku sudah tidak tertarik dan tak peduli lagi dengannya," balas Chand menanggapi. Dia juga meneguk minumannya.


"Padahal kalian terlihat serasi," ujar Binar lagi mencoba untuk mengusir perasaan tak karuan dalam hatinya, terlebih saat dia melihat Arsenio yang tengah berjalan menghampiri mereka berdua. Debaran dalam dada Binar kian memacu dengan kencang, saat pria tampan itu semakin mendekat dan akhirnya berdiri di antara dia dan Chand.


"Pantas saja kamu tidak segera menghampiriku," ucap Arsenio menatap sekilas kepada Chand. Ada amarah yang sudah bergemuruh dalam dadanya, setelah mengetahui gadis yang Chand ajak. Dia tak menyangka, bahwa gadis yang disebut-sebut oleh pria yang baru menyandang status duda itu adalah Binar. Seseorang yang selama ini dia cari.


Chand tak langsung menanggapi ucapan Arsenio. Dia berpindah posisi ke sebelah Binar yang terlihat salah tingkah. Tanpa rasa sungkan, tangan kirinya merengkuh pinggang gadis itu. Sesuatu yang tak luput dari perhatian Arsenio. Hal itu membuat pria berdarah Belanda tersebut kian ingin meledak. "Aku baru tiba di sini saat kalian sudah bertukar cincin. Lagi pula, tadi kamu sibuk dengan para tamu yang lain," kilah Chand.

__ADS_1


Arsenio tersenyum simpul. Dia mengalihkan tatapannya kepada Binar yang tampak kikuk. "Jadi, ini yang membuatmu lupa terhadap teman?" Nada bicara Arsenio saat itu terdengar amat menyakitkan bagi Binar. Bimbang perasaan gadis itu menjawab apa yang ada dalam benaknya. Apakah ingatan Rain kini telah kembali? Apakah pria itu lupa terhadapnya dan semua cerita indah meski singkat di antara mereka?


"Jika sudah menyangkut tentang seorang wanita, teman kadang lupa dengan ikatan persahabatan di antara mereka," jawab Chand yang dirasa sebagai sebuah sindiran halus bagi Arsenio.


"Ya, kamu benar. Wanita memang kerap membuat kita para pria menjadi aneh dan tak setia kawan lagi," balas Arsenio yang kembali melirik Binar. Sementara gadis itu hanya tertunduk, tak berani menatap pria yang selama ini dia rindukan tapi ingin dirinya hindari. "Jadi, ini Nirmala gadismu?"


"Ya," jawaban yang singkat dari Chand, tapi terdengar begitu berat di telinga Arsenio.


Tangan yang dia letakkan di samping tubuhnya, terkepal dengan kuat karena menahan gejolak amarah yang kian membuat pria bermata cokelat terang itu hampir kehilangan kendali. Namun, sentuhan seseorang di pundaknya telah membuat amarah Arsenio seketika buyar. Dia pun menoleh.


Paras cantik Winona dengan senyuman indahnya membuat Arsenio harus kembali menahan diri. "Kenapa kamu malah di sini? Mama dan papa ingin bicara denganmu," tegurnya. "Hai, Chand," sapanya kemudian. Dia juga melirik Binar yang sejak tadi hanya terdiam. "Siapa dia?" tanya Winona dengan senyum nakal kepada Chand.


"Nirmala," jawab Chand.


"Ow hai, Nirmala. Aku Winona, sahabat Chand," sapa wanita yang kini telah resmi menjadi tunangan Arsenio.


"Hai, Mbak," balas Binar ragu.


"Kenapa tiba-tiba aku merasa tua?" gumam Winona. "Ayo, Arsen. Kita harus membahas sesuatu dengan para orang tua," ajak Winona. "Kami permisi dulu," pamit wanita cantik itu seraya menggandeng lengan Arsenio berlalu dari hadapan Binar dan Chand.


Tak terkira betapa sakitnya perasaan Binar saat itu. Namun, dia tak berani untuk mengatakan apapun kepada Chand. Tak kuat rasanya gadis itu untuk segera menumpahkan air mata yang sejak tadi dia tahan. "Kak, aku ingin ke toilet," bisik Binar.


"Aku bisa pergi sendiri. Lagi pula, Kakak pasti harus terus memantau jalannya pesta, kan?" tolak Binar dengan halus.


"Kamu yakin bisa pergi sendiri?" tanya Chand terdengar ragu.


"Iya. Aku berangkat dari Bali ke Jogja sendirian," jawab Binar memaksakan senyumnya.


"Ya. Aku akan selalu ingat itu. Baiklah, jangan lama-lama. Jika terjadi sesuatu, segera hubungi aku," pesan Chand sebelum Binar berlalu dari hadapannya. Dia bahkan terus memperhatikan gadis itu hingga menghilang dari pandangan.


Siapa sangka, ternyata Arsenio pun terus memperhatikan Binar meski dia tengah bersama orang tuanya dan juga orang tua Winona. Melihat Binar yang pergi dari ballroom tempat berlangsungnya pesta, tiba-tiba terbersit dalam benak Arsenio untuk mengikuti gadis itu. Dia pun pamit kepada mereka yang tengah berbincang-bincang.


"Jangan lama-lama," pesan Winona yang merasa telah memiliki pria itu lebih dari kemarin-kemarin. Sedangkan Arsenio tidak menjawab. Dia hanya menoleh sejenak tunangannya, kemudian berlalu begitu saja.


Langkah tegap pria dua puluh tujuh tahun tadi semakin cepat meninggalkan ballroom. Sepintas, Arsenio melihat Binar yang berjalan ke arah koridor sebelah kanan. Dia tahu jika gadis itu pasti akan menuju toilet. Arsenio pun bergegas mengikutinya, terlebih karena Binar tak bisa berjalan dengan cepat saat menggunakan sepatu tadi. Alhasil, Arsenio bisa menyusulnya dengan mudah.


"Binar!" panggil pria tampan itu dengan cukup nyaring.

__ADS_1


Binar yang sudah mengenal suara Arsenio dengan baik, segera tertegun. Namun, dia tidak berani untuk menoleh. Gadis itu hanya terpaku, bahkan ketika pria tampan yang dia kenal sebagai Rain sudah berdiri di belakangnya.


"Kamu pikir aku tidak akan mengenalimu?" tanya Arsenio.


"Aku yang tidak mengenalmu lagi," sahut Binar menanggapi.


"Tentu saja, karena kini kamu sudah mengenal Chand," balas Arsenio dengan nada tak suka.


"Jangan sangkutpautkan dia. Kak Chand sudah banyak membantuku selama ini. Aku tak akan mengizinkan siapa pun berpikiran buruk tentangnya," tolak Binar tegas.


"Hal yang wajar seorang kekasih membela pasangannya," sindir Arsenio.


"Kamu bahkan bertunangan dengan wanita lain," balas Binar tanpa menoleh apalagi membalikkan badan. "Aku tidak tahu apakah kamu masih Rain yang kukenal dulu atau bukan," ucapnya lagi dengan begitu lirih.


"Namaku Arsenio."


"Aku tidak peduli lagi siapa pun dirimu," sahut Binar dengan linangan air mata yang membasahi pipinya.


"Kamu boleh tak peduli, tapi kenyataannya aku masih dan selalu memikirkanmu," bantah Arsenio tanpa ragu.


"Ya, dan kamu bertunangan dengan wanita lain. Kekasihmu." Binar menanggapi ucapan pria berambut cokelat itu dengan suara yang bergetar. Rasanya dia ingin berteriak sekencang mungkin, agar dapat melampiaskan segala perasaan yang berkecamuk dalam dada.


"Aku mencarimu. Aku kembali ke sana setelah mereka berhasil menemukanku. Namun, Praya mengatakan bahwa kamu sudah pergi. Dia memberiku nomor ponselmu, tapi sayangnya tak bisa kuhubungi," jelas Arsenio.


"Untuk apa mencariku jika kenyataannya kamu sudah memiliki kekasih?" Binar tetap menolak penjelasan Arsenio.


"Untuk memenuhi janjiku. Aku tak lupa dengan semua yang telah kukatakan waktu itu. Aku ingin membawamu pergi dari sana, dari rumah Widya." Arsenio kembali meyakinkan Binar bahwa dia tidak bermain-main.


"Kalaupun aku masih di sana dan kamu membawaku pergi, maka itu tak ada gunanya," sanggah Binar.


"Jika waktu itu aku berhasil membawamu pergi dari sana bersamaku, maka kupastikan pertunangan ini tidak akan pernah terjadi," tegas Arsenio.


.


.


.

__ADS_1


Makin panas, nih kayaknya. Yuk dinginkan dengan satu karya keren dr temen otor ini ❤️



__ADS_2