
"Sudah waktunya kamu pulang," ucap Binar pelan saat Arsenio melepaskan bibirnya untuk sesaat.
"Sekali lagi," pinta Arsenio penuh rayuan. Dia kembali hendak mencium Binar yang memang tak bisa bergerak ke mana-mana.
"Ah, tidak," tolak Binar dengan suara parau. Dia mencoba untuk menghindar. Namun, pada kenyataannya gadis itu tak mampu melakukannya. Apa yang Binar dan Arsenio lakukan saat itu teramat manis, meskipun mereka sepenuhnya sadar bahwa hal tersebut merupakan sebuah kekeliruan.
Beberapa saat berlalu, hingga Arsenio merasa puas meluapkan segala kerinduannya terhadap Binar. Pria tampan berambut cokelat itu tersenyum kalem, kemudian mengakhiri adegan tadi dengan sebuah kecupan hangat di kening. "Aku pulang dulu. Sebaiknya kamu juga segera tidur," ucapnya pelan. Sebelum benar-benar pergi, Arsenio sempat mencubit pipi gadis itu dengan gemas.
Sepeninggal Arsenio, Binar segera menutup dan mengunci rapat pintu apartemen yang dia tempati. Senyumnya terkembang, merekah indah saat dia berdiri sambil kembali bersandar pada pintu. Namun, penunjuk waktu yang sudah menunjukkan hampir pukul dua dini hari, membuatnya tersadar. Binar harus segera beristirahat, meski dia tak yakin apakah akan bisa tidur dengan nyenyak atau tidak.
................
Sinar matahari yang menerobos masuk melewati jendela kaca apartemen, telah berhasil mengganggu tidur nyenyak Binar. Gadis cantik bermata indah itu segera bangun dan melihat ke arah jam digital yang berada di atas nakas. Dia begitu terkejut saat jam tersebut menunjukkan pukul tujuh pagi. Ini adalah pertama kali dalam seumur hidupnya Binar bangun sesiang itu.
Kegiatan kemarin benar-benar menyita tenaganya. Namun, semua kerja keras Binar terbayarkan ketika dia berhasil memeragakan busana pengantin dengan sempurna di atas catwalk. Semua berjalan lancar sampai acara berakhir. Chand bahkan langsung mengajak untuk merayakan suksesnya acara tersebut di sebuah restoran mewah bersama pegawai dan kru lain. Duda tampan itu akhirnya mengantar Binar pulang lewat tengah malam.
Binar menguap untuk ke sekian kalinya. Sebelum turun dari tempat tidur, dia sempat melamun sejenak. Bayangan adegan manis dua malam yang lalu bersama Arsenio, kembali hadir dalam ingatan gadis itu. Binar pun tersenyum sambil menyentuh permukaan bibirnya. Rasa hati ingin merutuki diri sendiri yang begitu lemah di hadapan Arsenio, tapi ternyata hal itu seketika dia bantah. Arsenio memang terasa berbeda dengan Rain. Pria itu jauh lebih memesona dan hangat.
Meskipun malas, akhirnya Binar tetap memaksakan untuk turun. Dia harus segera membersihkan diri di kamar mandi dan bersiap-siap. Masih teringat jelas, permintaan ibunda Arsenio kemarin melalui telepon untuk mengajaknya sarapan bersama sekaligus memetik bunga. Selesai mandi dan berganti pakaian, Binar duduk sejenak di tepian ranjang sambil menyalakan ponsel.
Begitu alat komunikasi tadi sudah dalam keadaan siap, beberapa pesan masuk yang berasal dari Chand. Dia mengabarkan bahwa dirinya akan menjemput Binar setengah jam lagi. Ditambah satu panggilan tak terjawab yang sudah dapat dia tebak dari siapa.
Adalah foto profil Arsenio yang terpampang jelas saat panggilan masuk itu kembali berbunyi. Ragu-ragu Binar mengangkatnya. Panggilan suara itu pun berubah menjadi panggilan video. Binar tak dapat mengelak, karena dia sudah menerima teleponnya.
Tampaklah wajah tampan Arsenio dengan bulir-bulir keringat di kening. Paras rupawan itu memenuhi layar ponsel Binar.
Wajah gadis itu kembali memerah, ketika lagi-lagi dia mengingat ciuman manis antara dirinya dengan Arsenio di ruang tamu apartemen. Padahal Binar baru memikirkannya saat bangun tadi. Namun, bayangan itu nyatanya begitu sulit untuk dia lupakan, terlebih saat Binar fokus memandang bibir pria itu yang tipis dan berwarna kemerahan.
“Selamat pagi,” sapa Arsenio, yang segera membuyarkan angan-angan nakal Binar. Gadis itu menggeleng kuat-kuat. Dirinya sama sekali tak menyangka jika bisa memikirkan hal memalukan seperti itu.
“Kamu kenapa?” tanya Arsenio kebingungan. “Jadi ke sini, ‘kan?” tanyanya lagi. Sesekali, dia menyugar rambutnya yang basah oleh keringat.
__ADS_1
“Kamu lihat sendiri kalau aku sudah siap. Tinggal menunggu kak Chand menjemput,” ujar Binar dengan raut ceria.
Arsenio mendengus pelan. Dia cukup keberatan akan hal itu. Akan tetapi, tak ada yang bisa dia lakukan. “Seharusnya aku yang menjemputmu, tapi papa meminta tolong padaku untuk membantunya mempersiapkan kedatangan Fabien. Lagi pula, aku baru selesai berolahraga dan belum sempat mandi," tuturnya.
“Siapa Fabien?” Pertanyaan dari Binar itu tak sempat terjawab, saat dirinya mendengar suara ketukan di pintu. “Kak Chand sudah datang. Sudah dulu, ya.” Binar memutuskan panggilan video dari Arsenio begitu saja tanpa menunggu jawaban darinya.
Semakin bertambahlah rasa cemburu Arsenio terhadap Chand, sang sahabat. Akan tetapi, berkali-kali dia mengingatkan pada dirinya sendiri jika dulu dia berbuat yang jauh lebih jahat daripada hanya sekadar mencuri kekasih.
Arsenio mende•sah pelan. Dia pun berlalu ke kamar mandi. Dirinya harus segera bersiap, karena sebentar lagi Binar akan datang. Arsenio berniat akan tampil serapi mungkin bagi gadis itu. Hingga beberapa saat berlalu, pria tampan tersebut akhirnya keluar dari kamar mandi. Dia segera masuk ke walk in closet untuk mengambil pakaian. Sebuah kemeja hitam lengan tiga per empat, menjadi pilihan pria dua puluh tujuh tahun tersebut. Atasan tadi dia padukan bersama celana jeans. Arsenio pun menyempurnakan penampilannya dengan arloji mewah kesayangan.
Setelah siap, putra sulung keluarga Rainier tersebut bergegas keluar kamar menuju taman belakang, di mana beberapa orang pelayan tengah sibuk memindahkan meja dan kursi. Rencananya, pagi itu mereka akan sarapan bersama di taman. Tampak Anggraini begitu sibuk menata hidangan dan sedikit mendekorasinya agar terlihat lebih enak dipandang.
“Sibuk sekali, Ma. Seperti mau kedatangan presiden saja,” celetuk Arsenio seraya mengambil sebuah apel yang sudah dihidangkan di atas meja.
“Fabien sebentar lagi datang,” jawab Anggraini penuh semangat.
Arsenio seketika berhenti mengunyah apel dan melotot pada sang ibu. “Bukannya dia akan datang minggu depan? Kemarin papa mengatakan itu?” protesnya.
Mendengar hal itu, Arsenio langsung tersedak hingga batuk. Butiran besar apel yang baru saja dia gigit, tersangkut di tenggorokan. Sedikit kelabakan, Arsenio meraih segelas air dan meneguknya cepat-cepat.
“Ya, ampun, Ma. Kenapa dia harus datang hari ini?” keluh Arsenio sembari mengusap mulut. Angan-angan untuk menikmati hari yang indah bersama Binar pupus sudah. Sedari dulu, Fabien yang merupakan adik semata wayangnya, adalah saingan terbesar bagi pria bermata cokelat terang tersebut.
Dua bersaudara itu selalu bersaing dalam segala hal, termasuk akademik dan juga cinta. Namun, mereka kemudian mengambil jalan yang berbeda. Fabien lebih tertarik dalam hal seni dan musik, sedangkan Arsenio memilih untuk terjun ke dunia bisnis.
“Itu dia. Fabien datang!” seru Anggraini sambil menghambur ke arah sang suami. Lievin muncul dari pintu belakang rumah yang berbatasan langsung dengan taman. Di samping sang suami, berdirilah seorang pemuda yang berusia dua tahun lebih muda dari Arsenio.
Pemuda tampan itu bermata coklat dan berambut gelap. Dia segera merentangkan tangan untuk menyambut pelukan sang ibu. “Wie geht es dir Mama? Ich vermisse dich, wirklich (Apa kabarmu, Ma? Aku sangat merindukanmu),” sapa pemuda yang tak lain adalah Fabien. Sosok jangkung itu menyapa ibunya dalam bahasa Jerman.
“Berapa lama kau akan tinggal di sini?” tanya Arsenio dengan malas. Dia menghampiri, lalu mengulurkan tangan. Maksudnya adalah hendak menyalami sang adik.
“Aku memiliki jatah libur seminggu sebelum jadwal konser.” Fabien tak menyambut uluran tangan Arsenio, melainkan langsung memeluk kakak satu-satunya itu. “Aku mendengar kabar tentang kecelakaanmu. Chand menceritakan semuanya kepadaku,” bisik Fabien pelan, tepat di telinga Arsenio.
__ADS_1
Pria bermata coklat terang itu segera melepas pelukannya dan menatap tajam sang adik. “Dia menghubungimu? Kapan? Bukankah kalian tidak begitu akrab? Kenapa Chand tiba-tiba menceritakan hal itu padamu?” cecar Arsenio tanpa jeda.
“Nanti kita bahas. Aku tak mau papa dan mama curiga. Mereka tidak tahu jika aku mengetahui berita tentang musibah yang menimpamu.” Fabien kembali berbisik begitu pelan, agar ayah dan ibu yang berdiri tak jauh dari mereka, tak dapat mendengar apa yang dia bicarakan dengan Arsenio.
“Baiklah.” Arsenio mengangguk kemudian tersenyum pada sang ibu yang menatapnya curiga.
“Apa yang kalian berdua bicarakan?” tanya Anggraini penuh selidik.
“Tidak ada, hanya permasalahan kaum lelaki, Ma,” jawab Fabien seraya tertawa. Dia lalu merengkuh sang ayah yang menuntunnya agar duduk di meja makan.
Tak lama kemudian, seorang asisten rumah tangga datang dan berbisik kepada Anggraini. “Suruh mereka masuk,” titah wanita itu setelah mendengar laporan si pelayan tadi.
Arsenio langsung dapat memahami jika yang dimaksud oleh ibunya itu adalah Binar dan Chand. Benar saja dugaannya. Tak berapa lama, sepasang laki-laki dan perempuan datang ke sana dari arah halaman samping. Si gadis tampak gugup, sehingga tak melepaskan tangannya sedikit pun dari lengan Chand.
Binar terlihat begitu segar. Dia mengenakan midi dress lengan pendek berwarna biru langit dengan panjang sebatas lutut. Dress dari bahan katun dengan kerah cukup lebar dan kancing hidup di bagian depannya. Sebuah tali pinggang yang dibuat menjadi simpul pita pun menjadi pemanis pakaian tersebut. Gadis itu sesekali menyelipkan rambutnya yang digerai, pada telinga sebelah kanan untuk sekadar menyembunyikan rasa gugup saat berada di antara orang-orang kaya tersebut.
"Nirmala," sapa Anggraini menyambut hangat gadis muda tersebut. "Astaga, cantiknya," sanjung wanita itu seraya menyalami Binar lalu menepuk-nepuk punggung tangannya pelan, sebagai penghargaan terhadap yang lebih muda.
"Selamat pagi, Tante. Apa kabar?" sapa Binar lembut. "Tante juga terlihat segar sekali hari ini." Dia balik menyanjung. Binar harus mulai membiasakan dirinya untuk hal seperti itu.
"Tentu saja. Putra keduaku baru tiba dari Jerman," tunjuk Anggraini kepada Fabien.
.
.
.
Cihui, penyegaran dulu. Mampirlah di karya keren yang bikin baper ini 😍
__ADS_1