Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Pamit


__ADS_3

Kedua wanita berbeda usia itu duduk bersebelahan, tapi masih sama-sama terdiam. Mereka berdua duduk terpekur, dengan pandangan tertuju pada lantai yang hanya berlapis semen. Sesekali, terdengar Widya menarik napas panjang. Sementara Binar berkali-kali mengusap pipinya yang basah oleh air mata.


"Aku terpaksa berutang untuk pengobatan ayahmu," ucap Widya setelah beberapa saat terdiam. "Dengan terpaksa pula kugadaikan rumah yang kita tinggali dulu. Saat Cokro meninggal, aku harus membayar pokok pinjaman supaya harta kita satu-satunya itu tidak disita. Sejak saat itulah, aku diam-diam mengambil uang dari laundry mbok Ida," sambungnya kemudian.


"Aku terpaksa mencuri agar tidak kehilangan rumah, sebab hanya tempat itulah yang menjadi kenang-kenangan antara aku dan bapakmu," ucap Widya lagi sambil terisak. "Aku terus mengambil uang laundry sampai pinjamanku lunas. Namun, sejak saat itu, aku jadi selalu dihantui rasa ketakutan," ungkapnya lirih.


"Aku kalut dan gelisah, sehingga akhirnya kulampiaskan semua padamu." Widya menangis sesenggukan sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Lalu bagaimana dengan Surya?" tanya Binar. Suaranya terdengar bergetar.


"Dia berjanji untuk menikahi serta melimpahimu dengan harta. Aku pikir itu ide yang bagus," jawab Widya sambil memalingkan muka. "Aku tak bermaksud untuk memanfaatkanmu. Namun, setidaknya jika ada pria yang menikahimu, maka satu dari sekian bebanku akan berkurang," jelasnya.


"Dia hendak menodai aku, Bu. Saat itu bahkan ibu juga di sana, tapi sayangnya ibu tidak berbuat apa-apa untuk membantuku," desah Binar pilu.


"Itu semua karena dia berjanji akan menikahimu. Dia juga mengatakan hendak melunasi biaya ganti rugi pada ibunya. Otakku buntu waktu itu, Binar!" Nada bicara Widya meninggi, lalu kembali menangis sesenggukan. "Aku tidak sebaik yang ayahmu pikir, tapi aku benar-benar mencintainya. Aku rela diusir oleh keluargaku, demi dia. Ayahmu ... dia adalah laki-laki yang sangat baik," tuturnya kemudian.


Binar hanya bisa terdiam. Segala gundah dan amarah yang menumpuk di dalam dadanya, luruh saat itu juga. Dendam dan rasa benci terhadap Widya seakan musnah tak tersisa. "Aku memaafkanmu, dan ... terima kasih," ucapnya pelan. "Terima kasih karena sudah merawatku hingga aku menjadi seperti sekarang." Binar beranjak dari duduknya. Dia lalu merapikan barang-barang yang akan dirinya bawa saat kembali ke Jakarta.


"Kapan rencanamu untuk pulang?" tanya Widya setelah beberapa saat terdiam.


"Terserah Rain. Dia yang mengambil keputusan," jawab Binar, "dia mengatakan bahwa pasporku sudah selesai dibuat."


"Kenapa harus pergi ke Jerman? Wisnu dan Praya pasti sedih," ucap Widya ragu.

__ADS_1


Binar tak segera menjawab. Dia menoleh pada Widya, kemudian memandangnya sejenak. "Terlalu banyak kesedihan di sini, Bu. Jadi, kami memutuskan untuk merantau ke luar negeri," jelas gadis itu bersamaan dengan dirinya yang selesai berkemas. Dia memutuskan untuk membawa sebuah buku filsafat peninggalan sang ayah dan beberapa lembar foto yang memotret kebersamaannya bersama Wisnu dan Praya.


"Oh ya. Ibu juga tidak perlu khawatir lagi tentang biaya sekolah adik-adik. Rain sudah memasukkan mereka ke dalam daftar beasiswa. Jangan lupa untuk membuka rekening baru atas nama Wisnu dan Praya. Paling lambat bulan depan, pihak yayasan akan menransfer uang pendidikan," terang Binar.


Widya terbelalak mendengar hal itu. Dia sangat ingin menanggapi penjelasan Binar. Berjuta kata hendak dia ucapkan pada putri sambungnya tersebut. Namun, lidah wanita itu terasa kelu. Rasa malu dan bersalah begitu menguasai hati, membuat mulutnya seakan terkunci. Dia bahkan tak berani menatap wajah Binar. Widya hanya bisa menunduk dalam-dalam dengan perasaan berkecamuk.


Di dalam kebisuan itu, terdengar ketukan yang disertai teriakan khas Praya di depan pintu. "Mbok!" serunya.


Binar buru-buru membuka pintu dan tersenyum ceria saat melihat Arsenio. Pria itu tak henti-hentinya tertawa sambil mengusap-usap puncak kepala Wisnu dan Praya. “Kalian berkeliling ke mana saja?” tanya Binar sembari membuka daun pintu lebar-lebar.


Kedua bocah tadi tak menjawab. Mereka sibuk dengan barang bawaan berupa beberapa kantong plastik dan satu paper bag kecil.


“Kami hanya jalan-jalan ke mall terdekat sini, sekalian ke taman bermain di dekat pantai,” jawab Arsenio. Dia tidak sungkan merengkuh pundak Binar, lalu mengecup bibirnya lembut.


“Apa itu?” akhirnya Widya membuka suara karena penasaran dengan isi satu kantong yang terlihat berbeda dari yang lainnya.


“Handphone, Bu. Kakak mister membelikan kita hp baru. Katanya, biar tidak kesulitan nanti kalau sewaktu-waktu mbok atau kakak mister mau menghubungi kita, tapi jangan dijual lagi, ya,” celoteh Wisnu dengan polosnya. Dia kemudian merogoh ke dalam paper bag dan mengeluarkan sebuah kotak ponsel.


Dengan hati-hati, Wisnu membuka kotak tersebut, kemudian memamerkan isinya yang berupa sebuah ponsel android berwarna hitam metalik. “Bagus ‘kan, Bu?” tanyanya dengan mata berbinar.


Lagi-lagi, Widya tak mampu berkata-kata. Dia hanya mengangguk-angguk kemudian memalingkan muka. Tanpa bicara pun, Binar tahu bahwa ibu tirinya itu tengah menahan tangis.


“Wisnu, Praya.” Binar mendekat, lalu duduk bersimpuh di depan adik-adiknya. “Pergunakan sebaik-baiknya pemberian kakak mister. Kalian juga harus belajar lebih rajin lagi setelah ini. Mendapat beasiswa, artinya kalian harus mempertanggungjawabkan setiap rupiah yang diberikan. Jadilah anak-anak yang baik dan pintar. Tunjukkan bahwa kalian layak mendapatkan beasiswa ini,” pesan Binar dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


“Iya, Mbok,” sahut Wisnu dan Praya secara bersamaan. “Mbok masih lama ‘kan di sini?” tanya Praya.


Arsenio yang sedari tadi hanya diam dan menyimak, akhirnya ikut menghampiri kedua bocah tersebut. “Aku dan kakak kalian tidak bisa berlama-lama di sini. Ada hal mendesak yang tidak bisa kami jelaskan. Intinya, kami harus pulang ke Jakarta secepatnya,” jawab pria itu hati-hati.


Raut polos dan ceria kedua adik Binar berubah murung seketika. “Mbok Binar mau pulang sekarang?” Lirih suara Wisnu sambil menatap lekat wajah sang kakak.


“Iya,” sahut Binar dengan memaksakan senyum, walaupun air mata sudah menetes di pipi.


“Kami berjanji akan setiap hari menghubungi kalian,” ucap Arsenio sembari mengusap pundak Wisnu dengan lembut. “Jangan lupa pesan kakak kalian, ya.


“Mbok, Praya ingin ikut.” Bibir bocah SD itu melengkung. Buru-buru dia memeluk sang kakak yang masih duduk bersimpuh di hadapannya.


“Sabar, ya. Untuk saat ini, Mbok belum bisa mengajak kalian. Kamu dan Wisnu harus menjaga ibu. Kasihan kalau dia harus tinggal sendiri,” tutur Binar lembut.


Saat itulah, Widya tak bisa lagi menahan semua emosi yang terus dia simpan di dada. Wanita paruh baya itu menangis sesenggukan, sampai-sampai bahunya berguncang. Tanpa ragu, Binar berdiri dan memeluk sang ibu tiri. Bayangan perlakuan kasar dan kejam seorang Widya, semakin buram, lalu menghilang saat itu juga. Binar ikhlas melupakan segala rasa sakit yang pernah dia terima dari seorang Widya.


“Terima kasih untuk semuanya,” ucap Binar seraya melepaskan pelukan. “Doakan aku dan Rain selalu,” imbuhnya.


Hati Arsenio seketika menghangat saat melihat adegan yang tersaji di depan matanya. Tak salah dia memilih seorang Binar untuk menjadi pendamping hidup. Kebaikan dan ketulusan wanita muda itu telah mampu mengalihkan sejuta pesona dunia dari mata Arsenio. “Ayo, Binar,” ajaknya beberapa saat kemudian. “Tadi pagi saat di penginapan, aku sudah memesan tiket pesawat untuk kita.”


“Iya.” Binar mengangguk, kemudian beralih pada Wisnu dan Praya. Dia lalu memeluk kedua adik kesayangannya itu erat-erat sampai puas. “Jangan lupa pesan Mbok,” ujar Binar mengingatkan. Gadis itu lalu beringsut mendekat ke suaminya dengan mata sembap dan pipi yang basah. “Mbok pergi dulu,” ucapnya lirih diiringi dengan isakan yang semakin kencang.


Sekali lagi, Wisnu dan Praya menghambur lalu memeluk sang kakak yang entah kapan akan dapat mereka temui lagi. “Hati-hati ya, Mbok, Kakak Mister.” Doa dari kedua bocah lugu itu mengiringi langkah Arsenio dan Binar keluar dari rumah sederhana milik Widya.

__ADS_1


Sementara wanita itu, diam-diam ikut berdiri di belakang Wisnu dan Praya yang bersemangat melambaikan tangan saat pasangan suami istri tersebut memasuki kendaraan milik Rudolf. Widya dapat menangis dengan leluasa, ketika minibus oranye tadi meninggalkan halaman rumahnya. Kendaraan itu menuju villa milik pria Jerman tersebut.


__ADS_2