
"Presdir!!" Para direktur menyapanya dengan hormat.
Karyawan lainnya memberikan hormat dengan menundukkan kepalanya.
Daniel menganggukkan sedikit kepalanya, lalu duduk di kursi hitam Presdir.
Wina menarik Tania bergegas meninggalkan ruangan.
Di saat Tania ingin melangkahkan kakinya keluar dari ruang rapat, ia mendengar suara Daniel, "Semuanya jangan cemas, aku sudah menemukan keberadaan chip itu. Sebelum hari esok, chip akan kembali ke tanganku!"
"Bagus sekali!" Dewan direksi bertepuk tangan.
Seluruh tubuh Tania tegang karena ketakutan.
Tamatlah, tampaknya orang-orang Daniel sudah menemukan ketiga anaknya. Kali ini, identitas mereka pasti akan terungkap.
Bagaimana ini?
Bagaimana ini?
"Tania, kamu sedang apa?" Gumam Wina, "Tidak fokus saat bekerja! Kondisi seperti ini tidak diterima dikantor Presdir!!"
"Maafkan aku... "
"Pergi ketoilet dan bilas wajahmu. Atur suasana hatimu, kemudian ke ruang pelatihan dan cari aku."
"Baik, terima kasih kak Wina."
Tania bergegas ketoilet. Di dalam tidak ada orang, ia segera mengeluarkan ponsel menelpon bibi Juli.
__ADS_1
"Halo, ya Nona."
"Bibi Juli, bagaimana keadaan dirumah?"
"Hah? Apanya yang bagaimana?" Bibi Juli bingung, "Aku sedang merebus kacang merah untuk makanan penutup malam nanti... "
"Bukan, maksudku... "
Tania baru saja ingin menanyakan hal lebih detail. Setelah dipikir-pikir, bibi Juli sedang membuat makanan penutup, berarti dirumah tidak terjadi apa-apa.
Jadi ia mengubah pembicaraannya, "Baiklah, aku tutup dulu teleponnya."
"Oh." Bibi Juli sedang merebus makanan, ia sama sekali tidak menyadari keanehan Tania.
Tania berpikir bibi Juli baik-baik saja, guru TK pun tidak menelponnya. Berarti orang-orang Daniel belum mencari kesana atau mungkin mereka masih di perjalanan atau sedang bersiap bertindak....
Tania meraba bagian dada kirinya. Kotak hitam yang berisi chip itu berada dalam bajunya...
Semua orang sedang rapat, para karyawan menunggu disamping didalam ruang rapat, serta tidak ada orang di luar ruangan. Ia harus segera mengembalikan chip itu saat ini.
Memikirkan hal ini, Tania berjalan keluar dari toilet, ia diam-diam mengarah ke kantor Presdir.
Perjalanannya mulus. Walaupun ia bertemu dengan kedua rekan kerja lainnya. Mereka hanya melihatnya sekilas, tidak bicara apa pun.
Dengan cepat, Tania tiba dikantor Presdir. Ia mengulurkan tangan ingin mendorong pintu. Tiba-tiba kunci pintu elektronik memancarkan sensor inframerah. Dalam layar tertera tulisan bahasa inggris yang menyatakan silahkan masukan sidik jari.
Tania memaki dirinya sendiri didalam hati. Benar-benar otak udang. Bagaimana bisa masuk ke kantor Presdir sesuka hati?
"Silahkan masukkan kata sandi!" Tiba-tiba, pintu kunci elektronik mengingatkan lewat suara.
__ADS_1
"Kata sandi?" Tania mengandalkan peruntungan memasukkan nomor telepon Daniel.
'Bip, bip'
"Kata sandi salah!"
Suara itu memperingatkannya. Tania mulai gelisah dan panik. Bukan nomor ponselnya berarti tanggal ulang tahunnya?
Baru saja berpikir, pintu tiba-tiba membunyikan bunyi alarm...
Tania terke siap, ia segera melarikan diri. Tetapi, belum dua langkah, ia sudah dihadang oleh pengawal.
"Hehe, hehe... " Jantung Tania berdegup kencang, air keringat tak berhenti bercucuran.
Ia tersenyum canggung, ingin menyembunyikan rasa bersalah dengan cara ini, "Aku, jika aku bilang aku hanya lewat dan tidak sengaja menyentuh kunci pintu eletronik. Apakah kalian akan percaya?"
Kedua pengawal menggelengkan kepala tanpa ekspresi.
"Aku, aku sungguh... "
Tania baru saja ingin bicara, pengawal langsung memberinya jalan dan menundukkan kepala dengan hormat, "Silahkan, Nona Tania!"
Tania bengong, apakah ia salah dengar? Kedua pengawal tidak menangkapnya, malah bersikap hormat kepadanya?
"Ada apa?" Suara familiar terdengar, ternyata Ryan.
"Aku.... "
"Nona Tania, Presdir Daniel sedang rapat." Ryan melihat sekelilingnya. Setelah memastikan tidak ada orang, ia baru berbisik kepadanya, "Anda mencarinya? Nanti malam saja!"
__ADS_1