
Kediaman Viktor.
Viktor meminta pelayan wanita untuk menyiapkan air panas untuknya dan memintanya untuk berendam air panas, lalu tidur nyenyak.
Tetapi ia sama sekali tidak bisa tidur. Ia duduk memeluk lutut didalam bak mandi dan menatap layar redup ponsel dengan linglung.
Ia sedang menunggu telepon...
Ia sama sekali tidak berani mengedipkan mata, tidak berani bernapas, bahkan jantungnya tidak berani berdetak begitu cepat. Ia takut, Lagi-lagi melewatkan kesempatan kabar anaknya.
Sekarang ia merasa selama ia dapat bertemu anak-anak, kedepannya sekeluarga hidup dengan damai. Maka, ia bersedia menjadi budak Daniel....
Tetapi...
Setelah menunggu satu jam, matanya mulai menggelap, ponsel masih tidak berdering.
Tania meletakkan kepala di lututnya, air mata mengalir didalam bak mandi...
'Tok tok'
Pelayan wanita takut terjadi sesuatu dengannya. Ia mengetuk pintu masuk ke dalam dan kenapah Tania keluar dari bak mandi. Mengelap badannya, memakaikan jubah mandi dan mengeringkan rambutnya...
Begitu semua itu selesai, jam sudah menunjukan pukul satu tengah malam....
Ponsel masih menunjukan tanda-tanda berdering....
Hati Tania sangat menderita seperti berada didalam panci minyak panas. Ia tidak bisa menahan diri lagi, ia segera menelpon Daniel.
'Tut.... tut.... '
__ADS_1
Telepon berdering begitu lama, dan tidak ada yang menjawab. Panggilan itu putus sendiri.
Tangan Tania bergetar, tetapi ia tidak berani menelpon Daniel lagi. Ia takut Daniel akan marah dan melampiaskan kepada anak-anak.
Tetapi, ia tidak bisa menunggu begitu saja.
Jadi, ia mengirim pesan kepada Daniel....
'Aku tahu aku salah, terserah kamu apa yang mau kamu lakukan. Tetapi, aku mohon.... lepaskan anakku.'
'Kedepannya aku akan mendengarkan perintahmu. Aku akan menjadi budak untukmu. Tidak akan melawanmu lagi. Tolong lepaskan anakku. Daniel, aku mohon padamu... '
'Aku mohon padamu... '
Setelah tiga pesan berturut-turut, sama sekali tidak ada balasan.
Disaat ini, hatinya sangat-sangat menyesal dan benci kepada dirinya sendiri. Kenapa tidak mengetahuinya sejak awal? Bagaimana bisa telur ayam melawan telur batu?
Seharusnya ia menjadi budak tak berjiwa yang patuh. Tidak seharusnya ia melawan Daniel dan melarikan diri dari rumah sakit...
Di seberang telepon, Daniel mengernyitkan kening saat membaca pesan...
Setelah beberapa saat, akhirnya ia menelpon Tania...
"Halo." Tania langsung menjawab, tangannya gemetar, "Kedepannya aku akan menuruti perkataanmu. Aku pasti melakukannya. Aku mohon padamu lepaskan anakku. Aku mohon.... "
"Ingat ucapanmu itu!" Daniel memperingatkannya dengan dingin.
"Ingat, ingat!" Tania menganggukkan kepala berulang kali, "Kali ini, aku sungguh mengingatnya... "
__ADS_1
"Anak-anak ada dirumah." Akhirnya Daniel memberitahunya, "Pulang sendiri dan lihatlah!"
Setelah berbicara, ia mematikan telepon....
Tania bergegas keluar mencari Viktor dengan ponsel masih ditangannya, "Viktor, Viktor, cepat antar aku pulang. Anak-anak sudah ditemukan..."
Viktor sedang berganti baju didalam kamar, tiba-tiba pintu dibuka dan membuatnya panik, lalu tak sengaja jatuh keatas ranjang.
Tania tidak memikirkan hal yang aneh-aneh, ia menerjang masuk dan menariknya, "Viktor, cepat minta sopir antar aku pulang."
"Kamu jangan buru-buru, tunggu aku pakai baju, aku akan mengantarmu," ucapnya dengan wajah memerah, "Kamu juga ganti baju dan bawa Roxy."
Tania baru teringat Roxy yang sebelumnya sudah diserahkan kepada dokter hewan untuk diobati.
Pelayan segera memanggil dokter hewan, dokter menyerahkan sangkar dengan Roxy didalamnya kepada Tania, "Roxy tidak bangun itu tidak sakit, dia hanya mabuk." Ucapnya dengan tak mempercayai apa yang dilihatnya.
"Hah? Mabuk?" Tania tercengang.
"Benar, ia banyak minum alkohol. Sekarang ia masih tak sadarkan diri." Ucap dokter hewan.
Tania tidak mengira jika hewan kesayangannya telah mabuk berat.
Siapa yang memberikan alkohol itu? Dalam benak Tania terlintas wajah si iblis. Selain dia, memangnya siapa lagi?
Setelah beberapa saat, kedua orang itu naik mobil.
Didalam mobil keduanya tak bicara. Hingga mobil tiba di persimpangan Jalan Bahagia, "Viktor, aku tahu ucapanku sangat kejam. Tapi tetap aku harus bilang, kedepannya kita jangan bertemu lagi. Aku tidak boleh melibatkanmu, aku tidak ingin menderita lagi, benar-benar.... "
Perkataan Tania sangat tercekik, hingga Viktor menyela ucapannya, "Aku tahu." Viktor sangat enggan. Tetapi ia tetap menyetujuinya, "Sekarang ini aku tidak mempunyai kekuatan untuk bersaing dengan Daniel. Setiap aku membantumu, itu hanya memberimu hasil yang sebaliknya. Aku malah membuatmu semakin kesulitan. Daripada seperti itu, lebih baik menjauh."
__ADS_1