
"Kamu sedang melihat apa?" Viktor mendekat bertanya.
"Tidak ada, ayo kita pergi."
Tania mengernyitkan kening, hatinya berat. Ia benar-benar kecewa terhadap Stanley...
Jika waktu itu membatalkan pernikahan adalah maksud orangtuanya. Stanley tidak punya pilihan lain, kemudian hubungannya dengan Alisia adalah suatu kecerobohan.
Tetapi, sekarang...
Satu hari sebelumnya ia bersumpah akan melindungi Tania, dalam sekejap ia malah berselingkuh dengan Garcia...
Ini benar-benar sebuah masalah karakter!!
"Tania, kamu kenapa?" Viktor melihat Tania yang tidak fokus, ia bertanya dengan prihatin, "Kamu tidak usah pedulikan Alisia, ia benar-benar gila. Dulu aku sudah pernah bilang, wanita ini tidak benar, kamu jangan dekat dengannya... "
"Fyuh... " Tania menghela napas, ia beralih menatap Viktor, "Viktor, diantara teman-teman masa kuliah dulu, hanya kamu orang yang tetap sama seperti sebelumnya, sekalipun tidak berubah!" Seru Tania dengan tulus.
Benar sekali, Stanley, Garcia, Alisia, semuanya berubah....
Hanya Viktor seorang yang masih murni, polos, hangat dan ramah. Sama persis seperti dulu.
"Tentu saja." Viktor mengusap kepala Tania dengan lembut, "Tadi belum kenyang, kan? Kita ganti restoran lain."
"Tidak usah, kita cari tempat hening untuk duduk-duduk saja." Tania kelelahan fisik dan mental.
__ADS_1
"Ok, kita cari angin ke tepi laut."
Viktor menyetir mobil ke tepi laut. Ia membuka atap mobilnya, lalu menatap bintang di langit sembari mengobrol masalah hati dengan Tania.
Selama empat tahun ini, Viktor berkelana berkeliling dunia sendiri. Ia melihat keindahan dunia dan menuangkan pemandangan itu kedalam lukisannya...
Ia menjalani kehidupan itu selama empat tahun. Sebuah kehidupan murni dan sederhana, sama seperti orangnya.
Sedangkan, kehidupan Tania berubah dari kertas kosong menjadi kertas penuh coretan.
Ia punya banyak masa lalu yang tak mengenakkan. Ia punya banyak skandal dan sekarang ia dikendalikan orang lain, tidak punya kebebasan.
Dan ia tidak berani menceritakan hal ini kepada Viktor.
Ini tidak adil baginya...
"Tania, aku merasa kamu punya banyak beban hati dan tidak bersedia menceritakannya kepadaku." Viktor memegang tangannya dan berbicara dengan lembut, "Aku tidak keberatan dengan apa pun yang telah kamu alami. Aku hanya berharap dapat menjadi tempat perlindungan bagimu, dan biarkan aku menjagamu."
Detak jantung Tania berdebar, saat mendengar pernyataan tulus dari Viktor. Namun ia menahannya. Ia mengulurkan tangan memeluk Viktor dan menjawab dengan santai, "Memangnya masalah apa yang ku hadapi sekarang? Sekarang hidupku sangat baik."
"Tania... "
"Sudahlah, ayo kita pulang!"
Seandainya tidak ada Daniel, seandainya tidak ada tiga anak, ia mungkin berkeliling dunia bersama Viktor dan menjadi pasangan abadi. Tetapi, di kehidupan ini tidak ada kata 'Seandainya'....
__ADS_1
Kehidupannya sudah ditakdirkan seperti ini.
Viktor tidak bertanya lagi. Ia tahu, Tania membutuhkan beberapa waktu...
Tengah malam, Viktor mengantarkan Tania pulang. Ia menatap Tania masuk komplek rumah hingga sosok tubuhnya hilang dari pandangannya. Namun, tatapannya tak berhenti. Ia duduk dalam mobil sembari diam-diam menatap kearah Tania pergi.
Tania pulang ke rumah dan mengirim pesan kepada bibi Juli, "Bibi Juli, bagaimana keadaan Carla? Apa dia sudah baikan?"
Bibi Juli meneleponnya, suaranya benar-benar kelelahan, "Nona, kami baru pulang dari rumah sakit. Carla sudah tertidur. Carlos dan Carles selalu menunggu kami pulang. Sekarang mereka sedang menjaga Carla. Aku sedang masak mie... "
"Bibi Juli, terima kasih!"
Tania sangat merasa bersalah, ia tahu bibi Juli susah payah menjaga tiga anak seorang diri. Apalagi saat Carla sakit, bibi Juli bisa gelisah dan cemas, lalu tekanan darahnya bisa naik.
Beberapa tahun ini, Tania bisa bertahan hingga saat ini berkat bibi Juli selalu berada disampingnya.
Dan juga tiga anaknya ikut menderita bersamanya. Sama sekali belum menjalani kehidupan stabil.
Ia benar-benar merasa bersalah.
"Nona, Carlos memanggilku. Aku tutup telepon dulu, ya. Kamu istirahatlah, jangan cemas."
Setelah menutup telepon, Tania melihat ponselnya, seketika air matanya jatuh tak tertahan.
Sejenak ia berpikir, ada keraguan dalam hatinya, jika saja Viktor bersedia, mungkin....,mungkin bisa....
__ADS_1