Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius

Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius
Bab 173


__ADS_3

Mendengar perkataannya, Tania merasa ruwet. Sebelumnya Stanley dan Daniel berselisih, Daniel juga melukainya. Stanley malah menurunkan harga dirinya demi Tania, pergi memohon kepada Daniel...


"Tania, apakah kamu mendengar ku?"


Suara Stanley menghentikan lamunan Tania.


"Dengar kok. Terima kasih, Stanley!" Jawab Tania lembut.


"Tidak usah berterimakasih, aku yang berhutang padamu... " Stanley berbicara dengan sendu, "Sekarang aku sangat menyesal, benar-benar menyesal. Waktu itu kenapa aku tidak melawan keluargaku, melindungi mu dengan baik... "


"Hal yang sudah berlalu biarlah berlalu..."


"Babi bodoh, bangun dan sarapan!"


Tiba-tiba sebuah suara memotong ucapan Tania.


Stanley yang berada di seberang telepon tercengang. Sinyalnya seperti macet, tidak ada suara.


Tania bergegas menutup lubang mikrofon, menjawab Daniel sambil mengernyitkan dahi, "Kenapa kamu selalu tidak mengetuk pintu dulu?"


"Disini adalah rumahku." Jawab Daniel dengan dingin lalu pergi.


Tania sungguh tidak bisa ber kata-kata, lalu ia berkata kepada Stanley dengan hati-hati, "Apakah kamu masih di sana?"


"Kamu, sudah tinggal bersamanya?" Suara Stanley terdengar tertekan.

__ADS_1


"Bukan... " Tania tidak tahu bagaimana menjelaskannya.


Stanley menarik napas dalam, mencoba untuk terdengar tenang, "Tania, mari kita bertemu. Sekarang juga ke restoran Berlian Biru, aku tunggu kamu."


"Stanley... "


Tania baru saja ingin bicara, Stanley sudah menutup teleponnya. Tania tidak ingin pergi, tetapi jika tidak pergi, takutnya Stanley akan terus menunggunya.


Memikirkan hal ini, Tania langsung bangun, mandi dan ganti baju. Ia membawa gelang itu menemui Stanley.


Setelah keluar dari kamarnya dan turun. Kemanapun Tania lewat, setiap pelayan wanita selalu menundukkan kepala dan memberi hormat padanya.


Tania agak tersanjung, ia buru-buru menganggukkan kepala dan tersenyum sebagai balasannya.


"Nona Tania, Tuan Daniel sedang menunggu Anda di taman bunga. Mari aku antar kesana." Pelayan wanita bicara dengan hormat.


"Baiklah. Anda ingin menggunakan mobil? Biar aku atur."


"Boleh! Terima kasih."


Vila ini besar sekali, Tania harus jalan beberapa menit baru bisa keluar. Ada sebuah Maybach terparkir di depan pintu depan. Sopir menunggu di samping, membuka pintu untuknya.


"Restoran Berlian Biru di jalan Mirae, terima kasih." Tania mendesak sopir begitu naik mobil, "Tolong agak cepat, ya."


"Baik, Nona Tania." Sopir bergegas menyalakan mobil dan menyetir.

__ADS_1


Melalui jendela mobil, Tania dapat melihat kearah luar. Ia melihat taman bunga yang tak jauh. Daniel sedang sarapan di bawah payung matahari. Kurasa pelayan sedang melaporkan dirinya yang ingin keluar, kepala Daniel lalu menoleh ke arah sini...


Ia ketakutan buru-buru mundur, karena takut Daniel akan menghentikannya. Di luar dugaan, ia sama sekali tidak ada instruksi apa pun.


Mobil keluar dari vila dengan lancar.


Tania menghela napas lega. Hatinya diam-diam senang. Untung saja, iblis ini tidak membatasi kebebasan dirinya.


Tania bergegas ke Restoran Berlian Biru.


Stanley memesan seluruh restoran. Ia duduk sendirian di dekat jendela menunggu Tania. Punggungnya tampak kesepian dan sunyi.


Tania menarik napas dalam, mengatur suasana hatinya lalu berjalan kesana.


"Kamu sudah datang!" Pandangan Stanley berpindah dari jendela ke Tania, tatapannya sangat lembut.


"Apakah lukamu sudah baikan?" Tania duduk dan bertanya dengan prihatin.


"Sudah baikan!"


Stanley melihat bekas ****** di leher Tania, ia mengencangkan tangan saat memegang cangkir kopi.


Tania sama sekali tidak menyadari keanehan. Ia mengeluarkan gelang dari tas dan di berikan kepada Stanley, "Ini ku kembalikan kepadamu."


"Sebenarnya gelang ini, awalnya ingin di berikan untukmu." Stanley melihat gelang itu, tiba-tiba ia penuh emosional, "Ini adalah gelang yang di warisi kepada menantu di keluargaku... "

__ADS_1


"Kalau begitu, seharusnya kamu berikan kepada Alisia. Ia adalah menantu keluarga kalian." Jawab Tania sambil tersenyum.


Mendengar perkataannya, Stanley terdiam. Beberapa menit kemudian, ia bertanya, "Tania, jika aku bercerai dengan Alisia, apa kamu bisa memberiku kesempatan sekali lagi?"


__ADS_2