Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius

Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius
Bab 271


__ADS_3

Setelah Lily selesai memeriksa Tania, dia keluar ruangan bersama para perawatnya. Bibi Juli bergegas masuk kedalam kamar. Bibi Juli masuk dan duduk bersama Tania. "Nona, apa lukamu ini dipukul oleh orang jahat itu?" tanyanya.


Tania menghindari kontak mata, ia ingin mengarang cerita, tetapi bibi Juli segera murka, "Ternyata benar dia, bajingan ini, dia akan mendapatkan karma."


"Bukan, kamu salah paham.... " Tania ingin menjelaskan.


"Salah paham apa? Sejak kecil kamu tidak pandai berbohong, aku sudah tahu apa yang terjadi begitu melihatmu saja. Lain kali kalau bertemu dengannya lagi, aku akan memberi pelajaran kejam padanya."


"Jangan." Tania buru-buru menghalangi. "Ia adalah seorang iblis, waktu itu bibi menggunakan sapu memukulnya, itu saja sudah sangat berbahaya. Jika kedepannya bibi masih berbuat seperti ini, takutnya...."


"Kenapa? Ia bisa membunuhku? Aku akan melawannya dengan nyawa tuaku ini." bibi Juli merasa tidak takut apa pun.


"Ia mungkin tidak akan membunuhmu, tapi ia akan menghukum ku." Tania mengucapkan sebuah kalimat yang sangat berguna.


"Hah?" bibi Juli segera mereda, ia mengambil tangan Tania membujuknya, "Nona, sebaiknya kita sedikit menjauh darinya. Kita pergi mencari Tuan Viktor."


"Apa bibi tidak melihatnya? Viktor pun dihajar habis-habisan olehnya." Tania mengernyitkan kening, "Viktor sama sekali tidak bisa mengalahkannya."


Bibi Juli tercengang dan membelalakkan matanya, "Apa? Orang jahat itu apakah sehebat itu?"


"Bibi jangan asal berpikir." Tania mengganti metode lain untuk menenangkannya, "Sebenarnya ia tidak sejahat itu, ia telah menolongku berkali-kali. Kalau bukan karena dia, aku sudah pasti mati dari awal.... "


"Benarkah?" Bibi Juli sangar terkejut, "Kapan insiden itu terjadi?"


"Kejadian beberapa waktu lalu..."


Tania menceritakan dirinya yang menghadapi bahaya sebelumnya, insiden ledakan yang terjadi di rumah, diserang oleh orang, semuanya ditolong oleh Daniel.


Bibi Juli terkejut hingga matanya melongo begitu mendengar hal ini.

__ADS_1


Pada akhirnya Tania juga menambahkan, "Ia bukan orang jahat, hanya saja temperamennya sangat jelek, jadi kita jangan sampai memprovokasinya."


"baiklah, aku mengerti." Bibi Juli mendesah. Ia sangat berharap kehidupannya yang dulu tenang dan damai itu kembali. Hidup damai dan tidak ada masalah!


"Kedepannya tidak akan ada lagi." Tania diam-diam memutuskan dalam hati, "Tenang saja. Bibi harus cepat sembuh agar dapat menjaga anak-anak." ucap Tania dengan mata yang memerah.


"Iya, iya."


*********


Akhirnya, kehidupan kembali ke semula. Anak-anak memutuskan besok pagi hari senin akan mulai kembali ke sekolah, dokter Denise dan ketiga perawat akan menemani mereka di segala kegiatan.


Carles anak yang suka keramaian, ia tidak betah di rumah.


Carla juga sangat ingin bermain, dan Carlos meskipun ia orangnya dapat mengendalikan diri, tetapi ia juga sangat ingin ke sekolah dan belajar ilmu baru.


Ia juga telah memutuskan, kedepannya entah permintaan apa yang diminta oleh Daniel, ia tidak boleh melawannya.


Selama tidak membuatnya marah, maka mereka sekeluarga akan menjalani hari baik...


Di tempat lain.


Sepanjang hari, Daniel terus menatap ponsel menunggu telepon dari Tania.


Tetapi, Tania belum menelponnya juga.


Malam hari, Lily kembali melapor dan berkata dengan perhatian, "Luka di pinggang Tania sudah mulai membaik. Oh iya, sore tadi aku mengirimnya pesan, ia bilang besok ia akan kembali bekerja."


"Ya!" jawab Daniel sekaligus bertanya, "Dia bilang apa lagi?"

__ADS_1


Sebenarnya ia ingin bertanya apakah Tania ada membicarakannya.


"Dia, dia juga bilang, Anda sangat detil mengatur semua ini.... " Lily mengarang dengan hati-hati, "Anda juga mengatur rumah untuk dokter dan para perawat, dengan begitu mereka lebih mudah menjaga anak. Ia sangat berterima kasih kepada Anda, karena Anda telah menyelesaikan masalah terbesarnya.... "


"Nyalimu semakin lama semakin besar." Daniel menyela ucapannya, dan berkata dengan dingin, "Berani berbohong padaku?"


"Tuan Daniel, mohon ampun." Lily segera menundukkan kepala meminta maaf.


Daniel mengernyitkan kening, ternyata memang bohong. Wanita sialan itu tak berhati nurani, sama sekali tidak tahu caranya berterima kasih. Bagaimana mungkin ia mengatakan hal seperti itu?


"Keluarlah!"


Daniel kembali melanjutkan minum alkohol.


"Baik." Lily membungkukkan badan dan mundur. Ia bertemu Tuan Besar yang sedang berjalan masuk, ia bergegas menundukkan kepala memberi hormat, "Tuan Besar."


"Ya." jawab Tuan Besar. Ia berjalan masuk dan duduk di sofa seberang Daniel, "Kasusnya susah selesai?"


"Kasus apa?" ceplos Daniel. Setelah berbicara ia baru sadar, "Oh, sudah selesai."


"Bagus sekali." Tuan Besar menganggukkan kepala. "Sekarang Grup Sky Well sedang tumbuh, semoga kasus kecelakaan ku ini tidak membawa berita negatif bagimu."


"Tidak, tenang saja." Daniel melihat ia berpakaian rapi dan wajah penuh bahagia, "Berdandan begitu rapi dam penuh semangat, kamu akan berkencan dengan nyonya mana?" olok Daniel.


"Sialan!" Tuan Besar mengangkat tongkat memukulnya, "Dasar bocah busuk, berani-beraninya mengolok-olokku!"


"Hehe....." Daniel tertawa, "Memangnya kamu mau kemana?"


"Aku ingin bertemu dengan tiga anak cucuku itu."

__ADS_1


__ADS_2