
Keesokan harinya, setelah Tania menanda tangani surat perjanjian itu. Dia mencari rumah baru untuk dia tinggali karena rumah lama sudah tidak bisa ia tinggali lagi...
Tania tidak mau jika dia harus tinggal di vila milik Daniel. Karena Daniel harus buru-buru pergi ke Negeri Elang, jadi dia mengizinkannya.
Setelah pindah ke rumah baru, Tania bersih-bersih hingga malam hari. Ia tampak kelelahan dan tertidur lelap di sofa.
Bagaimana pun banyak yang dia alami selama dua hari ini, tetapi masalah tidak berakhir sampai disitu. Setelah Stanley membawa kembali kalung ruby, dia tetap bersikeras ingin bercerai dari Alisia. Bahkan Stanley sendiri sudah menandatangani surat perceraian itu.
Alisia benar-benar marah, dan ia melabrak Tania sampai ketempat kerjanya, tapi Tania mengajak Alisia ke kafe untuk membereskan masalah ini.
"Pasti ini demi kamu." Alisia sakit hati membahas ini, "Selain kamu, tidak ada orang yang bisa membuatnya ingin bercerai denganku... "
"Aku dan dia hanya masa lalu. Walaupun dia tidak menikah denganmu, dan sekarang jomblo pun, aku juga tidak mungkin kembali padanya!" Tania menyangkal.
"Ck, tentu saja aku tahu. Kamu sejak awal sudah melepaskannya. Tetapi ia belum melepaskan mu." Alisia tersenyum pahit, "Dia benar-benar bodoh. Dia kira dengan bercerai dariku, dia bisa mengejar mu kembali. Sebenarnya dari awal kamu sudah punya target lain, kan? Sekarang kamu sedang fokus mengejar Presdir Daniel."
"Benar!" Demi meyakinkan Alisia, Tania spontan mengakui, "Sekarang aku sedang fokus untuk mendapatkan Daniel. Ia lebih baik daripada Stanley dari segi manapun!"
"Kamu pikir kamu hebat!" Ujar Alisia dengan hina, "Apa kamu tidak tahu, Presdir Daniel sudah punya tunangan. Ia hanya bermain-main denganmu, sama sekali tidak serius denganmu."
"Apa?" Tania tertegun. Daniel punya tunangan? Kenapa ia tidak tahu...
"Stanley tidak mau menyerah, karena ia tahu kamu dan Presdir Daniel tidak mungkin bisa bersama." Sahut Alisia dengan mengejek, "Sebenarnya ada satu orang yang pantas untukmu.... "
__ADS_1
"..... ???" Tania bingung.
"Keluarlah!" Alisia bertepuk tangan.
Kety keluar dari ruangan lain yang ada di sana, di belakangnya diikuti pria bertubuh tinggi.
Postur tubuhnya tinggi, tak beda jauh dari Daniel. Hanya saja, auranya jauh lebih berbeda...
Melihat wajahnya, jelas sekali ia adalah orang Thailand....
"Apakah kamu masih ingat dia?" Kety menunjuk pria itu. Ia tertawa mengejek, "Dia adalah Mario, pria yang melakukan cinta satu malam denganmu di bar itu."
Pria yang bernama Mario itu melihat Tania dari atas sampai bawah. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Tidak mungkin!" Tania tercengang membelalakkan mata. Ia menggeleng, "Bagaimana mungkin dia? Tidak mungkin... "
Ia kembali memikirkan Daniel, meskipun identitas pria itu belum diketahui pasti, tetap saja hatinya tidak bisa menerima itu.
Malam itu ia banyak sekali minum alkohol, kesadarannya tidak penuh dan masih sedikit mengingat tampang pria dimalam kejadian panas itu. Tetapi saat ia bangun setengah sadar, ia melihat sendiri tato di bagian pinggang belakangnya...
Ini tidak mungkin salah!
"Kalau bukan dia, jadi siapa?" Alisia tertawa mencemooh, "Mario tidak akan salah ingat. Setiap pelanggan yang ia layani, ia selalu memotret nya sebagai kenang-kenangan!"
__ADS_1
Setelah berbicara, ia memberi instruksi kepada pria Thailand itu.
Mario mengeluarkan beberapa foto dari saku baju kemeja bunga-bunganya. Ia meletakkan foto itu di meja.
Tania melihat lebih dekat, dan dia pun terkejut....
Di dalam foto itu, ia mabuk tak sadarkan diri. Hanya tersisa bra hitam di bagian tubuh atasnya. Wajahnya memerah dan ia sedang tidur di atas ranjang putih.
Pria Thailand itu memotret beberapa foto mesra dari sudut berbeda...
Seketika, bulu kuduk Tania bergidik, ia tiba-tiba mual ingin muntah...
Ia tidak berani mempercayainya, pria yang bermalam dengannya empat tahun lalu adalah pria Thailand ini...
Sungguh tidak bisa dipercaya...
"Masih tidak percaya?" Alisia mengeluarkan ponsel, ia memutar sebuah video. "Kamu akan percaya begitu melihat ini!"
Tania menoleh untuk melihat video di ponsel itu.
Di dalam video itu, ia mabuk tak sadarkan diri. Mulutnya memaki Stanley bajingan pengkhianat.
Satu tangan Alisia memapahnya, satu tangan lainnya sedang memilih satu-satunya pria asing yang berdiri di dalam barisan yaitu Mario, yang sedang berada di depan matanya. Alisia menyeringai jahat, "Aku pilih kamu. Malam ini tolong layani kakakku dengan baik!"
__ADS_1