
Bukan hanya karakter dan temperamen nya, tapi juga hambatan dari orang sekitar, apalagi status dan latar belakang keluarganya.
Sekarang dia hanya seorang karyawan biasa, bahkan hidup pun harus bersusah payah, sedangkan dia sangat bermartabat dan berstatus tinggi.
Mereka tidak sejalan.
Berpikir bahwa nanti Daniel menikahi wanita lain, Tania merasakan amarah dan tanpa sadar menarik bantal dinosaurus dan hampir robek...
Dia marah dalam hati, "Pria bajingan, jelas-jelas dia sudah memiliki tunangan, kenapa dia datang menggodaku?"
Kelak harus menjauh darinya!
Jika Daniel mencarinya, dia akan mengabaikannya.
*****
Dua hari kemudian, Tania sangat senang karena santai berpikir bahwa iblis itu sebaiknya jangan kembali lagi. Namun seminggu kemudian, Daniel masih belum datang ke kantor.
Hati Tania merasa gelisah, pria itu pergi kemana?
Apakah dia benar-benar menikahi Lea?
Tania ragu, apakah dia harus meneleponnya atau mengirim pesan?
Tiba-tiba terdengar beberapa sekretaris wanita mengobrol dengan suara rendah di pantri, "Hei, menurutmu akhir-akhir ini Presdir tidak datang ke kantor?"
"Sudah pasti dia sedang menemani Presdir Lea."
"Benar, benar, perusahaan Presdir Lea ada di Negara Maple. Kali ini dia datang ke Kota Bunaken untuk membahas kerja sama dengan Grup Sky Well, sebagai tuan rumah seharusnya sebaik mungkin menyambutnya."
"Tidak perlu Presdir Daniel sendiri yang menyambutnya, kan."
"Apa yang kalian tahu? Presdir Daniel dan Presdir Lea adalah pasangan kekasih sejak kecil, tentu saja Presdir sendiri yang menyambutnya. Mungkin, kelak Presdir Lea akan menjadi bos kita juga."
"Hah? Benarkah?"
__ADS_1
"Tentu saja itu benar, aku dengar perkataan Kak Wina... "
"Apa yang kalian bicarakan?" Teriakan dingin Wina menyela pembicaraan mereka.
Beberapa sekretaris buru-buru bubar, langsung ke meja masing-masing.
"Ini adalah dokumen mendesak yang perlu dikirim ke Lapangan Golf Bandar Kemayoran untuk di tandatangani oleh Presdir." Wina datang dengan membawa tas dokumen, "Bella, kamu... "
"Kak Wina, kemarin aku salah makan dan hari ini diare sepanjang hari... " Bella berkata dengan tergesa-gesa, "Bandar Kemayoran terlalu jauh, aku khawatir akan mempermalukan Grup Sky Well."
"Fena, kalau begitu kamu yang pergi." Wina menatap sekretaris lainnya.
"Kak Wina, Anda lupa, nanti Jeremy dan aku akan menemani Direktur Toni menemui media." Bella berkata dengan lemah.
Wina mengerutkan kening, me liriknya, dan akhirnya menatap Tania, "Tania, hanya tersisa kamu."
"Aku?" Tania tertegun sejenak dan buru-buru berkata, "Aku khawatir tidak akan berhasil."
"Kamu pergi bersamaku." Wina melihat jam tangannya, "Kamu harus pergi keluar dan belajar banyak hal, kamu tidak bisa tinggal di meja depan seperti ini selamanya, seumur hidup tidak akan sukses."
"Ok, aku paham." Tania menghela napas lega ketika tahu bahwa Wina juga pergi, "Kapan berangkat?"
"Ok."
Wina mengantar Tania ke Bandar Kemayoran. Dalam perjalanan, dia bertanya kepada Tania dengan penuh arti: "Tania, ada 18 sekretaris di kantor Presdir, dan gaji setiap orang berbeda. Tahukah kamu kenapa?"
"Aku tidak tahu." Tania menggelengkan kepalanya.
"Apa kamu tahu berapa gajiku setiap bulan?"
"Berapa?" Tania memandangnya dengan lemah.
"260 juta." Wina menjawab.
"Hah? Sebesar itu?" Tania terkejut.
__ADS_1
"Ini hanya gaji pokok, tidak termasuk bonus dan tunjangan lainnya." Wina tersenyum sedikit, "Ditambah semua tunjangan, gajiku hampir 4 milyar setahun."
"Ya ampun, aku sangat iri." Tania iri.
"Jangan pernah meremehkan pekerjaan seperti sekretaris, selama kamu mengerjakannya dengan baik, kamu akan memiliki masa depan yang cerah." Wina berkata dengan sungguh-sungguh, "Jika kamu ingin menjalani kehidupan yang baik, kamu sendiri harus berkerja keras, jangan mengacau."
Mendengar perkataan ini, Tania sedikit malu. Memang, dia sudah sedewasa ini, dia tampaknya tidak mengejar karirnya...
"Semangat!" Wina menghela napas, "Betapa hebatnya ayahmu, aku yakin kamu juga bisa melakukannya!"
"Kamu kenal ayahku?" Tania terkejut.
"Siapa yang tidak mengenal Presdir Grup Smith?" Wina menghindari topik yang berat jadi dia berkata dengan santai, "Smith adalah nama keluarga yang langka dan kamu memiliki temperamen yang baik, jadi tidak sulit untuk membedakannya.
"Oh." Tania tidak terlalu ingin mengungkit masa lalu.
"Sudah hampir sampai. Pertama-tama kamu baca dokumen itu, pelajari dulu."
"Ok!"
*****
Setelah berkendara selama dua jam, akhirnya sampai di Bandar Kemayoran.
Pegawai lapangan golf datang untuk menyambut mereka dan mengetahui bahwa mereka mengantar dokumen untuk Daniel. Dan mereka semua segera naik mobil wisata untuk bertemu Daniel.
Tania mengingat tempat ini, saat dirinya juga pernah mengunjungi tempat ini bersama ayahnya dulu, ayahnya sering berkunjung kesini dan menjamu para klien disini.
"Apa itu Presdir Daniel?" Wina bertanya sambil menunjuk ke lapangan yang tidak jauh darinya.
Tania mendongak, sosok yang familiar itu adalah Daniel dan orang yang mungil nan cantik itu.... seharusnya pasti Lea!
"Huh....." Wina membeku dan dia memandang Tania dengan canggung, "Nanti aku akan mengantarkannya sendiri, kamu tunggu aku."
Mungkin bagi karyawan lainnya, mereka lambat untuk menyadarinya. Tapi Wina sejak awal sudah menyadarinya, Tania dan Daniel memiliki hubungan yang tidak biasa.
__ADS_1
Dulu Tania naik jabatan adalah perintah Ryan sendiri dan jika terjadi masalah apa pun, Ryan sendiri yang akan datang untuk berdiskusi.
Semua orang tahu bahwa Ryan adalah tangan kanan Daniel dan yang dia sampaikan adalah perintah Daniel.