
"Presdir Daniel, selamat pagi!"
Hari ini Tania sendiri membukakan pintu mobil untuk Daniel, ini adalah sikap berdengus Tania yang sebelumnya.
Daniel turun dari mobil, melihatnya, dan langsung berjalan ke arah lift.
Ryan dan para pengawal mengikutinya...
"Presdir Daniel.... "
Saat Tania ingin mengejarnya, dia mendapati Presdir Daniel menggunakan haedset bluetooth, sedang menelpon. ....
"Periksa Black tiger dengan cermat, barang kali yang dia buang ke laut bukanlah chip dan hanya kotaknya. Mungkin chip itu disembunyikan ditempat lain."
Mendengar perkataan itu, Tania gemeteran. Astaga, ternyata tertebak oleh si iblis!
Benar-benar bukan orang biasa!
Ia harus segera mengembalikan chip padanya. Jika tidak, tidak terbayang akibatnya.....
Ketika Tania sedang berpikir kesana kemari, Daniel sudah masuk lift.
Tania memegangi chip di kantongnya, seluruh otaknya sedang berpikir, bagaimana mencari alasan untuk pergi ke lantai 68 dan mengembalikan chip kepada Presdir Daniel tanpa sepengetahuan siapa pun.....
__ADS_1
Hari ini, Presdir tidak menyuruhnya mengantarkan sarapan, juga tidak boleh menyuruhnya membersihkan kolam renang diatas, dia sama sekali tidak ada kesempatan untuk naik.
Bisa juga menggunakan pengiriman pos, atau diantar keatas bersamaan dengan dokumen departemen lain?
Namun, chip ini begitu penting, bagaimana dia begitu sembarangan? Jika hilang akan repot!
Tania, Tania." Seru David memecahkan pikiran Tania, "Sudah ganti shif, kita pergi makan yuk."
"Oh." Tania dengan tidak fokus mengikuti David ke kantin, tiba-tiba teringat waktu sebelumnya Presdir Daniel makan di kantin lantai 27, mungkin hari ini juga kesana.
Saat itu juga, dia segera menarik David ke lantai 27.
Kedua orang berseragam keamanan tiba-tiba muncul ditengah kumpulan staf yang berpakaian bagus, terlihat tidak pada tempatnya. David merasa tidak nyaman.
Tania melihat keseluruh ruangan, mencari bayangan Presdir Daniel. Rekan mantan departemen administrasi melihat Tania, semua orang menghindarinya, tidak ada seorangpun yang menyapanya.
"Tania." Tiba-tiba terdengar suara, Tania mengangkat kepalanya dan melihat, rekan di departemen administrasi, Yuni, membawa piring kearahnya. "Apakah aku boleh duduk?"
"Tentu saja boleh, silahkan duduk." Tania buru-buru pindah ke dalam.
Yuni duduk di samping Tania, menyodorkan sekotak yoghurt padanya, "Aku ambilkan susu untukmu."
"Terima kasih." Tania sungguh terharu.
__ADS_1
"Jangan sungkan, dulu saat di departemen administrasi, kamu sangat baik padaku." Yuni berkata dengan tersenyum. "Tania, bagaimana kabarmu? Apakah terbiasa bekerja di departemen keamanan?"
"Lumayan, rekan-rekan sangat menjagaku. Oh ya, ini David. Setiap hari kami piket bersama." Tania memperkenalkan David padanya.
"Halo David, aku Yuni."
"Halo, Yuni." Yuni dan David saling menyapa.
Saat itu juga, Yuni mengecilkan suaranya dan berkata pada Tania. "Tania, kamu tahu tidak? Manajer Alex dipindahkan ketempat parkir untuk menjadi penjaga pintu."
"Aku tahu." Tania menganggukkan kepala. Beberapa hari ini dia piket ditempat parkir, tapi tidak bertemu Alex. Dia berharap seumur hidup ini tidak bertemu dengan orang itu lagi.
"Apakah kamu tahu, kenapa?" Yuni bertanya dengan penasaran.
"Kurang tahu." Tania tidak ingin membahas hal itu, dia merasa itu memalukan.
"Oh." Yuni tidak bertanya lagi, "Aku hanya penasaran, jadi banyak bertanya, kamu jangan marah ya."
"Tidak apa-apa."
Tania berbalik melihat depan pintu, sudah pukul 12, siiblis masih belum datang. Sepertinya hari ini tidak akan datang.
"Tania, aku harus pergi dulu. Sore ini ada rapat direksi yang sangat penting. Aku harus mengantar dokumen ke lantai 68." Yuni berdiri membawa piringnya.
__ADS_1
"Apa aku boleh pergi denganmu?" Tania buru-buru bicara, setelah bicara dia menambahkan lagi. "Aku takut dokumen itu terlalu berat untuk dibawa sendirian, aku ingin membantu membawanya."
"Baik, ayo."