
Mereka mengingatkannya dengan cara ini, bahwa dia adalah milik Daniel!
"Ini adalah Roxy? Sangat lucu."
"Iya."
"Tania, apa rencanamu selanjutnya? Aku dengar dari bibi Juli bahwa rumah yang dulu kamu sewa telah diambil kembali oleh pemilik rumah. Sekarang, anak-anak tinggal dimana? Apa kamu sudah menemukan tempat tinggal?"
"Semuanya sudah diatur." Tania melirik ke arah luar.
Viktor mengikuti tatapannya, lalu melihat mobil keluarga Daniel dan mengerutkan kening, "Ok, karena tidak nyaman, aku pergi dulu."
Dia meletakkan cangkir kopi, lalu berdiri dan berbisik, "Nomor telepon ku, bibi Juli tahu, kamu catat saja dan telepon aku kapan saja jika terjadi sesuatu."
"Jaga dirimu, jangan khawatirkan aku." Tania merasa malu.
"Ambil barang yang ayahmu tinggalkan untukmu sesegera mungkin." kata Viktor lagi.
Tania terkejut, dan menatapnya dengan heran, "Kamu, bagaimana kamu tahu?"
"Dia pernah menulis surat padaku sebelum kejadian itu... " Viktor menghela napas dengan rasa bersalah, "Aku baru melihatnya beberapa saat yang lalu, dan karena surat inilah, aku kembali padamu!"
__ADS_1
"Menulis surat? Apa isinya?" tanya Tania antusias.
Viktor ragu-ragu sejenak, "Hanya menyuruhku melindungi mu dengan baik, tidak ada yang lain.... Selain itu, dia bilang padaku, bahwa dia meninggalkan sesuatu untukmu, jika dalam lima tahun kamu tidak pergi mencari Paul, aku yang akan mengeluarkan barang itu dan membawanya padamu."
Dia tidak pernah berpikir, bahwa ayahnya menulis surat untuk Viktor. Dari apa yang dikatakan Paul sebelumnya, bisa dipastikan bahwa isi di dalam kotak itu tidak ada hubungannya dengan kematian ayahnya yang tidak terduga.
"Tania.... selamat tinggal." Viktor menatapnya dalam-dalam berbalik badan, lalu pergi.
"Terima kasih, Viktor. Jagalah dirimu!" gumam Tania yang melihat punggungnya yang kurus, tidak seharusnya dia melibatkannya...
Berharap Daniel memegang perkataannya dan tidak mempersulit nya.
*****
Setelah menyesuaikan dengan keadaan di dalam rumah, Tania bermain dengan anak-anak sejenak sampai anak-anak kelelahan dan tidur siang, dia segera berganti pakaian dan bersiap untuk pergi dengan membawa tasnya. Lalu berkata kepada bibi Juli, "Jangan masak untukku, aku ingin pergi ke makam, entah kapan aku kembali."
Tania mencari di navigasi ponsel, jarak dari rumah ke makam lebih 70 kilometer.
"Hari ini bukan peringatan kematian tuan. Apa terjadi sesuatu?" bibi Juli mulai serius.
"Tidak apa-apa, aku hanya merindukan ayah dan ingin menemuinya." Tania agak sedih, "Akhir-akhir ini banyak hal yang terjadi dan aku agak bingung. Pergi menemuinya mungkin bisa menemukan arah."
__ADS_1
"Baiklah."
******
Malam pun tiba, gerimis turun, dan makam sunyi senyap.
Tania meletakkan bungan lili di makam ayahnya, membungkuk tiga kali, lalu ke ruang penyimpanan relik makam.
Dia menemukan brankas ayahnya, membuka dengan kata sandi ulang tahun ibunya, didalamnya ada kotak mahoni ayahnya!
Dia mengambil napas dalam-dalam, mengeluarkan kotak itu dan membuka kuncinya. Kotak itu berisi surat, album foto, dan map perak.
Tania membuka amplop itu dengan hati-hati, melihat tulisannya seperti melihat orangnya. Tulisan tangannya sangat rapi dan sangat teratur seperti dirinya...
Kata demi kata, penuh dengan perasaan yang mendalam dan juga kekhawatiran dan keengganan yang tak terbatas...
Tania membaca surat itu dengan berlinang air mata__
'Tania, ketika kamu melihat surat ini, ayah mungkin sudah tiada, jangan berduka dan jangan bersedih, ayah akan melindungi mu di surga. Ayah berharap Tania ku aman dan bahagia seumur hidup! Mengingat kembali separuh hidup ayah, ayah telah melewati pasang surut dan kejayaan. Sekarang ayah jatuh ke titik ini, tapi ayah tidak menyimpan dendam terhadap siapa pun, ayah hanya menyalahkan diri sendiri karena tidak kompeten. Ayah menghabiskan separuh hidup demi membangun dunia ini, tapi ayah masih tidak bisa melawan keluarga itu...
Satu-satunya penyesalan ayah adalah tidak dapat menemukan ibumu dan ayah tidak bisa meminta maaf padanya secara langsung. Demi melindungi mu, ayah memilih cara pengecut yaitu pergi meninggalkannya.
__ADS_1