
Tania berteriak sangat terkejut, ia bermaksud menolong Viktor, namun Daniel menggenggam erat pergelangan tangannya, kekuatan seperti ini hampir meremukkan tulangnya menjadi berkeping-keping.
"Lepaskan aku!" Tania melawan dengan marah.
Viktor terjatuh ke lantai, darah segar mulai mengalir keluar dari hidungnya...
Lea dan Wina terkejut, kedua orang itu berdiri disamping dengan wajah pucat, tidak berani berjalan keluar.
Ryan yang menunggu dipintu masuk, buru-buru berjalan masuk dan menutup pintu.
"Daniel, apa kamu sudah gila?" Tania berteriak dengan marah, "Jika ada masalah, selesaikan denganku, kenapa harus memukulnya???"
"Kamu sakit hati?" Daniel menarik Tania kedepannya, menggertakkan giginya sambil bertanya, "Dulu, apa yang kamu pernah janjikan padaku, hah?"
"Aku... "
"Presdir Daniel jangan marah, malam ini banyak tamu kehormatan hadir, termasuk keluarga Viktor. Aku takut ini akan berdampak buruk jika sesuatu terjadi." Ryan berkata sambil berbisik.
"Betul, betul, jangan membuat kekacauan." Lea tergesa-gesa, "Hanya demi seorang wanita, sangat tidak berarti!"
Perkataan ini, menyentuh Daniel.
Daniel mendorong Tania keatas sofa, dalam sekejap raut wajahnya kembali tenang, "Tuan muda Viktor benar-benar lemah, satu tinjuan saja sudah terjatuh, masih berani berebut wanita denganku?"
Viktor bangkit dari lantai, ia menyeka darah yang ada diwajahnya, dengan gigi terkatup berjalan mendekati Daniel, ia mengepalkan tangan ingin meninju Daniel.
Tetapi mata Daniel terbuka lebar, sebuah tendangan mengarah padanya...
Tepat pada saat ini, Tania bergegas maju secepat kilat, dia melindungi Viktor.
Tendangan kaki Daniel tepat mengenai tubuh Tania.
'Brakkk' Tania terjatuh di pelukan Viktor, mereka sama-sama terjatuh kelantai....
Tania merasa pinggangnya seperti akan patah, ia berbaring diatas tubuh Viktor, gemetar kesakitan.
Daniel terkejut, ia tercengang menatap Tania. Ia tidak menyangka, Tania tidak memedulikan keselamatannya dan berlari melindungi Viktor...
Apa keselamatan Viktor lebih penting daripada hidupnya? Ia mengepalkan tangannya, ujung jarinya hampir melukai telapak tangannya.
__ADS_1
"Tania." Viktor terburu-buru memeluknya, tangannya gemetar, "Kenapa kamu begitu bodoh... "
"Aku tidak apa-apa." Tania kesakitan hingga wajahnya pucat, ia berkeringat dan menyunggingkan senyum kaku, "Kamu keluar dulu."
"Tania... "
"Keluar!" Tania tidak bertenaga mendorongnya.
"Tuan muda Viktor, biar saya mengantar Anda keluar." Ryan bergegas merapat Viktor, ia berbisik meyakinkannya, "Nona Tania baik-baik saja, semakin Anda menjauhi Nona Tania, ia akan semakin aman."
Perkataan ini meyakinkan Viktor.
Viktor mengangkat kepala, menatap marah ke Daniel, "Daniel, mari kita lihat nanti!"
"Ayo pergi... " Ryan menyeret Viktor keluar.
Daniel masih menatap Tania, sepasang mata menatapnya dingin sedingin es, tatapan yang dalam tak terkirakan dalamnya...
"Daniel... " Lea membujuk dengan lembut, "Jangan marah hanya karena wanita seperti ini... "
"Keluar!" Suara Daniel rendah dan dingin.
Wina pun tidak berani membuka mulutnya, ia pun sama mengikuti Lea keluar ruangan.
Daniel perlahan berjalan menghampiri Tania, posturnya menatap ke bawah persis seperti iblis.
Tania ketakutan dan mundur, ia ingin bangkit berdiri, namun karena sakit luar biasa dipinggang bawahnya membuatnya tidak bisa bergerak....
Akhirnya Daniel berhenti, ia berlutut, lalu menatapnya seperti itu...
Tatapan mata itu penuh hawa dingin dan penuh teka-teki...
Tania tidak berani menatapnya, ia menundukkan kepala, dengan gemetar dan ketakutan ia menjelaskan, "Aku dan Viktor tidak ada hubungan apa-apa, dia hanya mengajakku mengobrol... "
Daniel mencubit dagunya, mengangkat wajahnya, tersenyum muram, "Kamu masih mencintainya, bahkan demi dia, kamu rela mengorbankan dirimu!"
"Aku hanya tidak ingin dia terlibat." Tania kesakitan hingga berkeringat terus-menerus, keringatnya telah membasahi roknya, "Dia tidak bersalah... "
"Tidak bersalah sampai kamu melahirkan ketiga anaknya? Tidak bersalah sampai kamu melindunginya?" Daniel seakan mendengar lelucon terlucu diseluruh dunia, "Kamu pikir aku bodoh, ya? Hah?"
__ADS_1
"Bukan... " Tania panik, "Barusan hanya... "
"Tutup mulutmu!" Daniel berkata sambil menggertakkan giginya, "Jangan menguji kesabaranku, jika tidak, aku takut aku tidak dapat mengendalikan diriku untuk... "
Ia mendekatinya seperti dewa maut, ia memperingatkannya kata perkata, "Membunuhnya!"
Tania membelalakkan matanya terkejut. Saat ini, ia baru menyadari sifat posesif dan kecemburuan Daniel sangatlah menakutkan...
Tania merasa panik, "Bukan, bukan, Viktor tidak bersalah. Kami sama sekali tidak ada... "
"Seandainya tadi kita menerobos masuk kedalam dan memergoki kalian, mungkin kalian sekarang sedang bercumbu, kan?"
Daniel menggetakkan giginya, dengan keras menampar wajah Tania yang sudah merah dan bengkak.
"Tidak! Sebenarnya, Viktor sama sekali tidak... "
'Tok tok tok'
Terdengar suara ketukan pintu.
Kemudian, terdengar suara Ryan, "Tuan Daniel, Tuan besar sudah tiba!"
Daniel mengernyitkan kening, lantas mencubit pipi Tania, "Baiklah! Tania, aku peringatkan sekali lagi. Jangan menguji kesabaranku! Mungkin aku tidak akan menyentuhmu." Daniel menyipitkan matanya, kemudian mengancamnya, "Namun seluruh keluarga dan kerabatmu, termasuk tiga anak-anak itu, akan menanggung akibatnya!!"
Tania tercengang, dengan ketakutan menggelengkan kepalanya, "Jangan! Aku mohon padamu, tolong jangan lukai mereka... "
"Kalau begitu, turutilah perintahku!"
Daniel membawanya ke atas sofa, melepaskan jaketnya dan menutupi tubuh Tania. Ia melangkah kearah pintu dan memerintah, "Panggil Lily!"
"Baik." Ryan memandang Tania sekilas, lalu perlahan-lahan menutup pintu.
Tania begitu ketakutan. Bertanya-tanya dalam hatinya, apakah sebaiknya ia memberitahu Daniel bahwa ia adalah ayah dari anak-anaknya, sehingga Viktor dan anak-anak nya aman darinya?
Akan tetapi...
Apakah jika anak-anak hidup bersama dengan ayah sebrutal ini, apakah mereka dapat tumbuh menjadi anak-anak yang baik?
Saat sedang berpikir, pintu terbuka dari luar. Lily datang dengan membawa kotak perlengkapan medisnya, "Nona Tania, apa Anda terluka?"
__ADS_1