Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius

Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius
Bab 275


__ADS_3

Mendengar itu, Carlos mendongakkan kepala dan mengerutkan kening, "Kristian!"


"Dia lagi!" Raut wajah Carles seperti kehilangan kata-kata, "Sebelumnya saat di taman bermain, neneknya mereservasi satu komidi putar, tidak membiarkan kita bermain, sekarang dia kembali mereservasi restoran, kalau begitu kita jadi tidak bisa main lagi, kan?"


"Neneknya Kristian sangat jahat, aku takut."


Carla bersembunyi dibelakang Carlos, menarik bajunya, dengan ketakutan memandang ke kejauhan.


Saat Tuan Besar mendengarkan percakapan antara ketiga anak itu, ia mengerutkan kening sambil menatap Sanjaya dengan penuh isyarat. Sanjaya langsung maju.


"Anak pintar jangan takut, ada kakek, siapapun tidak akan bisa mengusik kalian."


Tuan Besar membungkukkan badan, dengan lembut mengusap kepala Carla.


"Kakek, kita pergi saja." Carlos menarik tangan Tuan Besar, "Kristian adalah teman sekolah kami. Mami dan neneknya sangat jahat, sebelumnya mereka pernah bertengkar dengan Mami, membuat Mami sangat marah."


"Pasti merekalah yang salah." Tuan Besar berlutut merangkul Carlos, "Kalian bertiga memiliki karakter yang sangat baik, Mami kalian pasti orang yang sangat hebat!"


"Betul, Mami orang yang baik." Carles menganggukkan kepala dengan cepat.


"Nenek dan ibu Kristian yang lebih dulu mengusik kami, Mami melindungi kami." Bibir kecil Carla cemberut, ia berkata dengan marah.


"Hari ini ada kakek, siapapun tidak bisa mengusik kalian." Tuan Besar menggandeng tangan mereka, lalu berjalan masuk, "Kita masuk saja!"


"Takut...." Carla bersembunyi dibelakang Tuan Besar.


"Jangan takut, ada kakek." Tuan Besar menggandeng tangannya.


"Kakek, kita pergi saja, kita makan pizza disebelah, aku tidak ingin membuat masalah untuk Mami."


Carlos menarik baju Tuan Besar.


"Anak bodoh." Tuan Besar mengelus kepalanya dengan perasaan sedih.


"Neneknya Kristian akan mereservasi restoran ini, dia pasti bisa mengusir kita keluar, kan?"


Carles mengerutkan kening, raut wajahnya penuh dengan kekhawatiran.

__ADS_1


"Tidak, dia tidak akan bisa mereservasi restoran ini." Tuan Besar mendongakkan kepala.


"Apa? Dibeli orang lain?" Veronica berteriak heran, "Sejak kapan? Dua menit yang lalu masih baik-baik saja. Kenapa tiba-tiba sekarang restoran ini dibeli orang lain?"


"Baru saja." Manajer restoran berkata dengan sopan, "Semenit yang lalu kami mendapat telepon dari pemilik restoran."


"Tapi...."


Veronica hendak melanjutkan perkataannya, namun manajer itu tidak mempedulikannya, ia langsung berjalan melewatinya dan memberi hormat ke Sanjaya.


Sanjaya berbisik kepada manajer, dalam sekejap raut wajah manajer itu berubah. Ia langsung ter buru-buru mengarahkan seluruh stafnya untuk keluar menyambut Tuan Besar dan cucunya.


Tiga puluh enam staf semuanya berbaris dalam dua barisan, mereka membungkukkan badan dan menyapa dengan serempak, "Halo Tuan Besar, Tuan Muda, Nona Muda! Senang bisa melayani kalian!"


Ketiga anak itu saling menatap, mereka semua tercengang.


"Ternyata ketiga binatang liar ini." Raut wajah Veronica muram, "Kalian bertiga bocah kecil, darimana kalian..."


"Tutup mulutmu!" Tuan Besar berkata dengan marah, "Kamu nenek tua dengan wajah penuh keriput, berani bicara kasar pada cucuku, apa kamu sudah bosan hidup?"


Ketika mendengar suara teriakan Veronica, pengawal-pengawal yang tadinya sedang bermain dengan Kristian, tidak tahu apa yang sedang terjadi, mereka langsung berlari menghampiri Veronica.


Satu persatu melipat lengan bajunya, bersiap untuk memulai pertengkaran, namun saat mereka melihat Sanjaya dan para pengawal yang ada dibelakangnya, raut wajah mereka langsung berubah.


"Orang tua ini berani menghinaku, bereskan." Veronica marah sambil menunjuk-nunjuk Tuan Besar.


"Nyonya..." Seorang pengawal berbisik di telinganya, "Dia adalah Tuan Besar dari Grup Wallance!"


Dalam sekejap Veronica gemetar, ia terkejut hingga pucat, lalu ter buru-buru meminta maaf, "Tuan, Tuan Besar?"


"Kenapa? Mau mengusirku?" Tuan Besar menaikkan alisnya.


"Tidak, aku tidak berani..." Veronica tergesa-gesa meminta maaf, "Aku yang tidak menyadari orang besar seperti Anda, mohon lepaskan orang kecil seperti kami...."


"Bagiamana? Apa sudah diperiksa?"


Tuan Besar mengabaikan perkataan Veronica, ia menoleh kesamping menatap Sanjaya.

__ADS_1


"Sudah diperiksa, dia adalah istri dari ketua Grup Miller." Sanjaya menundukkan kepala melapor.


"Grup Miller sudah hancur, tidak disangka masih berani sombong seperti ini." Raut wajah Tuan Besar menunjukkan penghinaan, ia memerintahkan, "Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan?"


"Iya." Sanjaya mengangguk.


"Jangan...." Veronica lemas, ia hampir jatuh ke lantai. "Tuan Besar, mohon Anda lepaskan keluarga kami, ini salahku. Jika Anda mau memukulku, memarahiku, aku terima..."


"Berisik sekali." Tuan Besar mengerutkan kening.


Sanjaya mengisyaratkan beberapa pengawal untuk menyeret Veronica.


Seketika dunia menjadi hening.


Carles dan Carla terkejut dengan mulut ternganga, kesadaran mereka belum kembali.


Carlos merasa tenang, sorot matanya ia masih tidak percaya menyaksikan kehormatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.


"Kenapa, apa kakek membuat kalian kaget?" tanya Tuan Besar.


"Tidak, kakek sedang melindungi kami. Apa kakek seorang raja, sehingga membuat nenek itu takut kepada kakek?" Carles bertanya dengan penuh semangat.


"Hahaha, kakek bukan raja, tapi kalau Carles menginginkannya, kakek akan menjadi raja, dan kalian akan menjadi pangeran kecil."


"Yey, kalau begitu aku akan menjadi seorang putri." Carla mengangkat tangannya yang gemuk.


"Hahaha." Tuan Besar tertawa, dan menoleh kepada Carlos, "Bagaimana denganmu, apa yang kamu inginkan?"


"Aku ingin memiliki kekuatan yang tidak terhingga." Carlos menatap kearah pintu, berkata dengan suara pelan, "Seperti kakek, dimanapun kakek berada, kakek selalu dihormati orang-orang, membuat orang jahat takut. Dengan begini, aku bisa melindungi Mami dan adik-adik!"


"Hahaha, sungguh anak yang baik dengan masa depan yang cerah! Apa kalian tahu? Perkataan yang sama sering diucapkan seseorang kepadaku." Tuan Besar berkata dengan memeluk Carlos.


"Benarkah? Siapa?" Carlos bertanya dengan penasaran.


"Cucuku!" Tuan Besar berkata dengan penuh emosi, "Dia mengatakan ini kepadaku ketika berusia lima tahun, saat itu kakek marasa bahwa keluarga kami akan memiliki penerus."


Tuan Besar mengelus kepala Carlos, menghela napas dan berkata, "Alangkah baiknya jika kalian adalah darah daging keluarga kami!"

__ADS_1


__ADS_2