
Kety sadar betapa seriusnya masalah ini. Ia bergegas menjelaskan, "Presdir Daniel, putriku hanya bersikap impulsif. Biasanya ia tidak berani berbuat onar di tempat Anda. Kami meminta maaf dan akan memberikan kompensasi. Terserah Anda ingin kami bagaimana menggantinya."
"Benar, Presdir Daniel. Anda orang yang bermurah hati, maafkanlah ia kali ini." Frank memahami situasi, bergegas memohon pengampunan.
Daniel mengabaikan mereka, malah melihat Garcia, "Bagaimana menurutmu?"
"Sejak kecil hingga sekarang, aku tidak pernah dipermalukan seperti ini." Garcia tidak bisa memaafkannya, tapi dia harus bersabar, "Tapi ini adalah acara Presdir Daniel. Aku tidak akan bertindak sembarangan... "
Sejenak Garcia berhenti lalu bertanya dengan hormat, "Presdir Daniel, apakah aku boleh membawanya ke kantor polisi? Aku ingin pengacara menuntutnya."
"Jangan, Nona Garcia...... " Kety memohon, "Terserah Anda ingin kami bagaimana meminta maaf, tetapi jangan membawa kami kekantor polisi. Semua orang disini adalah orang besar, apalagi ini acaranya Presdir Daniel. Tidak baik jika tersebar keluar."
Kety tahu betul, Alisia adalah menantu perempuan keluarga Stanley, juga mewakili keluarga besar Stanley. Hari ini, entah seberapa memalukan putrinya di tempat ini, hanya orang dalam saja yang tahu.
Bagaimana pun ini adalah acara Presdir Daniel. Semua masalah akan tertutup rapat-rapat, tidak ada yang berani bergosip di belakang.
Tetapi, begitu masalah ini dilaporkan ke kantor polisi. Garcia akan mencari media untuk menambah-nambahkan masalah.
Dengan begitu, sikap buruk Alisia malam ini akan menjadi topik terpanas dan menjadi bahan tertawaan satu negara.
Pada akhirnya nanti, tidak hanya Stanley, kurasa senior dalam keluarga Stanley pun tidak akan mengampuni Alisia!
Sekalipun Alisia bodoh, ia mengerti dalam logika ini.
Jadi ia tidak berani berbuat apa-apa, menunggu orang tuanya menyelesaikan masalah.
__ADS_1
Sejak kecil hingga besar selalu seperti ini....
"Kamu malah mengingatkanku." Garcia mengangkat alis, "Acara lelang bahkan belum mencapai pertengahan acara, bagaimana bisa mengganggu kesenangan semua orang? Tetapi, jika tidak dilaporkan ke polisi, bagaimana aku menghukum kalian?"
"Kami bisa meminta maaf.... " Kety memohon cepat.
"Sungguh konyol, memangnya aku butuh permintaan maaf dari kalian?" Garcia bergumam, "Setelah menamparku, kau hanya meminta maaf saja? Aku tampar kamu 10 kali, lalu aku meminta maaf kepada kalian, bagaimana?"
"Aku... "
"Ide ini tidak buruk." Daniel tiba-tiba bersuara, "Gunakan metode yang sama sepertinya untuk memberinya pelajaran!"
Garcia mendapat dukungan Daniel, dengan cepat ia berkata, "Boleh saja tidak lapor polisi. Tapi, biarkan aku menamparmu balik. Kamu menamparku 1 kali, aku tampar kamu 10 kali, ini sangat adil!"
"Garcia, kamu jangan keterlaluan...."
Wajah Alisia memerah setelah ditampar Garcia, tubuhnya gemetar penuh amarah hebat. Ia memelototi Garcia dengan berapi-api. Kali ini, Kety tidak berani bicara. Sekalipun hatinya sakit, ia hanya bisa menerimanya...
"Ini satu tamparan." Garcia baru mau lanjut menampar.
"Kenapa menggunakan tangan sendiri? Memangnya tidak sakit?" Daniel tiba-tiba menyahut.
"Benar juga, terima kasih Presdir Daniel." Garcia tersenyum sinis, "Tante Kety, mohon bantuanmu!"
"Kamu... ingin aku menamparnya?" Kety menatap Garcia dengan tatapan tidak percaya.
__ADS_1
"Kenapa? Tidak tega?" Garcia mengangkat alisnya, "Kalau begitu biar pengawal ku saja, tamparan mereka mungkin tidak ringan... "
"Pengawal!"
"Tunggu... " Kety lekas menghentikan, "Ok, aku saja, aku saja."
Setelah berbicara, ia mengangkat tangannya yang gemetar, menampar Alisia dengan ringan...
"Satu tamparan ini tidak terhitung." Ujar Garcia dengan marah, "Harus terdengar suara tamparan, harus ada jejak tamparan di wajah. Kalau tidak, tidak dihitung."
"Kamu... " Kety geram, tapi ia tak berdaya. Hanya bisa menampar Alisia dengan sadis.
"Ma... " Alisia menangis.
"Untuk apa menangis, Mamamu belum mati!" Garcia menyengir, "Bibi Kety, bagus sekali. Silahkan dilanjutkan!"
Kety memejamkan matanya, lanjut menamparnya dengan sadir.
"Dua!"
"Tiga!"
"Empat!"
"...... "
__ADS_1
Garcia berhitung.
Frank sakit hati melihatnya, namun ia tidak berani bersuara. Hanya bisa menundukkan kepala dengan lesu.