
Carlos mendongak, ia melihat sepasang mata dingin dan arogan serta sudut bibir yang terangkat setengah senyum, "Anak kecil, apa kamu pernah mendengar nama Grup Sky Well?"
Tubuh Daniel tinggi dan ramping seperti seekor binatang buas, menatap Carlos yang kecil dan lemah dengan arogan.
Disaat ini, satu besar satu kecil, kedua mata mereka saling bertemu, dan membentuk perbedaan yang kontras.
"Kamu?" Carlos langsung menatap mata Daniel, keningnya berkerut, kedua tangan kecilnya mengepal erat.
"Ah...."
Tiba-tiba Carla berteriak ketakutan, ia segera bersembunyi dibelakang Tuan Besar, tangan kecilnya memegang ujung bajunya. Ia ketakutan hingga gemetar.
"Jangan takut, jangan takut!" Tuan Besar segera melindungi Carla dan menenangkannya dengan lembut, "Carla, ini adalah cucuku. Dia bukan orang jahat."
Setelah berbicara, ia menunjuk Daniel sambil bergumam, "Lihatlah dirimu, kamu menakuti mereka."
"Dia adalah cucu Kakek?" Carlos terkejut.
"Dia, dia, dia...."
Carla ketakutan hingga dia terbata-bata. Ia gemetaran bersembunyi dibelakang badan Tuan Besar.
"Kenapa? Apa tidak mirip?" Daniel menyunggingkan senyuman, tentu saja sebuah senyuman palsu, "Jangan takut, Paman tidak akan menyakiti kalian. Paman akan mengantarkan kalian pulang."
"Tidak usah." Carlos mengernyitkan alis dan memelototi Daniel dengan marah.
"Carlos, kamu kenapa?" Tuan Besar merasa sikap Carlos aneh. Ia segera mendekat membujuknya, "Jangan takut, kalau kamu tidak ingin dia mengantarkan kalian pulang. Biar Kakek saja yang antar."
Setelah itu, ia mengernyitkan kening berbicara pada Daniel, "Lihat, kamu buat anak-anak takut. Tidak perlu kamu antar, aku akan mengantar mereka pulang."
"Aku tidak melakukan apa-apa." Daniel merentangkan tangan tanpa daya, "Apa wajahku tampak menakutkan?"
"Keluar sana, jangan menakuti anak-anak." Tuan Besar mendorongnya dengan kesal.
"Kakek, aku adalah cucu kandungmu."
Daniel kehilangan kata-kata. Pria tua ini, setelah bertemu anak-anak lain, ia mengabaikan cucu kandungnya sendiri. Daniel sangat kesal!!
"Aku menyuruhmu untuk keluar, apa kamu tidak dengar?" Tuan Besar mengangkat tongkatnya ingin memukul Daniel.
"Carlos, Carles, Carla...."
Tepat disaat ini, beberapa suara lembut terdengar. Ternyata Bu Desy, Brenda, dan Guru lainnya mempercepat langkah masuk kedalam kamar pasien....
"Akhirnya bertemu dengan kalian. Kalian menakuti kami."
"Benar sekali, kami telah lapor polisi."
"Bu Desy, Bu Brenda, Bu Vio!" Carla bergegas berlari kepelukan Bu Brenda, "Huhuhu, senangnya bertemu kalian."
__ADS_1
"Kami terus mencari kalian kemana-mana." Brenda memeluk Carla erat.
"Bu Guru, kenapa kalian bisa kemari?"
Carlos melihat para guru dan polisi dibelakang mereka. Alis kecil yang tadinya menegang mulai melonggar, dalam seketika ada rasa aman.
"Bu Guru..." Carles melihat Guru seperti melihat orang terdekat. Ia sangat ingin bangun dari ranjang.
"Jangan bergerak." Bu Desy maju merapat Carles, "Jangan takut, kami datang untuk menjemput kalian."
"Apa sekarang sudah tenang?" Daniel merentangkan tangan kepada Tuan Besar, "Pulanglah dengan tenang, serahkan urusan ini padaku!"
"Setidaknya tidak lalai dalam menangani sesuatu." Tuan Besar memelototinya, "Harus mengembalikan anak ke orang tua mereka dan juga jangan menakuti mereka."
"Wajah cucumu memang mendominasi, apa boleh buat." Daniel tampak tak berdaya.
"Apa kamu tidak bisa tersenyum sedikit? Ramah sedikit?" Tuan Besar berkata dengan kesal, "Kamu selalu berwajah cemberut, mengernyitkan kening. Memangnya anak-anak tidak akan takut padamu?"
"Toh bukan anak-anak ku, untuk apa aku tersenyum pada mereka?" jawab Daniel.
"Sialan, cepat atau lambat aku akan mati dibuat marah olehmu!!" Tuan Besar mengangkat tongkat memukul pantatnya dengan keras, "Kalau kamu bisa melahirkan anak segemas ini, aku tidak perlu mati dengan khawatir!"
Akhirnya anak-anak merasa aman setelah melihat guru dan polisi. Tuan Besar pergi berpamitan kepada mereka. Ketiga anak itu tersentuh memeluk Tuan Besar, lalu berpamitan dengannya.
Paramedis membawa ketiga anak kedalam mobil medis ditemani seorang dokter anak dan tiga perawat. Tiga orang guru mengantarkan mereka pulang bersama.
Mobil polisi memimpin jalan, ditengah ada mobil medis dan mobil Daniel mengikuti dari belakang. Mereka bersama-sama menuju Jalan Bahagia.
Disisi lain.
Setelah Viktor dan Tania meninggalkan Vila itu, kedua orang itu naik mobil menuju Vila taman bergaya Tiongkok milik Tuan Besar dipinggiran utara....
Hati Tania saat ini benar-benar sesak, ia ingin sekali cepat berjumpa dengan ketiga anaknya. Entah apa pun yang terjadi, ia tidak ingin berpisah dengan mereka lagi.
"Jangan cemas," Viktor menggenggam tangan Tania, "Saat kita bertemu Tuan Besar, kita beritahu segalanya pada dia. Ia pasti meminta Daniel melepaskan anak-anak."
"Semoga begitu." Tania menghela napas dalam-dalam. Ia mengalihkan pandangan, lalu membuka ponselnya.
Sebelumnya ketika ia meninggalkan Vila kediaman Viktor, ia mampir dulu kerumahnya untuk mengambil ponsel miliknya yang sudah terisi daya dengan penuh.
Saat ponsel dibuka, Tania terkejut. Berbagai nomor asing dan pesan singkat bermunculan. Ia membaca pesan dari Carlos, ia sangat cemas. dengan segera Tania menelpon balik nomor tersebut.
Tania menelpon nomor perawat itu. Dengan cepat, panggilan tersambung, "Halo."
"Halo, aku adalah Mami Carlos, namaku Tania. Apakah kalian dari rumah sakit prima? Apakah ketiga anakku bersama kalian?"
"Benar, kami dari rumah sakit prima. Tetapi setengah jam yang lalu, mereka sudah dijemput pergi."
"Dijemput? Siapa yang jemput?" tanya Tania cepat.
__ADS_1
"Presdir Daniel." seru perawat itu.
Mendengar ucapannya, Tania merasa ngeri. Anak-anak dijemput oleh Daniel?
Tania sudah tidak mampu menahan kecemasannya lagi, dengan tangan gemetar ia menutup sambungannya, kemudian dengan cepat ia menelpon Daniel.
"Tania, tenangkan dirimu...." Viktor baru saja ingin menutup teleponnya, tetapi panggilan itu sudah tersambung.
"Sudah tahu mencariku?" terdengar suara dingin Daniel.
"Daniel, kamu benar-benar gila!" Tania berteriak marah, "Kenapa kamu menculik anak-anakku?"
Telinga Daniel hampir tuli saat mendengarnya. Ia mengernyitkan kening kemudian menyalakan mode pengeras suara, "Tidak ingin bertemu anakmu? Kalau begitu lanjutkan memarahiku!"
"Kamu...." Tania belum sempat berbicara, telepon sudah dimatikan oleh Daniel. Tania sangat murka hingga tangannya gemetar.
"Tania, tenangkan dirimu." Viktor memegang pundaknya untuk menenangkan.
"Kalau begitu aku harus bagaimana? Harus bagaimana? aku tak bisa tenang." Tania menangis histeris.
"Anak-anak berada di tangannya, jangan bersikap impulsif. Telepon dia dan tanyakan apa yang ia inginkan. Selama ia tidak menyakiti anak-anak, maka apa pun bisa dinegosiasikan."
Tania menarik napas dalam sesuai ucapan Viktor, lalu menelpon Daniel lagi.
Kali ini, telepon berdering lama. Tania menunggu dengan cemas.
Beberapa lama kemudian, akhirnya telepon tersambung....
"Aku mohon padamu, lepaskan anakku..."
Suara Tania gemetar di iringi tangisan, ia rela menurunkan martabatnya memohon kepada Daniel.
"Begini baru benar! Jika memohon harus ada sikap memohon." Daniel menyunggingkan senyuman.
"Apa yang kamu inginkan? Selama kamu melepaskan anakku, aku akan mendengarkan perkataan mu." tanya Tania dengan tercekik.
"Bagus sekali." Daniel tersenyum, "Viktor, ada disebelahmu, kan? Buka mode pengeras suara."
Tania dengan patuh segera menyalakannya.
"Beritahu dia, kedepannya jangan banyak ikut campur antara hubunganku denganmu." Perintah Daniel.
Tania menoleh melihat Viktor, berkata sambil menangis, "Aku mohon padamu, kedepannya jangan pedulikan aku lagi."
"Tania...." Viktor menggertakkan gigi kesal. "Aku sudah dengar."
"Sekarang, bersumpah atas nyawa anakmu.... " perintah Daniel lagi, "Kedepannya fokus jalani perjanjian kita. Tidak pernah melanggar perintah ku, tidak mengkhianatiku dan tidak melawanku!!"
"Daniel, kau keterlaluan." Viktor berteriak. "Kamu akan mendapatkan karma."
__ADS_1
"Ckckck,.... " Daniel mencibir dingin. "Barusan ada yang menyanggupi tidak akan ikut campur. Ini belum satu menit, sudah menyesal? Tampaknya kalian tidak peduli dengan keselamatan anak-anak."