Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius

Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius
Bab 270


__ADS_3

Saat subuh, Tania sedang bermimpi didalam tidurnya. Tiba-tiba, Carla masuk ke kamarnya dan masuk kedalam pelukannya.


"Carla!" Dalam sekejap Tania terbangun, "Mami, Carla sangat rindu padamu!" ucap Carla sambil menciumi wajah Tania.


"Mami juga rindu kamu!" Tania memeluk erat Carla, "Carla anak baik, kedepannya Mami tidak akan meninggalkan kalian lagi."


"Huhuhu, Mami harus menepati janji." Carla mengerucutkan bibirnya, "Jika kedepannya Mami membuang Carla lagi, Carla juga tidak akan menghiraukan Mami lagi!"


"Mami tidak membuang mu, Mami hanya telat datang, tidak berhasil menjemput kalian." Tania menangkup wajah gemuk Carla dan lekas menjelaskan, "Mami minta maaf, jangan marah lagi, oke?"


"Hng!"Carla sengaja memalingkan wajahnya dan cemberut, "Kecuali Mami membuatkan ku bakpao kacang merah, aku baru akan memaafkan Mami!"


"Oke, oke, sekarang juga Mami buatkan bakpao kacang merah." Tania lekas bangkit dari ranjang.


"Mami, Mami...." terdengar suara Carles memanggil, "Kak Carles, cepat papah aku bertemu Mami!"


Carlos memakai sendal lalu membukakan pintu.


"Mami.... " Carles merentangkan kedua tangannya sembari memanggil Tania.


"Mami!" Carlos berteriak dari ruang tamu, "Dokter Denise dan kakak-kakak perawat sudah datang."


Paramedis menyapa Tania dan anak-anak. Tania langsung mempersilahkan mereka sambil menggendong Carla. Paramedis segera berkata, "Carla, Mami kamu masih punya luka di bagian pinggang, tidak boleh mengangkat barang berat."


Seorang perawat maju menggendong Carla dan membujuknya dengan lembut, "Carla anak baik, beberapa hari ini biar kakak yang menjagamu, ya!"

__ADS_1


"Baik!" Carla mengangguk dengan patuh.


Tania menarik dokter Denise dan bertanya, "Bagaimana kamu bisa tahu di pinggangku ada luka?"


"Pak Ryan yang bilang." Dokter Denise menjelaskan dengan suara rendah, "Katanya, pinggang Anda ada luka, tidak boleh melakukan pekerjaan berat. Meminta kami harus ber hati-hati, dan juga hari ini akan mengatur dokter kemari untuk mengobati luka pinggang Anda."


Saat sedang berbicara, terdengar seruan bibi Juli dari luar, "Anak-anak sudah pulang? Carlos, Carles, Carla...."


"Nenek... " Carlos dan Carla bergegas keluar begitu mendengar suara bibi Juli.


Carla seperti bola kecil berlemak yang jatuh kedalam pelukan bibi Juli, ia memeluknya dan bermanja, "Nenek, kami rindu sekali padamu!"


"Carla anak baik, nenek juga sangat merindukanmu." Ia menarik Carla dan Carlos, "Biar nenek lihat, apa kalian terluka? Apa ada yang menindas kalian?"


"Tidak ada, kami baik-baik saja." Carlos langsung memperhatikan lubang jarum dan kain kasa tempat bibi Juli terluka, "Nenek, kamu kenapa? Sakit?"


"Carles didalam kamar, kakinya terluka dan tidak bisa turun ranjang." jawab Carla sambil menunjuk kamar.


"Hah? Carles kenapa?" Dalam seketika bibi Juli merasa khawatir, "Cepat bawa nenek kesana."


"Hanya luka kecil, bibi jangan Khawatir." Tania mendekat dengan mata memerah, ia menarik bibi Juli, "Kenapa bibi pulang? bukankah sedang rawat inap di rumah sakit?"


"Dokter Lily yang mengantarku pulang." bibi Juli menunjuk Lily dan dua perawat dibelakang.


Lily tersenyum sambil berjalan masuk diikuti oleh dua orang perawat, "Hari ini aku kesini untuk mengobati pinggangmu, aku adalah dokter yang diatur oleh Ryan untuk mengobati mu. Sekalian membawa bibi Juli pulang melihat anak-anak." ucap Lily sambil melirik dokter dan perawat yang lainnya.

__ADS_1


"Dan kami juga diutus oleh Presdir Daniel." Dokter Denise segera menimpali.


Bibi Juli hanya mengernyitkan kening melihat adegan itu, ia tidak berbicara sepatah kata pun.


"Nenek, Mami, kalian jangan melupakan aku."


Terdengar suara panggilan cemas Carles dari dalam kamar.


"Hahaha, hampir saja lupa. Carles masih berada didalam kamar, kita kesana temani dia, ya." Tania menarik bibi Juli.


"Baik, baik!" Suasana hati bibi Juli membaik setelah melihat anak-anak.


Satu keluarga berkumpul dikamar anak-anak. Tania kembali ke kamar utama dan Lily segera memeriksa dan mengobati luka di pinggangnya. Sedangkan tiga perawat utusan Daniel, mereka mengambil alis dapur dan juga merawat anak-anak.


"Terima kasih. Bagaimana keadaan bibi Juli?" tanya Tania setelah diperiksa.


Lily tersenyum pahit, "Setelah bertemu anak-anak, mungkin ia akan membaik. Tetapi, bibi Juli memiliki kesalahpahaman terhadap Daniel. Kamu harus bisa menjelaskannya!"


"Aku paham!" Tania mengangkat kepala, "Terima kasih."


"Bagaimana keadaanmu? Kesalahpahaman mu terhadap Tuan Daniel sudah terselesaikan?" tanya Lily.


Tania mengernyitkan kening dan tidak berkata sepatah kata pun. Terselesaikan? Daniel memanfaatkan anak-anak untuk mengancamnya agar ia berputus asa dan runtuh. Bagaimana cara melepaskan simpul runyam ini? Tania sangat takut.


Kedepannya, ia benar-benar tidak boleh memprovokasi Daniel, tidak berani melawan apapun keinginannya.

__ADS_1


Kalau tidak, maka semuanya akan menjadi nyata. Ia tidak bisa melawannya!


"Fyuhh..... " Lily mendesah, lalu berkata lagi, "Aku tidak tahu kenapa kamu memiliki kesalahpahaman yang besar dengan Tuan Daniel!"


__ADS_2