
"Apa?" Bu Desy tercengang.
Tania yang mendengar perkataan ini di telepon, Buru-buru bertanya, "Apa yang terjadi? Ada apa dengan anakku?"
"Seseorang yang berpakaian hitam, perawakannya sangat tinggi, memakai masker dan topi, mengancam mereka dan berlari dari pintu belakang, petugas keamanan telah mengejar mereka..... "
"Cepat kejar!" Teriak Daniel.
"Baik." Ryan buru-buru mengajak orang untuk segera mengejarnya.
Pikiran Tania kacau balau, tangannya yang memegang ponsel pun gemeteran, dengan gelisah berteriak di telepon genggamnya, "Halo Halo, Bu guru, sebenarnya apa yang terjadi?"
"Bu, jangan khawatir, dengarkan saya bicara.... "
Bu Desy dengan panik menjelaskan keadaannya pada Tania.
Tania mendengarnya hingga kedua kakinya lemas dan tersungkur ketanah. Entah kapan teleponnya terputus, Tania mendekap dadanya dan terus mengingatkan dirinya sendiri untuk tenang, tenang, harus tenang.... Sambil buru-buru pulang kerumah, Tania menelpon bibi Juli.
Namun, tidak ada yang mengangkat telepon bibi Juli. Dia ingin melapor polisi, tapi dia tidak tahu siapa orangnya. Jika melapor polisi, apakah penculiknya akan marah dan membuat mereka membunuh sandera?
Saat sedang berpikir tak karuan, bibi Juli menelpon kembali, "Halo, Nona."
"Bibi Juli, kamu dimana?"
__ADS_1
"Saya dirumah. Nona, saya beri tahu kabar baik. Kalau Roxy.... "
Di telepon, saat bibi Juli belum selesai bicara, Tiba-tiba terdengar sebuah ledakan keras. "Bang."
Saat itu juga, teleponnya terputus.
"Bibi Juli, bibi Juli, bibi Juli.... " Tania sungguh sangat panik. Dia berteriak kepada sopir taksi, "Pak, saya mohon, lebih cepat, lebih cepat lagi__ __"
"""""""""
"Kamu..... kamu mau apa?" Bibi Juli dengan tangan yang gemetar mengacungkan sapu kearah orang yang berpakaian hitam di depannya, "Kamu apakan Carles dan Carla?"
Black Tiger membanting Carles dan Carla yang terikat ke atas sofa. Carles menggelengkan kepalanya dan bersuara bermaksud mengingatkan bibi Juli untuk cepat lari.
Carla ketakutan hingga terus menangis. Namun, mulutnya tersumpal, jadi suara tangisnya tidak terlalu besar.
"A... apa?" Sambil mundur, bibi Juli menjawab dengan gemetar, "Kamu mau apa? Jangan macam-macam, rumah saya tidak ada uang, kamu salah merampok."
Dia mengira, orang ini datang untuk merampok.
"Saya tanya, dimana burung beo nya?" Black Tiger bertanya dengan kejam.
"Di.... di... "
__ADS_1
"Orang jahat, orang jahat, orang jahat!" Belum sempat bibi Juli bicara, Roxy yang ada di balkon sudah bersuara.
Black Tiger segera menerobos ke balkon.
"Carles, Carla." Bibi Juli buru-buru melempar sapunya dan melepaskan ikatan Carles dan Carla.
"Nenek, cepat lapor polisi." Begitu membuka lakban di mulutnya, Carles langsung mengingatkan bibi Juli.
"Oh, oh." Bibi Juli dengan paniknya, segera mengambil telepon genggamnya, saat akan menelpon, dari balkon terdengar suara teriakan Roxy. "Ah, tolong__ __"
"Roxy!" Tanpa pikir panjang, Carla langsung menghampirinya. Tangannya yang kecil dan gemuk melambaikan sapu dan dengan suara galak menegur orang yang berpakaian hitam itu. "Lepaskan Roxy ku."
"Carla!" Carles lari menghampirinya. Dengan kepalan kecil, alis terangkat, tampang yang sangat garang, melindungi di depan Carla.
Black Tiger menatap dengan remeh, dia sama sekali tidak takut dengan 2 bocah iblis kecil ini.
Saat dia mengangkat sangkar burung beo dan ingin pergi, Carla memukul kakinya dengan sapu, "Lepaskan Roxy ku, lepaskan dia."
Black Tiger langsung menangkap sapunya dan mematahkannya, juga membuat ekspresi galak untuk menakuti Carla.
"Whoaaaaa..... " Carla takut hingga menangis, wajah kecilnya yang gemuk memerah. Matanya yang jernih bak anggur yang ungu bercucuran air mata, jatuh setetes demi setetes.
"Kurang ajar, berani menindas adikku."
__ADS_1
Carles yang melihat adiknya takut hingga menangis, memukuli Black Tiger dengan tongkat jemuran.
"Bocah tengik, tenaganya kuat juga." Black tiger dipukuli sampai terseok-seok, dengan marah dia berkata, "Kalian semua minggir. Jika tidak, akan ku hajar kalian."