Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius

Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius
Bab 238


__ADS_3

Wajah Lea tiba-tiba menjadi kaku, Daniel dengan jelas membela Tania.


"Oh iya, iya, mari kita makan." Sean segera berkata.


Sean mengundang satu persatu untuk makan dan mengobrol dengan Wina dan Ryan dalam upaya untuk mencairkan suasana yang kaku.


Ryan dan Wina juga memainkan peran mereka.


Daniel duduk di kursi utama dan dengan elegan menyesap anggur merah.


Lea tercengang dengan perkataan Daniel barusan, dan sekarang hatinya penuh amarah, wajahnya sangat jelek, lalu dia mengambil air yang ada di gelas itu dan meminumnya.


"Presdir Daniel, ini anggur merah yang aku jaga selama bertahun-tahun, cicipilah!"


Lalu Sean menuangkan anggur merah kepada Lea, "Presdir Lea, Direktur Toni sebelumnya juga mencicipi anggur ini, dan memujinya, cicipilah!"


"Iya, lumayan." Daniel menyesapnya.


"Pak Ryan, sekretaris Wina, kalian juga harus mencicipinya.... Dan Tania!"


Saat tiba menuangkan untuk giliran Tania, tiba-tiba sebuah kaki terjulur dari bawah meja dan sengaja menyandungnya.


Dia hampir tersandung, lalu berpegangan, dan semua anggur di botol tumpah ditubuh Tania.


"Ah!" Tania berseru dan buru-buru berdiri.


Anggur merah tumpah ke kerahnya, membasahi semua kemeja putihnya, dan dadanya yang terbungkus bra putih menjulang, sehalus dan seindah bunga.


"Maaf, maaf."


Sean buru-buru meminta maaf dan mengambil serbet untuk menyeka dan menyentuh dadanya...


Daniel mengerutkan kening dan menatap dengan dingin...


"Aku bersihkan sendiri." Tania mundur setengah langkah.


"Apa kamu baik-baik saja?" Lea bertanya dengan khawatir, "Astaga, Direktur Sean. Kenapa kamu begitu ceroboh?"

__ADS_1


"Aku... " Sean terdiam, dalam hatinya siapa yang baru saja membuatnya tersandung, tapi dia tidak berani mengatakannya.


"Pakaiannya basah semua, pergi ke kamarku dan ganti baju disana." Lea memerintahkan pelayan, "Antar dia berganti pakaian."


"Tidak perlu.... " Tania tidak ingin memakai pakaian Lea dan tidak ingin di jebak oleh Lea lagi.


"Bajumu sungguh tipis." Lea berkata setengah tersenyum, "Mata Direktur Sean tidak bisa ditarik keluar. Kamu tidak mengganti pakaianmu, apa kamu sengaja ingin dilihat?"


"Ini... " Sean tersenyum canggung.


"Kamu.... " Tania tidak tahan lagi.


"Buka kamar untuknya." Daniel akhirnya berkata, "Siapkan satu set pakaian."


"Baik!" Ryan bangkit, dia ingin melakukannya sendiri.


"Temani dia." Daniel memerintahkan Wina.


"Baik, Presdir Daniel." Wina segera menarik Tania meninggalkan tempat itu.


Pada saat ini, Lea merasa dirinya dipermalukan, "Daniel, bukankah dia hanya sekretaris? Kenapa kamu begitu melindunginya?"


Wajah Sean langsung pucat, segera meminta maaf, "Presdir Daniel, Anda bisa memarahi dan menyalahkanku atas kesalahan yang aku lakukan. Kumohon berikan aku kesempatan!"


Daniel tidak berbicara, dia langsung membanting gelas anggur itu ke lantai.


'Prang' Terdengar sebuah suara yang nyaring, dan gelas anggur itu pecah.


Sean terkejut hingga bergidik, dan langsung terduduk lemas dikursi.


Wajah Lea memucat, bahkan dia tidak berani bernapas dengan suara keras, tangannya yang memegang anggur juga gemetar.


Daniel tidak bicara, tapi tatapannya ada aura pembunuh yang langsung terlihat jelas.


"Bawakan sebotol lagi!" Daniel memberi perintah.


"Baik!" Pelayan segera membawakan anggur merah, dan tindakannya seperti menggantikan Sean.

__ADS_1


Sean berdiri dan membungkuk dengan wajah sedih, "Maaf, aku yang tidak tahu diri. Kumohon agar Presdir Daniel memaafkanku!"


Setelah mengatakan kalimat itu, Sean pergi.


Sean adalah orang yang cerdas, dari tindakan Daniel ini, dapat dilihat bahwa hubungannya dengan Tania tidak sederhana, sehingga bisa membuat Daniel begitu marah.


Maksud dia mengatakan tidak tahu diri, adalah karena tadi dia tidak menyadari hubungan antara Daniel dan Tania ini, sehingga membuat Daniel marah besar.


Sebelum pergi, Sean mengucapkan kata-kata itu berharap Daniel dapat memaafkan dan melepaskannya!


Pemikiran semua orang yang berada di lingkaran bisnis kelas atas, sangat jelas.


Begitupun dengan Sean.


"Bukankah kamu lapar?" Daniel memotong steik sapi sambil berkata kepada Lea, "Masih tidak di makan?"


Lea tidak lagi mendominasi dan angkuh seperti tadi, dia menundukkan kepala dan memotong steik dalam diam.


"Kelak jangan menggoda bawahan."


Daniel berkata dengan santai, lalu memasukkan potongan steik sapi itu kedalam mulutnya.


Tubuh Lea bergidik, gerakan memotong steik sapinya berhenti, dan tangannya sedikit gemetar.


Pelayan membukakan sebuah kamar untuknya, Ryan membawa seorang pelayan wanita untuk membawakan Tania baju ganti.


Setelah Wina menerima baju ganti, dia menutup pintu kamar. Berkata sambil tersenyum, "Presdir memperlakukanmu dengan sangat baik, juga sengaja menyuruh orang membawakan baju ganti, bahkan pakaian dalam juga ada, sungguh perhatian."


Tania duduk melamun disofa, sama sekali tidak mendengar kata-kata Wina.


Wina berjalan kearahnya dan menepuk tangannya, "Pergilah mandi dan berganti pakaian. Kamu begini pasti tidak nyaman."


"Kak Wina, aku ingin pulang." Tania kembali tersadar, "Setelah aku berganti pakaian, kita pulang bersama saja, ya?"


"Aku... " Saat Wina akan berbicara, ponselnya berdering. Dan dia segera menjawabnya, "Pak Ryan. Hah? Kenapa bisa begini? Baik, baik, aku akan segera kesana."


Setelah menyudahi pembicaraan, Wina berbicara dengan suara rendah, "Direktur Sean dikeluarkan dari proyek, aku harus segera kembali untuk menyiapkan dokumen-dokumen baru lagi."

__ADS_1


"Hah?" Tania sangat terkejut, "Direktur Sean adalah wakil presdir senior Grup Top Sky, mana mungkin... "


"Seharusnya kamu tahu alasannya dengan jelas." Wina tersenyum tipis penuh makna, "Sikap Presdir Daniel terhadapmu sungguh berbeda!"


__ADS_2