Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius

Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius
Bab 163


__ADS_3

"Maksudku...." Tania menjelaskan dengan cemas, "Aku akan segera mendapatkan kalung ruby itu kembali, bisakah kamu memberiku waktu beberapa hari lagi?"


"Tidak." Nada bicara Daniel tidak dapat dinegosiasikan, "Aku memberimu tenggat waktu tiga hari. Itu sudah batas maksimal, tidak bisa ditambah lagi."


"Masalahnya Alisia pergi ke luar negeri membawa kalung itu dan sepuluh hari lagi baru kembali... "


"Aku tidak tertarik dengan cerita istri orang lain." Wajah Daniel penuh dengan ketidaksabaran, "Sisa satu setengah hari lagi, carilah solusinya."


"Tapi... " Tania hendak mengatakan sesuatu, tiba-tiba pintu lift terbuka dan Daniel berjalan keluar.


Thomas menundukkan kepala dan memberi hormat kepada Tania, kemudian buru-buru mengikuti Daniel dengan pengawalnya.


Tania berjalan keluar dari lift dengan wajah sedih, sangat cemas, bagaimana ini? Bajingan ini telah memanfaatkan situasi.


"Ryan sudah diantar ke tempat Lily?" Daniel bertanya saat naik mobil.


"Ya, Lily sedang mengobatinya."


Jika dibandingkan dengan Ryan, maka karakter kejam Thomas lebih mirip dengan Tuannya.


"Anak itu payah, hanya memukul beberapa orang langsung ambruk." Daniel bercanda, "Kali ini dia bertumpah darah, jadi biarkan dia istirahat."

__ADS_1


"Baik." Thomas mengangguk, "Sudah ku sampaikan."


Setelah naik mobil, Daniel memutar ponsel ultra tipisnya, tapi matanya tertuju pada Tania yang baru saja keluar dari gedung.


"Tuan Daniel." Thomas melirik Tania dan bertanya dengan lembut, "Apakah menurut Anda, Nona Tania terlihat mirip dengan seseorang?"


"Hah?" Daniel sedang linglung, jadi dia tidak mendengar perkataan Thomas dengan jelas, "Apa yang kamu bicarakan?"


"Oh tidak, tidak ada." Thomas mengganti topik pembicaraan, "Langsung ke bandara?"


"Ya." Daniel menarik pandangannya dan berekpresi suram, "Temui wanita gila itu!"


Tania pulang ke rumah naik MRT dan ketiga anaknya berlari keluar untuk menyambutnya.


Carla melompat ke pelukan Tania terlebih dahulu, melingkarkan lengan satunya dilehernya dan menunjuk ke balkon dengan lengan yang lainnya, kemudian berkata dengan cemas, "Mami, Roxy marah, dia mengunci dirinya didalam sangkar dan tidak mau keluar, bahkan mencabut bulunya sendiri."


"Jelas-jelas sudah melakukan kesalahan, tapi malah seperti itu." Carlos berkata dengan wajah serius, "Mami, kali ini kita tidak boleh memaafkannya."


"Ya, pagi ini dia buang air besar di bubur iga sapi kita, membuat Nenek bersusah payah membersihkan gelang kristal, kami juga harus sarapan diluar, ini keterlaluan."


Carles ingat kejadian pagi hari tadi dan masih marah.

__ADS_1


"Tapi, mencabut bulu juga itu tidak baik. Mungkinkah dia depresi?" Tania sedikit khawatir, "Ayo bawa ke dokter."


"Benar, aku juga berpikir kita harus membawanya ke dokter." Mulut kecil Carla mengecil dan matanya yang besar seperti anggur ungu berkilau karena air mata, "Meskipun aku juga marah padanya, tapi melihatnya seperti ini, aku pun jadi sedih."


"Jangan khawatir, selesai makan kita bawa Roxy ke dokter." Tania mencium wajah kecil Carla dan menghiburnya dengan lembut.


"Kamu terlalu menyayanginya." Carlos menghela napas seperti orang dewasa, "Aduh, kelemah lembutan wanita!"


"Benar, wanita benar-benar merepotkan." Carles mengerutkan mulut kecilnya, "Roxy juga wanita, itu sebabnya dia sangat merepotkan."


"Kalian berdua tidak boleh seperti ini... " Tania berkata dengan sabar, "Roxy juga merupakan bagian dari keluarga kita, saudara kita... "


"Tok, tok, tok!"


Ketika Tania sedang bicara, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu. Dia dengan cepat menurunkan Carla dan pergi membuka pintu, "Apakah bibi Juli sudah pulang?"


Pintu terbuka, seorang kurir berdiri diluar pintu dan menyerahkan kotak hadiah yang sangat indah, "Apakah Anda Tania? Seseorang memberimu hadiah, tolong tandatangani... "


"Siapa yang mengirimnya?"


Tania melihat kartu dan tertulis Daniel. Dia terkejut, bagaimana dia bisa tahu alamat rumahnya?

__ADS_1


__ADS_2