
Daniel mengangkat bahu tidak yakin. Ia lalu menuangkan air dingin dan pelan-pelan menyesapnya.
"Kenapa kamu harus seperti ini?" Tania marah sekali, "Apakah kamu ada dendam dengan ayahku? Jadi ingin mempermainkan ku?"
Mendengar ucapannya, tangan Daniel langsung berhenti. Ia mendongak menatap Tania, "Ada yang mengatakan itu kepadamu?"
"Merasa bersalah?" Tania sengaja memprovokasinya, "Perusahaan ayahku bangkrut, apakah ada hubungannya denganmu?"
Akhirnya ia melontarkan pertanyaan yang selalu ingin ia tanyakan. Walaupun berbahaya, tetapi ia tidak ada pilihan lain.
Bagaimanapun ia tidak punya kemampuan untuk menyelidiki Daniel. Lebih baik langsung berterus terang.
"Siapa yang memberitahumu?" Daniel memicingkan mata menatapnya.
"Kamu tanya begini, berarti semua itu benar?"
Tania tidak bersedia menerima kenyataan ini. Tetapi di lihat dari responnya, tampaknya ia sedikit mendapat jawaban.
"Stanley?" Daniel tidak menjawab, malah bertanya.
"Tidak ada hubungan dengannya." Tania bergegas untuk tidak melibatkan Stanley. "Beritahu aku, apakah kamu yang sengaja mengakuisisi perusahaan ayahku dan membuat Grup Smith bangkrut?"
"Bagus sekali!" Daniel menggoyang-goyangkan gelas anggurnya, "Awalnya ia yang memohon kepadaku, aku sudah melepaskannya. Tetapi ia berani bermain trik kotor kepadaku. Kalau begitu hanya ada satu jalan!"
__ADS_1
Setelah berbicara, ia mengambil ponsel untuk menelepon, "Proyek Stanley berhenti sementara."
"Jangan... " Tania ingin menghentikannya, tetapi Daniel telah menutup teleponnya. "Tidak ada hubungannya dengan Stanley, sama sekali tidak ada." Tania lekas menjelaskan.
"Sedih... ?" Sudut bibir Daniel terangkat, melihatnya dengan tatapan mengejek, "Bagaimana jika kamu taruhan denganku?"
"Apa maksudmu? Apa yang ingin kamu lakukan?"
Hati Tania gelisah, ia merasa pria dihadapannya ini sangat menakutkan.
Daniel dengan santai menyalakan cerutu. Di saat ini, sebuah telepon masuk, "Tuan Daniel, mobil Stanley berhenti di jalur hijau, ia bilang ia ingin mengantarkan barang."
"Biarkan dia masuk." Perintah Daniel dengan murah hati.
Setelah menutup telepon ia mendongak menatap Tania. Matanya bersinar dengan cahaya dingin dan jahat, "Bagaimana, berani taruhan?"
"Apa yang ingin kamu lakukan sebenarnya?" Tania merasakan firasat buruk.
"Nanti juga tahu." Daniel menatap tubuh Tania yang basah, "Pergilah ke kamar mandi, benahi dirimu." Perintah Daniel.
Tania baru sadar sekujur tubuhnya basah kuyup dan transparan, masih meneteskan air. Ia ingin kembali ke kamarnya, tetapi tiba-tiba mendengar suara mobil di luar. Stanley sudah tiba!
Dalam keadaan panik, ia masuk ke. dalam kamar mandi Daniel...
__ADS_1
Saat sedang bersiap-siap, dari luar terdengar Stanley sedang merendahkan dirinya, "Presdir Daniel, ini adalah kalung ruby milik Anda. Maaf, istriku tidak paham dan malah menyinggung Anda. Aku minta maaf mewakilinya!"
"Kenapa berdiri diluar? Masuklah dan duduk." Daniel mempersilahkannya dengan sungkan.
"Terima kasih." Stanley berjalan masuk.
"Keluarlah!" Daniel menghadap kamar mandi memerintah.
Bulu kuduk Tania bergidik, hatinya panik. Tetapi ia tetap memberanikan diri berjalan keluar.
Rambutnya masih basah, tubuhnya terbungkus jubah mandi yang sangat besar. Tampak kebesaran untuk ukuran badannya...
Kelihatan sekali jubah itu bukan miliknya...
Langkah Stanley terhenti, ia menatapnya dengan pandangan yang rumit, tercengang, sakit hati dan kecewa...
"Orang lain jauh-jauh kemari mengantarnya demi kamu, masih tidak bilang berterima kasih?" Daniel menggunakan cerutu menunjuk Stanley.
Tania mengernyitkan kening. Ia sama sekali tidak bicara. Ia tahu, Stanley pasti telah salah paham.
Sebenarnya Tania tidak perlu menjelaskan apa pun kepadanya dengan status mereka sekarang. Hanya saja hatinya frustasi kalau dirinya dijebak dengan sengaja.
"Presdir Daniel, coba Anda periksa kalung ini. Jika tidak ada masalah, aku tidak mengganggu lagi... "
__ADS_1
Saat Stanley sedang bicara, ponselnya masuk sebuah pesan. Setelah melihat isi pesan, ia terkesiap bergegas bertanya, "Presdir Daniel, kenapa tiba-tiba menghentikan proyekku?"