
"Bagus sekali." Sudut bibir Daniel terangkat puas, "Jadi orang harus realistis!"
"Presdir Daniel, bisakah... "
"Antarkan tamu!" Daniel tidak memberikan Stanley kesempatan untuk bicara lagi.
Pengawal masuk ke dalam, mempersilahkan Stanley keluar.
Mata Stanley terus menatap Tania. Hatinya penuh rasa bersalah, tetapi Tania sama sekali tidak melihatnya...
Jika empat tahun lalu, ia di permainkan oleh orang lain. Tapi sekarang, ini adalah pilihan Stanley sendiri.
Tidak peduli seberapa tak berdaya nya, ia tetap membuat keputusan seperti sebelumnya, yaitu melepaskan Tania dan melindungi bisnis ratusan tahun keluarganya!
Empat tahun lalu, mereka adalah sepasang kekasih. Jika Stanley melakukan kesalahan, Tania akan membencinya. Sekarang, mereka sama sekali tidak memiliki hubungan apa-apa. Stanley membuat keputusan ini, Tania sama sekali tidak punya hak menyalahkannya.
Hanya saja, duri yang telah menusuk jantung, tidak mungkin dicabut keluar lagi...
Hubungan kekasih sedari masa kecil, sekarang benar-benar berakhir disini!
"Bagaimana?" Daniel menggunakan kakinya untuk menggosok-gosok kaki Tania dengan bangga dan usil, "Akhirnya sekarang kamu menyerah, kan?"
"Kamu sudah puas?" Tania memelototinya dengan kebencian, "Menghancurkan harapan terakhirku, apakah kamu senang?"
__ADS_1
"Kamu sampai sekarang masih belum sadar?" Daniel menatapnya seperti menatap orang gila, "Orang yang menghancurkan harapanmu adalah Stanley, bukan aku."
Tania tidak ingin bicara dengannya lagi. Ia membalikkan badan dan pergi. Tetapi bajunya di tarik Daniel, dengan sedikit tarikan, ia jatuh dalam pelukan Daniel....
Ia ingin melawan, tetapi kedua lengan Daniel begitu kuat mengapit nya. Ia sama sekali tidak bergerak.
"Lepaskan aku." Tania meronta marah.
"Cobalah bergerak lagi?" Daniel menaikkan alisnya, kemarahannya muncul.
Tania tidak senang, tetapi mau tidak mau jadi penurut. Ia hanya menggunakan tatapannya untuk menyatukan kemarahan.
"Tanda tangan!"
Daniel memberikan surat perjanjian utang kepadanya.
"Kamu sedang beragumentasi denganku?" Daniel tertawa dingin. "Coba pikirkan. Kau yang menghilangkan kalung itu. Tentu saja aku harus mencari mu. Sekarang, kalung itu dibawa pergi oleh Stanley. Kamu bisa menuntutnya atas pencurian, tetapi uangmu padaku masih belum dibayar!"
"Kamu... "
Tania sama sekali tidak melawannya. Siapa yang benar, siapa yang salah. Hanya Daniel yang menentukan. Ia tidak bisa menolak!
"Patuhi aku, tanda tangan... " Daniel menaruh sebuah pena kedalam telapak tangannya.
__ADS_1
Tania sangat marah saat melihat surat perjanjian itu. Ia langsung mencabik-cabik surat itu, "Jangan harap bisa mengendalikan ku. Aku tidak akan termakan jebakan mu."
Setelah bicara, ia melempar potongan kertas ke badan Daniel, lalu bergegas pergi...
Ekspresi Daniel semakin suram, matanya sedingin es...
Tetapi kali ini, ia sama sekali tidak menggunakan kekerasan menghukumnya seperti dulu. Malahan ia membiarkan Tania pergi.
Jika tidak memberinya pelajaran, ia sama sekali tidak tahu ejaan kata 'Mati'.
"Tuan Daniel, Nona Tania... "
"Biarkan saja."
Daniel berdiri dan berjalan ke jendela, ia melihat ke lantai bawah dengan rasa percaya diri.
Wanita bodoh itu sudah mengenakan baju yang ia kenakan saat kemari. Ia tidak membawa apa-apa, pergi begitu saja meninggalkan vila.
Setelah pelayan mendapat instruksi dari Daniel. Mereka tidak berani menghalangi jalan Tania. Semuanya menyingkir membiarkannya pergi.
Ia melangkah keluar dari gerbang halaman vila seolah keluar dari dunia Daniel. Langkahnya agung dan santai seolah seorang prajurit yang berhasil meraih kebebasannya!
Tampaknya ia tahu bahwa Daniel melihatnya dari atas. Tania melambaikan tangan tanpa menoleh seolah sedang berpamitan dengannya.
__ADS_1
Sudut bibir Daniel terangkat menyunggingkan senyuman mengejek. Ia membalikkan badan masuk ke kamar. Menutup gorden elektrik, dan duduk bersandar di sofa menikmati anggurnya.
Tak akan sampai satu jam, Tania pasti kembali memohon padanya...