
Daniel memakai kacamata hitam dan setelan casual berwarna putih cream, dengan tatapan khasnya yang dingin dan sombong.
Bukannya menjawab pertanyaan Tania, dia malah melepas cincin hitam emas di jarinya dan melemparkannya ke kolam renang. Dan dengan dingin memerintahkan, "Ambil!"
"Hah?" Tania tertegun, dia tidak mengerti mengapa Daniel melakukan ini.
"Apa?" Daniel mengangkat alisnya dan menatapnya dengan dingin.
"Pak, apakah saya telah menyinggung perasaan bapak?" Tania bertanya dengan gugup dan cemas. "Jika saya melakukan kesalahan, saya minta maap."
"Ambil atau kamu tidak mau mengambilnya?" Singkat Daniel.
"Saya..... " Tania masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi berpikir dia bahwa dia mungkin bisa kehilangan pekerjaannya. Dia hanya bisa menahannya, kemudian mulai melepas sepatu kulitnya. Dan masuk ke kolam untuk menemukan cincin itu.
Begitu dia masuk ke air, dia menggigil kedinginan......
Hari itu adalah awal musim dingin, air di kolam sangat dingin, disertai dengan angin yang begitu kencang, membuat segala sesuatu menjadi lebih buruk.
Tania gemetar, tetapi ia hanya bisa menguatkan tekad, menggertakkan giginya, dan menyelamkan kepala ke dalam air demi menemukan cincin si iblis itu!
Di kursi santai, Daniel melihat pemandangan ini, dan senyuman kemenangan muncul di bibirnya....
Kolam itu sangat besar, untuk menemukan sesuatu yang sangat kecil, sama sulitnya dengan menemukan jarum di atas tumpukkan jerami.
Tania melingkarkan lengannya di dadanya, menggigil kedinginan. Setelah lebih dari setengah jam dia akhirnya melihat cincin itu.
Dia buru-buru menyelam ke dasar air untuk mengambil cincin itu, dan ketika dia berdiri, sekujur tubuhnya basah kuyup.
Dia menyibakkan rambut panjangnya ke belakang, menyeka air dari wajahnya, dan memegang cincin itu sambil berteriak kegirangan
__ADS_1
"Ketemu!"
Matahari bersinar diatas cincin itu, bersinar terang, melengkapi senyumnya yang lebar dan indah.
Ujung bibir Daniel yang dingin terangkat melihatnya, sambil memainkan jari jemarinya.
Tania buru-buru keluar dari kolam dan menyerahkan cincin itu.
"Pak, ini cincinmu!"
Daniel menatapnya, dan mata dinginnya berangsur-angsur menjadi hangat.......
Meskipun tanpa riasan, tetap tidak bisa menutupi kecantikan alami dan sosok menawan Tania!
Kemeja putih dan rok hitam melekat pada tubuhnya karena basah kuyup, bentuk tubuh yang indah membentuk lekukkan S sempurna, memancarkan aura menggoda dibawah cahaya matahari.
Tania yang menggigil kedinginan saat itu, sama sekali tidak menyadari perubahan ekspresi Daniel sama sekali.
Daniel menarik kembali pandangannya, mengambil cincin itu, dan pergi dengan gagah. Ia hanya menyisakan satu kalimat.
"Ganti airnya lagi, bersihkan, baru boleh pergi!"
Tania melihat punggungnya dan menggertakkan giginya dengan marah.
Apa maksud si iblis ini? Sengaja melemparkan cincin itu ke kolam, hanya untuk menyiksanya?
Apa dia menyinggung perasaan si iblis itu? Tania sangat bingung.
"Ah lupakan, lupakan__"
__ADS_1
Hembusan angin bertiup, Tania pun menggigil kedinginan dan bersin beberapa kali. Dia harus membersihkan kolam dan mengganti airnya lagi.
Ketika selesai, dia mengambil handuk dari kursi santai kolam dan membungkus tubuhnya yang hampir membeku, kemudian bergegas untuk turun.
Di dalam lift, dia meneteskan banyak air dan bersin terus menerus. Ia hanya ingin segera ke ruang ganti untuk mengeringkan pakaiannya.
Tanpa di duga, ia malah bertemu dengan Alex, di pintu masuk lift.
Alex sedang menunggu lift sambil membawa dokumen, dan ketika dia melihat keindahan tubuh basah Tania, matanya terbuka lebar.
"Kamu, apa yang terjadi?"
Tania mengabaikannya dan cepat ke kamar mandi.
Alex mengikutinya......
Ruang ganti di kamar mandi sangat kecil dan biasanya jarang ada yang datang kesana.
Begitu Tania hendak membuka pintu, Alex masuk dan mengunci pintu.
"Apa yang kamu lakukan?" Tania bertanya dengan was-was.
"Tania!" Alex melihat handuk di tubuhnya dan berkata dengan sinis. "Aku tidak menyangka, kamu begitu ambisius, dan benar-benar melakukannya dengan Pak Presdir!"
"Apa?" Tania merasa aneh dengan kata-kata nya.
"Kamu turun dari lantai 68, memakai handuk Pak Presdir, dan berpenampilan seperti ini, bukankah kamu telah melakukannya dengan Pak Presdir?"
Tatapan tajam Alex bergerak naik turun memperhatikan tubuh Tania, dengan tatapan yang membara....
__ADS_1