
Tania meminta bibi Juli untuk menyimpan gelang itu dengan baik, kemudian bergegas turun ke lantai bawah bersama ketiga anaknya untuk sarapan.
Bubur iga sapi yang dimasak bibi Juli hancur begitu saja oleh pembalasan Roxy.
Ketiga anak itu sangat marah dan sepakat untuk mengabaikan Roxy selama tiga hari.
Bus sekolah baru saja tiba dan dia mengantar mereka ke sekolah, kemudian berangkat ke kantor.
Pagi ini, terasa seperti perang...
Meskipun sudah berlari-lari mengejar waktu, Tania tetap terlambat sepuluh menit.
Tapi Wina bahkan tidak punya waktu untuk memarahinya, karena hari ini adalah peluncuran produk baru. Semua orang pergi ke lantai 66 untuk mempersiapkan peluncuran produk.
Hanya ada Tania dan seorang sekretaris di meja resepsionis lantai 68 yang mengawasi pintu.
Tidak ada kunjungan tamu hari ini, Tania menganggur dan merasa belum terbiasa. Dia berdiri di meja resepsionis dan melihat-lihat dokumen kerja, ia ingin banyak belajar menjadi karyawan tetap sesegera mungkin.
Tiba-tiba pintu lift terbuka dan sosok tegap dan tinggi bergegas keluar...
Tania mendongak dan melihat bahwa itu adalah Daniel.
Alisnya berkerut, wajahnya suram, dan api menyala di sekujur tubuhnya, seolah-olah dia akan membakar orang hingga menjadi abu...
Dia gemetaran dan buru-buru menyapa, "Presdir Daniel... "
Daniel bahkan tidak memandangnya, hanya berjalan lurus. Lampu inframerah headset bluetooth di telinganya berkedip, menandakan dia sedang berbicara melalui ponsel__ __
__ADS_1
"Bibi, aku tidak pernah menyinggung mu. Kenapa tiba-tiba kau menyerang sistemku?"
".... "
"Itu ulahnya sendiri." Lanjut Daniel.
".... "
"Aku tidak ingin berdebat denganmu tentang hal ini. Berhentilah sekarang atau jangan salahkan aku jika berbuat kasar!" Daniel menendang kursi sambil berbicara.
Terdengar suara 'Bruk' yang keras, kursi itu menabrak dinding dan langsung patah, serta meninggalkan jejak pada dinding.
Tania gemetar ketakutan, jantungnya berdebar kencang, dan sekian lama baru bereaksi.
Ini adalah pertama kalinya dia melihat Daniel semarah itu, jika barusan kursi adalah orang, pasti sudah mati.
"Oh... " Tania buru-buru pergi ke pantry.
Pintu Presdir dibiarkan terbuka...
Tania berjalan ke arah pintu dan mendengar bujukan hati-hati Ryan, "Tuan Daniel, masih ada waktu setengah jam sebelum konferensi pers, kita masih punya waktu... "
"Tidak masuk akal!" Daniel menggertakkan giginya dengan marah, "Sepuluh tahun yang lalu, dia menandatangani perjanjian darah dihadapan Kakek. Setelah berpisah, kita saling mengembangkan diri masing-masing, tidak saling menyinggung. Sekarang, dia benar-benar melanggar perjanjian dan menyuruh orang untuk merusak sistemku!"
"Tuan Daniel, Thomas sedang membereskannya, seharusnya bisa segera diselesaikan... "
"Omong kosong!" Daniel mendengus kesal, "Tentu saja aku tahu itu bisa diselesaikan, aku marah karena wanita itu melanggar perjanjian... "
__ADS_1
"Ya, ya, Presdir Davina memang terlalu berlebihan. Ini semua karena Anda telah melukai Tuan Billy, Anda hampir membunuhnya..."
"Siapa?"
Perkataan Ryan terhenti karena teriakan keras Daniel.
Tania gemetar ketakutan, ember es ditangannya jatuh dan es batu berserakan dilantai, dia buru-buru berjongkok untuk mengambilnya...
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Daniel menatapnya.
"Aku... "
"Aku memintanya untuk membawakan es batu kesini." Ryan buru-buru menjelaskan, kemudian berjalan kearah Tania untuk membantunya, "Bawa ember es lagi kesini, ini biar aku saja yang bersihkan."
"Oh." Tania pergi tergesa-gesa, hatinya bingung, apa maksudnya barusan?
Dia tidak bisa memahami perang bisnis, tapi tadi dia mendengar nama "Billy."
Mungkinkah Billy adalah orang Daniel?
Jika benar, maka banyak keraguan yang bisa terjawab...
Misalnya, kenapa mereka berdua sangat mirip, mungkinkah mereka berdua kakak beradik? Saudara?
Dan juga soal gigolo datang menjemputnya hari itu, mungkin juga dia sengaja mengaturnya...
Bisa dibilang, Daniel benar-benar adalah 'GIGOLO PELUNAS HUTANG'.......
__ADS_1