
Itu semua adalah restoran mahal yang terkenal di kota Bunaken dan harus memesan tempat setengah bulan sebelumnya. Bagaimana bisa membeli makanan ini dalam waktu setengah jam?
Dia sengaja melakukan ini!
"Ohh.... iya." Ryan berbalik dan menambahkan.
"Jika sarapan belum diantar dalam waktu setengah jam, bersiaplah untuk segera dipindahkan ke departemen kebersihan besok!"
"..... " Tania melongo. Benar-benar ingin memukulnya dan berteriak.
"Aku berhenti kerja!!!!!"
Lidahnya kaku dan kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya....
Pada saat itu Daniel berjalan ke lift, kemudian berbalik dengan anggun dengan menyeringai.
"Aku.... " Begitu Tania baru mengucapkan sepatah kata, pintu lift tertutup.
Dia memejamkan mata erat-erat, menggertakkan giginya, dan memarahi dirinya sendiri di dalam hati karena merasa tidak berguna.
"Tania, Tania, apakah kamu baik-baik saja?" Tanya David.
"Tidak apa-apa, aku seharusnya tidak perlu merendah. Kenapa aku harus membelikan si iblis itu sarapan?" Keluh Tania.
__ADS_1
"Si iblis itu, maksudnya Pak Presdir Daniel?" David tiba-tiba menjadi gugup.
"Jangan sampai orang lain mendengarnya, jangan sebut itu lagi, jika tidak habislah kamu."
"Sekarang aku harus bagaimana?" Tania merengek.
"Mustahil untuk membeli semua itu dalam waktu setengah jam." Seru Tania.
"Aku belum pernah mendengar nama makanan itu." Ucap David sambil memandang Tania pilu.
"Aku belum pernah makan di tempat yang begitu mewah, kami biasanya makan di kantin lantai tujuh." Tambahnya lagi.
"Ada kantin dilantai 7?" Tania terkejut. "Dulu aku makan dikantin lantai 21."
"Sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan!" Ucap Tania dan langsung berlari kearah lift, karena hanya setengah jam waktu yang ia punya.
Tania langsung ke kantin lantai 7 meminta koki untuk masak pangsit, bubur iga sapi dan acar. Kemudian ke lantai 21 untuk membeli kopi. Bagaimana pun, dia membeli semuanya sesuai yang di perintahkan Ryan, semua hampir sama. Dia tidak percaya bahwa si iblis itu bisa merasakan perbedaannya.
Sudah berlalu 21 menit, sisa 9 menit lagi. Tania segera masuk lift sambil membawa sarapan, tapi ketika menekan tombol lift dia menyadari bahwa kartu kerja satpam tidak bisa digunakan untuk naik ke lantai 66.
Dia teringat kemarin pakai kartu Noah, manajer departemen administrasi untuk naik ke lantai 68 membersihkan kolam renang.
Bagaimana ini?
__ADS_1
Awalnya masih ada banyak waktu, tapi sekarang semuanya sia-sia.
Tania ingin meminta bantuan Noah tapi memikirkan bagaimana dia menghindar, membuatnya takut dan hanya buang-buang waktu saja.
Dia mencoba menekan tombol lain, dan ternyata bisa ke lantai 48. Dia bergegas naik ke lantai 48, kemudian menaiki tangga sambil membawa sarapan....
Dari lantai 48 untuk bisa sampai lantai 66, Tania harus menaiki tangga sebanyak 12 tangga, dia berlari sekuat tenaga!
Tania yang sedang flu dengan kaki yang gemetar dan berkeringat deras, terus berjuang ke lantai 66 pada menit terakhir.
Keluar dari pintu darurat, kakinya lemas dan hampir jatuh di pintu ruang rapat.
Saat momen krusial ini, ada sepasang tangan yang menopang nya dari belakang.....
"Upss, terimakasih.. " Tania menoleh dengan nafas terengah-engah dan melihat wajah yang familiar itu.......
Hatinya bergetar dan diam tercengang, wajah tampan Stanley terpaku diam, ketika melihat Tania dan semula yang senyumnya anggun menjadi kaku.
"Pak Stanley." Pengawal di belakangnya berbisik.
Stanley kembali sadar, kemudian buru-buru melepaskan tangannya dan mundur setengah langkah.
Tindakan nya ini membuat Tania sangat sedih, hatinya kacau dan hampir meneteskan air mata. Dia sangat gugup dan bingung ketika merasa Stanley menatapnya.
__ADS_1
Dia mengulurkan kantong plastik dan tangan satunya lagi menyeka keringat dari wajahnya yang panik, kemudian merapikan rambutnya yang acak-acakan.