
Di perjalanan pulang Tania memuji Carlos dan Carles, "Carlos, Carles, kalian melakukan hal yang baik hati ini. Mami bangga sama kalian."
"Mami, Carla adalah adik kami. Menjaga dan melindunginya itu sudah seharusnya!" Carlos menepuk-nepuk dadanya menunjukan sikap pria sejati.
"Hari ini kalau bukan Carlos menghalangiku, aku pasti sudah memukul Kristian." Carles mengepal tangannya, terlihat emosi marah dari raut wajahnya, "Kristian selalu mengganggu Carla, aku sudah berulang kali memperingatkannya, tapi dia tidak pernah menghiraukan ku."
"Dia biasanya selalu menang di sekolah, Kepala sekolah dan guru selalu melindunginya. Teman-teman semua takut padanya, jadi dia pikir apa yang dia lakukan itu semuanya benar." Carlos berkata dengan marah.
"Oleh karena itu, kita harus bisa melindungi diri kita sendiri, tidak boleh menindas orang lain, kalian mengerti, kan?" Tania mengajarkan mereka dengan sungguh-sungguh.
"Kami mengerti, Mami!" Carlos dan Carles mengangguk bersamaan.
"Carla, kamu juga harus bisa melindungi dirimu sendiri." Tania memeluk dan berkata dengan lembut kepada Carla, "Sekarang ada kedua kakakmu yang melindungimu, tapi jika suatu saat mereka tidak ada di sampingmu, bagaimana?"
"Baiklah." Carla cemberut dan mengerutkan kening, dengan tatapan penuh semangat. "Kedepannya aku akan lebih galak lagi, aku tidak akan membiarkan siapa pun menaruh cat di rambutku!"
"Carla, tidak hanya menaruh cat di rambutmu saja." Bibi Juli berkata sambil tersenyum, "Semua hal yang di lakukan orang lain untuk menindas kamu, kamu harus bisa menolaknya!"
__ADS_1
"Iya, Carla mengerti." Carla mengangguk dengan serius.
"Carla anak yang baik." Tania membelai rambut Carla, sengaja mengubah suasana agar terlihat santai.....
"Hari ini kita sekeluarga bersama-sama menghadapi sebuah masalah, karena kerja sama kita, masalah ini dapat diselesaikan dengan baik! Bagaimana kalau kita pergi makan-makan untuk merayakan kebersihan kita?"
"Oke!!" Ketiga anak itu bersorak dengan gembira, "Hidup Mami!!"
Melihat senyum cerah di wajah ketiga anak itu, bibi Juli merasa sangat lega dan bahagia.
Dulu, Tania adalah anak yang di manjakan, didikan dari ayahnya menjadikan dia seorang wanita yang lembut dan baik hati, dengan kepribadian yang sangat baik, dia tumbuh sehat dan bahagia.
Keluarga yang beranggotakan 5 orang itu pun pergi makan pizza dan ayam goreng kesukaan anak-anak, ketiga anak itu makan sampai kenyang dan pulang dengan perut yang penuh.
Tania dan bibi Juli bersama-sama memandikan dan juga menidurkan ketiga anak itu, dan baru selesai pukul 9 malam.
Tania mandi, dan mengeringkan rambutnya dan bersiap untuk tidur.
__ADS_1
Bibi Juli membawakan obat flu dan air hangat untuknya dengan lembut berkata kepadanya, "Jangan hanya ingat kepada anak-anak, Nona juga harus menjaga diri sendiri!"
"Jika bibi tidak bilang, aku pasti benar-benar lupa." Tania segera minum obat flu dan berkata lagi, "Terima kasih, bibi Juli!"
"Nona, apakah Tuan muda Stanley memberitahumu? Mengapa dia menikahi Nona Alisia?" Bibi Juli tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Tidak." Tania menggelengkan kepalanya.
"Kenapa Nona tidak bertanya?" Bibi Juli cemas, "Aku merasa Nona Alisia berbeda dari sebelumnya. Tidak, yang benar adalah dia sudah menunjukan sifat aslinya, dulu aku merasa bahwa dia itu sedang berpura-pura.... "
"Semua sudah berlalu." Tania tersenyum pahit, "Bagaimanapun juga, dia sekarang sudah menjadi Nyonya Stanley, dan sudah melahirkan seorang putra untuk Stanley, jadi mereka adalah keluarga."
Mendengar perkataan itu, bibi Juli menjadi muram. Dia menundukkan kepalanya, dan menghela nafas dalam-dalam: "Sayang sekali, padahal Tuan Muda Stanley dan Nona merupakan pasangan yang serasi..... "
"Itu semua kehendak Tuhan." Sahut Tania, setelah dia berbicara dia pun terkejut.
Dulu, dia sangat tidak suka mendengar orang mengatakan perkataan itu, dia selalu merasa bahwa kalimat itu hanyalah alasan yang dibuat oleh orang-orang yang tidak memiliki kompeten dan pengecut.
__ADS_1
Tapi sekarang, malah dia sendiri yang mengatakan kata-kata itu.
Mungkin karena hidup telah memberinya keberanian, keberanian untuk mulai menerima kehidupan yang selalu berubah-ubah ini.