
Roxy mengepakkan sayapnya dan terbang begitu Tania masuk ke dalam rumah, "Mami, Mami__"
"Nona sudah kembali." Bibi Juli segera menjatuhkan lap pel kemudian berlari, menariknya, menatapnya dengan berlinang air mata, "Nona yang malang, coba saya lihat dimana lukanya?"
"Ini hanya luka ringan, tidak ada yang parah kok... "
Tania ingin memeluk bibi Juli, tapi bahunya sangat sakit, dan ekspresinya tiba-tiba berubah.
"Mami tidak sakit!"
Roxy mendarat di kepala Tania kemudian pelan-pelan menggosok rambutnya dengan kepala hijau kecilnya.
"Roxy." Tania mengangkat tangan kanannya dan menyentuh kepala kecilnya.
"Astaga, cepat duduk." Bibi Juli buru-buru membantu Tania di sofa, "Kasihan, sudah beberapa hari, tapi kenapa lukanya belum sembuh?"
"Tidak apa-apa, lukanya sudah sembuh." Tania berkeringat seukuran kacang polong, "Bibi Juli, ini adalah obat-obatan dan suplemen yang diberikan oleh dokternya bos, tolong simpan, aku mau ganti pakaian."
"Apakah Nona bisa melakukannya sendiri? Biar kubantu." Bibi Juli sangat khawatir.
"Tidak perlu, bus sekolah akan segera tiba didepan gerbang, tolong jemput anak-anak." Tania mengingatkan.
"Oh iya, iya, aku sudah pikun, aku segera turun setelah merapikan barang ini."
Bibi Juli menopang Tania kembali ke kamar, lalu berkemas dan menjemput anak-anak sambil membawa Roxy.
Tania susah payah mengganti pakaian rumah dan hendak minum ketika anak-anak bergegas masuk, "Mami, mami, mami.... "
__ADS_1
"Hei!" Jawab Tania, ketiga anak kecil ini bergegas berlari ke pelukannya yang menyebabkan luka-lukanya terasa sakit kembali.
Tania menahan rasa sakit dengan menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara.
"Astaga, pelan-pelan bocah kecilku." Bibi Juli buru-buru mengingatkan, "Mamimu dia.... "
"Tidak apa-apa."
Tania buru-buru mengedipkan mata memberi isyarat padanya, untuk tidak memberi tahu mereka tentang cederanya.
"Mami, kenapa kamu berkeringat begitu banyak? Apakah Mami sakit?"
Carlos mengamati dalam-dalam sambil mengerutkan alisnya, kemudian dia menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan Tania.
"Carlos, Mami baik-baik saja... " Tania dengan lembut membelai rambut Carlos.
Carles segera memberikan Tania gelas berisi air. Karena dia buru-buru membawanya, sehingga airnya tumpah. Dia segera menangkapnya dengan tangan kecilnya, karena takut air menetes ke ibunya, "Mami minum ya."
"Terima kasih, Carles." Tania sangat tersentuh.
"Mami, Carla seka keringatmu."
Carla berjinjit dan menyeka keringat Tania dengan lengan bajunya, wajah kecilnya penuh ke khawatiran.
"Terima kasih sayang, beberapa hari ini Mami kerja, apakah kalian baik-baik saja?"
"Baik-baik saja!" Ketiga anak itu menjawab serempak.
__ADS_1
Tania merasa lega, tidak peduli berapa banyak kesulitan dan tekanan yang dia alami, selama dia melihat tiga anaknya baik-baik saja, itu sudah membuatnya merasa hidup kembali.
"Ok, sayang. Biarkan Mami istirahat dulu dan ikut nenek."
Bibi Juli beralasan, "Hari ini, nenek akan masak sayap ayam coca cola, kalian bantu nenek, ya?"
"Ok.... " Ketiga anak itu mengikutinya keluar dari ruangan.
Tania mengunci pintu, kemudian melihat dari atas kebawah, dan sadar, pakaian yang baru ia ganti basah oleh keringat lagi.
Dia harus pergi mandi dan berganti pakaian lagi....
Pada saat itu, terdengar ketukan pintu yang keras.
"Siapa?" Bibi Juli berteriak kemudian membuka pintu, "Oh, kenapa Nyonya kesini lagi?"
"Kenapa? Aku tidak boleh datang?" Suara Kety.
Tania buru-buru mengenakan pakaiannya lagi, tapi karena lukanya cukup parah, bahkan sulit untuk mengangkat tangannya, dia hanya bisa pelan-pelan bergerak.
"Nyonya Kety, silahkan pergi. Jangan membuat onar disini... "
"Apakah kamu layak berbicara denganku?" Kety berteriak dengan sombong, "Dimana Tania? Suruh dia keluar."
"Nyonya Kety... "
"Siapa kamu? Kenapa kamu tidak sopan dan membuat onar disini?"
__ADS_1
Anak-anak berlari dari dapur keluar, kemudian menatap Kety dengan tatapan garang sambil bertanya dengan marah.