
Mendengar ucapannya ini, Tania jadi agak ragu. Benar juga, jika Daniel tahu ini akan menjadi masalah besar.
Tetapi, jika Daniel adalah gigolo waktu itu, maka semua ancaman itu tidak berlaku.
Tetapi, ia masih belum bisa memastikan apakah mereka orang yang sama.
Ia tidak berani bertaruh...
Dan juga, meskipun Daniel benar gigolo itu, bagaimana jika kematian ayahnya ada hubungannya dengannya?
Ia belum bisa mengatakan hal ini pada Daniel, terlebih lagi membiarkan ia tahu keberadaan anaknya.
Daniel akan merebut ketiga anak itu...
Semua pertimbangan ini terlintas didalam benaknya, Tania benar-benar gelisah...
Ia tidak mungkin menikah dengan pria Thailand ini hanya untuk menutupi telinga dan mata orang lain, kan?
"Kamu tidak punya pilihan lain." Alisia mengancamnya, "Aku sudah tidak sabar menunggu. Mario sudah membawa dokumennya. Sekarang juga kamu ke biro catatan sipil, daftarkan pernikahan kalian. Aku yang akan mengurus liputan media. Setelah ini, aku tidak akan mempersulit mu lagi."
"Berikan aku sedikit waktu." Tania tidak berani menolak dan juga tidak rela menyetujuinya, "Aku pikir-pikir dulu... "
"Pikir apa lagi? Kamu harus memutuskannya sekarang." Alisia tidak bisa menunggu satu menit pun.
__ADS_1
"Tetapi... " Tania baru ingin bicara, tiba-tiba ponselnya berdering. 'Gigolo' meneleponnya. Tiba-tiba ia seperti bertemu sang penyelamat. "Bukankah kalian hanya ingin aku menikah, agar Stanley menyerah? Jadi, aku tidak harus menikah dengan pria Thailand ini, kan. Aku menikah dengan orang lain saja."
"Siapa yang ingin menikah denganmu?" Alisia jutek, "Kamu kira kamu adalah dewi peri, semua orang bersedia menikahi mu?"
"Aku punya seseorang... " Tania mengambil ponselnya, "Tapi, aku tidak bisa membiarkan dia tahu masalah anakku."
"Terserah." Alisia melambaikan tangan tidak sabaran, "Selama kamu menikah dan mengumumkannya di media. Maka, masalah ini selesai, tapi harus mendaftarkan pernikahan hari ini."
"Alisia... " Kety ingin menghentikannya, tetapi Alisia sudah terlanjur mengatakannya.
"Ok, aku angkat telepon dulu." Tania mengangkat telepon berjalan ke pinggir, "Gigoloku, tolong aku... "
"Kenapa? Ada yang mengejar mu dan ingin membunuhmu?"
Daniel yang berada di seberang telepon buru-buru bertanya. Kali ini karena panik, Daniel lupa menahan suaranya.
"Apa yang terjadi?" Daniel melongo.
"Aku tidak ada waktu untuk menjelaskannya, pokoknya hari ini aku harus mendaftarkan pernikahan. Kamu jawab saja, bisa membantuku atau tidak?"
Tania sedang mengujinya. Jika ia adalah Daniel, maka ia sekarang di Negeri Elang. Tidak bisa langsung ke kota Bunaken.
"Aku di luar kota. Beberapa hari lagi bisa."
__ADS_1
Ternyata, jawaban gigolo sesuai dengan yang ia perkirakan.
"Di kota Elang, kah?" Tanya Tania mengujinya.
Gigolo di seberang telepon terdiam sesaat, "Di Swiss!!" Jawab Daniel.
"Oh... "
Tania sudah yakin 80% bahwa ia adalah Daniel, ia lanjut mengujinya. "4 Milyar yang kamu berikan itu tidak cukup."
Ya, sebelum Daniel pergi ke Negeri Elang. Dia memberikan uang yang sangat besar kepada Tania, untuk membeli rumah baru.
"Apa maksudmu?" Gigolo tampak bingung, "Apanya 4 Milyar?"
"Kamu mengaku saja, sebenarnya kamu adalah... "
"Sudah belum? Aku tidak punya waktu bermain-main denganmu."
Suara desakan Alisia terdengar, memotong pembicaraan Tania.
Di seberang telepon, Daniel memicingkan matanya, "Ada yang sedang mengancam mu?"
"Tidak apa, nanti malam aku hubungi kamu." Tania mematikan telepon. Ia membalikkan badan, "Untuk sementara aku tidak bisa menghubungi orang itu. Lebih baik berikan aku waktu beberapa hari lagi, jika aku ingkar, terserah kalian saja!"
__ADS_1
"Kamu kira kita tidak punya cara untuk menghadapi mu?" Gumam Alisia marah, "Jika kamu berani memainkan trik lagi, percaya atau tidak aku akan segera menyebarluaskan rahasiamu itu."
"Silahkan saja." Tania lanjut bicara, "Jika Daniel tahu aku punya anak, dan dia menginginkanku lagi. Kau harus ingat, Stanley tidak membenciku. Jika kamu memaksaku, aku benar-benar akan pergi untuk mengandalkan Stanley!"