Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius

Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius
Bab 204


__ADS_3

Mengingat hal ini, tangan Tania melunak. Alih-alih mendorongnya, ia balas dendam dengan menggigit bahu Daniel sekeras-kerasnya...


Ia tampak telah menggunakan seluruh kekuatannya.


Tetapi, Daniel tidak merasa kesakitan sama sekali, ia tidak melawan dan tidak mendorongnya. Malah membiarkannya menggigit dirinya.


Setelah bibirnya merasakan rasa darah, Tania baru berhenti. Menatap Daniel tanpa menunjukan kelemahan.


"Bagus sekali... "


Daniel sangat menyukai energi liarnya, ia meremas pipinya dan menggosok lembut bibirnya dengan ibu jari. Di bibir itu ada noda darahnya.


Ada hasrat gelap didalam matanya, tenggorokannya berkedut sedikit, ia berbicara dengan suara serak, "Malam ini, aku akan membereskanmu baik-baik... "


Setelah mengatakan itu, ia hendak mundur....


Daniel bukanlah orang yang serakah dengan cinta dan melupakan urusannya.


Tetapi, Tania mana mungkin menghilangkan kesempatan ini, ia bergegas merangkul lehernya dan menciumnya dengan panas...


Daniel terdiam, tubuhnya mematung disana.


Ciuman Tania seperti api dan badai hujan. Ia canggung, namun ia bersikap antusias dengan berani.


Ia melakukan segala kemungkinan, mencium bibirnya seperti biasa Daniel menciumnya. Hanya ini satu-satunya cara untuk menahannya...


Agar Daniel tidak menginterogasi Kety dan Frank...


Agar rahasia anak-anaknya aman terlindungi...


Tetapi Tania tidak tahu, ia sekarang sedang bermain api.

__ADS_1


Dengan segera, hasrat keinginan yang ditahan Daniel melonjak karenanya. Ia tidak bisa mengontrol diri lagi. Sekali lagi tubuhnya menekan Tania, sambil menciumnya dengan lancang, tangannya bergerak naik turun...


Walaupun Tania sangat ketakutan hingga gemetar, tetapi ia tetap berkoordinasi dengan antusias.


Dengan cepat, mereka berdua terjalin seperti simfoni cinta yang memainkan ikatan cinta dan benci...


Tania ingin membuka kemeja melihat pinggang belakangnya, namun tangannya ditahan oleh Daniel.


Lalu, Daniel memberinya hukuman yang lebih ganas dan liar.


Tania sama sekali tidak memiliki tenaga untuk memriksanya lagi...


Tetapi, tindakan pencegahan Daniel juga menunjukkan bahwa dirinya telah melakukan sesuatu yang tidak ingin diketahui.


..........


Penyiksaan ini berlangsung hingga malam hari. Tania benar-benar lelah, ia tertidur diatas sofa mobil.


Satu batang rokok habis terbakar, lalu membuka sedikit celah jendela mobil, "Pulang." Perintah Daniel kepada Ryan.


"Hah? Tidak jadi interogasi?" tanya Ryan.


"Tidak! Kurung suami istri itu untuk beberapa hari. Lepaskan mereka saat mereka kelaparan setengah mati, agar mereka mengingat baik-baik pelajaran ini!"


"Baik." Ryan menyampaikan perintah itu kepada pengawal lainnya.



Tidak tahu entah sudah tidur berapa lama, akhirnya Tania terbangun setengah sadar.


Ia menyadari dirinya telah kembali ke vila Daniel. Ia berada di ranjang besar yang biasanya ia tiduri, tubuhnya pegal-pegal.

__ADS_1


Ia membalikkan badan masih ingin melanjutkan tidurnya. Tetapi, tiba-tiba dibenaknya terlintas berbagai masalah, interogasi, kebenaran, rahasia...


Ia tiba-tiba terbangun kembali mencari ponselnya disegala tempat...


"Cari apa?"


Suara familiar terdengar, kemudian sosok itu muncul dari kegelapan. Ia berjalan mendekat dengan membawa aura penindasan, yang membuat orang tak nyaman.


"Cari, cari ponselku."


Tania kalang kabut melihatnya, kenapa dirinya bisa tidur begitu saja?


"Disana." Daniel menunjuk bantalnya.


Tania mengangkat bantal dan menemukan ponselnya, ia mencoba mengaktifkannya. Tetapi sayang ponselnya mati.


Ia langsung panik seketika, apakah teleponnya mati karena ditelepon terus-terusan.


"Ada beberapa telepon, aku bantu kamu untuk menjawabnya." Daniel berbicara dengan tenang, "Alisia tidak akan berani mengganggumu lagi, tidurlah dengan tenang."


Setelah berbicara, ia hendak pergi...


"Tunggu." Tania memanggilnya, "Kamu, kamu sudah menginterogasi Kety?" tanya Tania gelagapan.


"Menurutmu?" Daniel membalikkan badan melihatnya, pandangannya ruwet, "Ada rahasia apa yang tidak boleh ku ketahui?"


"Aku... " Tania gugup gemetaran.


Daniel melihat Tania yang gemetar dan khawatir. Matanya melihat kebawah sambil berbicara, "Mereka tidak layak untuk menghabiskan waktuku."


"Maksudmu, kamu tidak pergi?" tanya Tania ragu-ragu.

__ADS_1


Daniel pelan-pelan mendekatinya, suaranya menjadi lebih serak, "Kamu begitu berapi-api, mengikatku dan tidak melepaskanku. Bagaimana bisa aku pergi?"


__ADS_2