Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius

Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius
Bab 148


__ADS_3

"Itu bisa membunuhnya." Tania bereaksi setelah menyadarinya, dan segera menarik lengan Daniel, "Lepaskan dia!"


Pandangan Billy mulai kabur, tangan yang berontak itupun mulai lemah...


Akhirnya, amarah dimata Daniel perlahan mereda, dan dia melepaskan tangan kanannya.


Billy terjatuh ke tanah.


Daniel menggendong Tania kedalam mobil, kemudian mengendarai mobil dengan cepat.


Dibelakang, Ryan dan anak buahnya membereskan sisanya. Kemudian berkata, "Bawa Tuan Billy ke rumah sakit."


"Baik."


...........


Di dalam mobil, Daniel melepaskan jaketnya dan melemparkannya kepada Tania, alisnya mengerut dan dari matanya terlihat dia masih sangat marah.


Rok Tania robek, setengah dadanya terbuka, dan dia merasa malu.


Dia menundukkan kepalanya, menggigit bibir bawahnya, dan tidak berani mengatakan sepatah kata pun, sampai dia ingin mencari lobang dan bersembunyi disana.


Dia merasa sangat bodoh, salah mengenali orang, dan hampir saja membuat kesalahan besar.


Daniel membawanya ke Hotel Phoenix.


"Untuk apa kamu membawaku kesini?" Tania bertanya dengan takut dan tidak tenang, "Kamu tidak mungkin ingin... "


"Diam!" Daniel menghentikan mobinya.

__ADS_1


Manajer menyambutnya dan membuka pintu mobil seperti yang dia lakukan terakhir kali, dan menyapa dengan hormat: "Kamar telah dirapikan, dan semua yang Anda pesan telah disiapkan."


Daniel menggendong Tania turun dari mobil dan berjalan memasuki lift.


"Aku mau pulang."


Tania berbicara dengan suara pelan, dan ketika menatap mata dingin Daniel, dia segera menutup mulutnya.


Mereka memasuki kamar presidential suite yang mereka masuki empat tahun lalu.


Daniel melemparkannya kedalam bathtub sama seperti terakhir kali.


Tania tersedak beberapa teguk air sama seperti sebelumnya, dia duduk dengan malu, menyeka air diwajahnya, dan napasnya terengah-engah.


"Bersihkan dirimu."


Setelah dirinya tenang, dia mulai mandi dengan perasaan sedih.


Tidak tahu kenapa, ketika berada bersama si gigolo asli, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak patuh, ia menjadi penurut....


Lagipula dia tidak menyakitinya, jadi lebih baik dia menurut.


Setelah selesai mandi, Tania keluar, di luar gelap, hanya lampu darurat yang menyala.


Tania mengulurkan tangannya dan menyalakan lampu, tapi lampunya tidak bisa dinyalakan. Dia merasa ketakutan dan memanggil dengan pelan: "Gigolo.... "


"Aku disini." Terdengar suara dengan pelan dari sudut jendela.


Tania terkejut dan menolehkan kepalanya, dan dengan samar-samar melihat Daniel terbungkus handuk duduk diatas sofa, memegang gelas bir yang ada ditangannya.

__ADS_1


"Kenapa lampunya tidak nyala? Apakah rusak?"


Dia mengulurkan tangannya, meraba-raba dan berjalan dalam kegelapan, tapi tanpa sengaja dia menabrak meja, hingga lututnya sakit dan mati rasa.


"Kamu babi, ya?" Daniel bertanya sambil meminum bir.


Tania mengerutkan bibirnya, dan merasa kesal. Meraba-raba dan akhirnya sampai disampingnya.


Dia tidak memakai topeng, dalam cahaya redup, wajahnya terlihat samar-samar dan seperti memiliki perasaan tidak asing yang tidak bisa dijelaskan.


Dia dengan santai menyalakan remot kontrol, dan segera mematikan lampu darurat dikamar itu. Agar identitasnya tetap terjaga!


Gelap gulita, tidak ada cahaya diruangan itu, kecuali cahaya dari matanya yang bersinar.


Tania mulai panik, dan pindah kesisinya tanpa disadari, kakinya tersandung sofa, seluruh tubuhnya kehilangan keseimbangan dan dia jatuh diatas badannya.


Dadanya terasa panas, dan tubuh kecilnya terasa seperti sedang disetrika.


Dia buru-buru mencoba untuk bangun, tapi terjatuh lagi diatas badannya, kedua lengannya bertumpu pada bahunya, dahinya memukul dagunya, kepalanya sakit mati rasa.


Dia masih ingin bergerak, tapi tiba-tiba Daniel memegang pinggangnya dan memperingatkannya dengan dingin: "Jangan bergerak sembarangan!"


"Oh... " Tania mengangkat kepalanya, dan perlahan menatapnya.


Dalam kegelapan, dia tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas, tapi satu, dia hanya bisa merasakan suatu perasaan yang tidak asing.


Selain itu, aroma yang tidak asing dalam dirinya, membuatnya merasa nyaman.


Tubuhnya, tanpa disadari menjadi penurut dan bersedia untuk mendekat...

__ADS_1


__ADS_2