
"..... "
Tania terdiam, jelas-jelas pelakunya ada dihadapannya. Tetapi, ia tidak bisa bertanya, dan malah diserang balik!
Ia menggertakkan giginya dengan dongkol, dalam hati memarahi dirinya yang tidak berguna...
"Sudahlah, aku harus pergi ke rumah sakit menjenguk Kak Viktor. Jaga dirimu, sampai jumpa!"
Garcia berbicara dengan sungkan, dan menutup teleponnya.
Tania yang memegang ponsel gemetaran. Garcia menyembunyikannya cukup dalam. Dulu ia sama sekali tidak mengetahuinya.
Viktor memang kebetulan sakit atau memang ada yang melakukannya dengan sengaja?
Jika demi menghancurkan dirinya, Garcia melakukan sesuatu kepada Viktor, maka ia benar-benar mengerikan.
Tapi, ada satu hal yang Tania yakini.
Garcia sekeluarga mengandalkan Viktor untuk bertahan hidup, ia tidak mungkin mencelakai Viktor...
__ADS_1
Atau mungkin hanya alergi kecil biasa, menyebabkan demam dan diobati di rumah sakit.
Lalu, ia mengambil ponsel Viktor di kesempatan ini...
Viktor selalu polos dan sederhana. Ia tidak banyak pertimbangan, ini normal. Selama ia aman, maka tidak masalah...
Tetapi, jika sekarang tidak mencari pertolongan Viktor, siapa lagi yang bisa membantunya?
Tania panik...
'kring kring kring'
Ponselnya tiba-tiba berdering, bunyi suara itu agak mendadak di dalam keheningan ini.
"Tania, sudah lihat berita, 'kan?" suara Alisia terdengar dingin, ada rasa kepuasan setelah balas dendam, "Sekarang kamu sudah tahu, 'kan? Akibat mencari masalah denganku."
"Dasar orang gila, kenapa harus melakukan hal ini?" Tania meraung murka, "Bukankah kita sudah berjanji dua hari? Batas waktu belum tiba, kenapa kamu mengekspos semua data itu di internet?"
"Kenapa? Hahaha... " suara tawa licik Alisia terdengar menakutkan, "Kamu malah tanya kepadaku kenapa? Video kamu berhubungan intim di mobil dengan Stanley tersebar di internet. Aku di tertawai orang lain dan dipaksa Stanley untuk cerai. Kamu malah tanya aku kenapa?"
__ADS_1
"Sama sekali bukan seperti itu, orang itu bukan aku... "
"Cukup!" Alisia menyela ucapan Tania, ia mengutukinya, "Aku muak dengan kemunafikan mu itu. Kamu berpura-pura polos di depan semua orang, menipu sekelompok pria agar terpesona denganmu. Sebenarnya kamu itu lebih licik daripada orang lain."
"Alisia, dengarkan aku. Orang itu bukan aku, semalam aku pergi dengan Viktor... "
"Jangan bicara lagi. Aku tidak ingin mendengar kebohonganmu." Alisia sama sekali tidak mendengar ucapannya, "Kamu sengaja menuruti perkataanku. Setelah itu, kamu pergi merayu suamiku untuk berhubungan denganmu. Dasar wanita jala** hina. Aku ingin sekali membunuhmu!"
"Kamu menelepon ku hanya untuk memakiku?" Tania menarik napas dalam menenangkan dirinya, "Seharusnya kamu ingin bernegosiasi denganku, 'kan?"
"Kamu... "
"Alisia, sini biar aku saja." Telepon diambil oleh Kety, "Tania, aku beritahu kamu, kami belum mengekspos tiga anak haram itu, karena kami ingin memberimu satu kesempatan lagi!"
"Aku tahu, katakanlah. Kalian ingin apa?"
Lubuk hati Tania sangat tahu, sekalipun reputasinya sudah rusak, tetapi masalah anaknya belum terungkap. Selama mereka berhenti tepat pada waktunya, menyuap media dan menarik berita itu. Maka tidak akan mempengaruhi anaknya...
Ia tidak masalah dengan dirinya, tetapi jangan sampai anaknya ikut menderita!
__ADS_1
"Sekarang juga kamu menikah dengan pria Thailand itu. Dan kamu harus menyatakan secara terbuka di publik, lalu bawa tiga anak haram mu ke Thailand... "
Setelah menyatakan ini, tak lupa Kety menambahkan, "Kamu jangan cemas, kami akan memberimu uang dan memberimu rumah di Bangkok, agar kamu dan anakmu bisa hidup di Thailand tanpa kekurangan!"