
"Apakah harus terluka parah?" Alisia berteriak dengan marah.
"Karena kedua belah pihak tidak setuju, mari kita lihat cctv." Tania berdiri, " CCTV terpasang di beberapa sudut kelas, lihat cctv saja pasti kita tahu kebenarannya."
"Ini... " Bu Lucy agak keberatan.
"Bu Lucy!" Tania marah ketika melihat Kepala Sekolah__
"Anda bahkan belum melihat cctv, kenapa sudah menyimpulkan bahwa anakku memukul orang lain dan merusak mobil? Karena tidak ada bukti, kenapa anakku harus dihukum? Apakah karena pihak lain adalah kaum bangsawan? Apakah sekolah ini hanya dibuka untuk orang kuat dan berkuasa?"
"Bu, apa-apaan ini? Bu Lucy berkata dengan dingin, "Jika menurut Anda sekolah ini tidak bagus, silahkan keluar."
"Benar." Alisia mencibir, "Karena kita adalah saudara, jika anakmu putus sekolah, maka aku malas menuntutnya. Anggap saja uang ganti rugi 160 juta adalah uang sedekah."
"Ganti rugi? Ganti rugi apa?" Tania membantah. "Anakmu lah yang memecahkan jendela mobil, kenapa kami yang ganti rugi?
anakmu yang mengecat rambut putriku, ini belum aku perhitungkan. Malah meminta anakku putus sekolah? Seharusnya anakmu yang putus sekolah?"
"Apakah kamu sendiri melihat kalau anakku mengecat rambut putrimu?" Alisia segera berdiri.
"Kenapa kamu tidak bertanya kepada putramu?" Tania menatap Kristian.
__ADS_1
Kristian mengangkat kepalanya dengan angkuh, tapi ketika dia melihat mata tajam Tania, dia merasa agak takut.
"Kris, katakan padanya bahwa kamu tidak melakukanya!" Alisia memeluk putranya dan berkata dengan agresif, "Jangan khawatir Mami ada disini, siapapun tidak bisa menyalahkanmu."
"Mami, aku... " Kristian bicara dengan ragu.
Pada saat itu pintu ruang Kepala Sekolah terbuka, bibi Juli membawa Carla masuk kedalam.
"Mami!" Ketika Carla melihat Tania, dia langsung berlari ke pelukan ibunya.
Mata Carla yang besar seperti anggur ungu itu, dipenuhi dengan air mata dan isak tangis nya membuat orang merasa iba__
"Mami, Kristian mengecat rambutku, nenek sudah berkali-kali mencuci rambutku, tapi tetap saja tidak bersih. Apakah aku harus potong rambut?"
Tania buru-buru memeluk Carla dan menghiburnya, "Carla sayang, jangan takut ya. Mami akan cuci lagi dirumah, pasti bisa hilang."
"Iya." Carla terisak sedih, wajah kecilnya yang merah muda dan lembut penuh dengan air mata membuat orang merasa iba.
"Carla jangan nangis.... " Kristian buru-buru turun dari sofa dan berjalan kearahnya, "Aku hanya bercanda denganmu, bukan membulimu... "
"Kris!!" Alisia buru-buru menutup mulut putranya, agar tidak bicara lagi.
__ADS_1
"Hah!" Tania mencibir dan melihat Bu Lucy, "Apakah Anda dengar itu?"
Bu Lucy salah tingkah, tidak tahu harus berbuat bagaimana.
Bu Anita berkata dengan pelan, "Saya sudah tanya siswa lain, dan memang Kris yang mengecat rambut Carla.
Kris tidak sengaja, dia hanya ingin bermain dengan Carla, tapi diabaikan. Jadi dia menggunakan cara ini untuk menarik perhatiannya.... "
"Diam!" Bu Lucy menyela dan memarahinya, "Pak Stanley adalah Presdir sekolah kita dan putranya adalah VIP. Jika kita membuatnya marah, maka sekolah kita akan ditutup."
"Bagus, jika Anda tahu."Alisia berkata dengan dingin, "Pokoknya hanya bisa pilih salah satu dari kami, Anda pikirkan saja!"
"Nyonya Alisia, tentu saja Anda lah yang menetap." Bu Lucy segera berkata lagi, "Bu Tania, saya minta maaf. Saya akan mengembalikan uang sekolah. Anda dapat mencari sekolah lainnya.... "
"Bu Lucy..... "
"Tidak boleh!"
Sebelum Tania selesai bicara, Kristian tiba-tiba menarik tangan Alisia kearah Bu Lucy dengan cemas, "Jangan biarkan Carla pergi!"
"Kris... "
__ADS_1
"Jika Carla pergi, aku tidak mau sekolah."
Kristian berteriak kepada Alisia dengan nada tinggi.