
"Aku tahu." Viktor tersenyum, "Tadi aku bertemu dengan para guru dibawah dan aku berbicara dengan mereka. Tampaknya ada cerita lain dari masalah ini."
"Iya." Tania mengernyitkan kening, "Aku juga sangat tidak yakin..."
"Tidak penting." Viktor mengalihkan pembicaraan, "Yang terpenting adalah kamu dan anak-anak aman."
"Iya." Tania tidak ingin menyelidikinya lebih dalam. Lebih baik melindungi keamanan anak dahulu, masalah lain bisa dibicarakan nanti.
"Aku pergi, ya. Jaga dirimu." Viktor menatap Tania lebih dalam. Saat ia hendak meninggalkan dan jalan kearah lift, langkah kakinya lagi-lagi terhenti. Ia menoleh, "Tania, sebenarnya kamu bukan tidak ada jalan keluar!" ucap Viktor.
"Apa?" Tania tidak paham maksudnya.
"Jika kamu benar-benar tidak tahan lagi, ada orang yang bisa membantumu." Viktor berkata dengan tulus, "Coba kamu pikirkan..... "
Setelah berbicara, ia masuk kedalam lift...
Tania mengernyitkan kening dan tampak bingung. Setelah ia menutup pintu dan membalikkan badan, tiba-tiba ia teringat surat peninggalan ayahnya...
Ayahnya pernah bilang, jika benar-benar ketemu jalan buntu, boleh menelpon negara Maple ini.
Entah apa pun yang terjadi, orang itu pasti membantu Tania!
__ADS_1
Benar juga, kenapa ia melupakan hal ini?
Jika kedepannya bertemu bahaya, Mungkin bisa menggunakan cara ini. Tetapi.....
Tania lagi-lagi teringat, ayahnya berulang kali mengingatkan didalam surat itu bahwa ia hanya boleh menghubungi orang itu dalam keadaan terpaksa. Karena begitu dihubungi, seluruh kehidupannya akan memasuki perubahan baru....
Barusan Viktor mengisyaratkan, seharusnya orang ini yang dimaksud.
Tampaknya ia tahu isi surat ini.
Hati Tania mulai berat lagi saat mengingat hal ini. Sekilas saat ini ia tidak peduli, sekarang selesaikan dulu masalah di depan mata.
*****
Dikediaman rumah Daniel.
Daniel mengenakan jubah tidur, duduk diatas balkon. Ia menyesap alkohol sambil melihat langit berbintang.
Ryan melapor dari samping, " Nona Tania sudah pulang. Bu Desy, Bu Brenda dan lainnya juga sudah pergi. Hanya tinggal paramedis untuk menjaga mereka seseuai perintah Anda. Itu... "
Setelah beberapa jeda, Ryan bicara dengan hati-hati, "Viktor keatas mengantar Roxy. Setelah berbicara dua menit, ia langsung pergi tanpa masuk ke rumah. Aku rasa ia, sudah tahu akibatnya kali ini, kedepannya tidak akan mengganggu Nona Tania lagi."
__ADS_1
"Ya." Daniel merespon sembari menyesap alkohol. Ketika gelas alkohol itu habis, "Jangan sampai Tuan Besar tahu identitas asli ketiga anak itu." Perintah Daniel.
"Baik." Ryan menganggukkan kepala lalu berkata lagi, "Tetapi jika ketiga anak itu menghubungi Tuan Besar langsung, aku juga tidak mampu mengendalikannya. Tuan Besar membelikan jam tangan telepon untuk mereka, serta meninggalkan nomor teleponnya..."
"Kamu tidak perlu pedulikan hal ini." ucap Daniel dingin, "Dibandingkan denganku, Tania lebih tidak ingin Tuan Besar tahu bahwa ia adalah ibu dari anak-anak itu."
"Iya juga." Ryan menghela napas, "Waktu sudah malam, Anda istirahatlah lebih awal."
Daniel mengintruksikan tangan untuk mundur, lalu Ryan menundukkan kepala dan meninggalkan tempat itu.
Daniel masih sedang meminum alkohol, tetapi matanya malah menatap ponsel...
Tidak ada pesan, tidak ada telepon, tidak ada apa pun.
Wanita ini, setelah bertemu anak dan mengetahui kebenaran dari para guru di sana, bisa-bisanya ia tidak meminta maaf menangis kepadaku?
Kemana hati nuraninya?
Atau mungkin, ia masih mencurigai ada konspirasi tersembunyi dalam insiden ini?
Wajah Daniel murung memikirkan hal ini. Dalam hatinya ia memaki Tania, dasar wanita tidak tahu berterima kasih!!
__ADS_1