
Tania bermimpi buruk. Dalam mimpi itu ada seekor singa sedang menatapnya, mengendus-endus tubuhnya, menjilati lukanya seolah-olah akan memakannya kapan saja. Di dalam mimpi itu, ia bergidik ketakutan...
Rasa takut itu terus menghantuinya. Hingga ia terbangun dari mimpi buruknya. Seluruh kepalanya penuh keringat dan sekujur tubuhnya menggigil.
Dalam cahaya redup ada sepasang mata sedang melihatnya. Ia seperti singa itu. Ia menoleh secara spontan dan ketakutan, bergegas bangkit dari ranjang.
"Sudah bangun?" Daniel duduk di sofa, menopang dagunya dengan anggun dan menatap Tania.
Tania memeluk bantal duduk di atas ranjang, ia terengah-engah ketakutan.
Beberapa saat kemudian, kesadarannya kembali, "Brengsek, kenapa kamu harus memperlakukanku seperti ini?" tanya Tania dengan marah.
"Masih belum cukup?" Daniel menaikkan satu alisnya.
Sekujur tubuh Tania menegang. Ia tidak berani sembarangan bicara lagi. Daniel berdiri dan mendekat pelan-pelan...
Tania ketakutan hingga beringsut mundur. Daniel meraih pergelangan kakinya dan menariknya. Tania ditarik hingga terhenti di bawah tubuh Daniel...
Seperti postur di dalam mimpi. Ia diselubungi oleh binatang buas dan sedang menghadapi tatapan kematian. Seolah akan menerkamnya kapan saja!
"Sakit?"
Daniel mengelus lembut luka Tania yang sudah diperban, suaranya lembut bagaikan cahaya bulan...
Tetapi, itu juga membuat orang ketakutan...
Tania tidak berani bicara, ia melebarkan mata besar dan jernihnya, menatap Daniel dengan tatapan rumit. Ia tidak paham, kenapa sikap Daniel suka berubah-ubah....
Detik sebelumnya bisa hangat bagaikan api, detik selanjutnya ia langsung berubah dingin dan kejam....
__ADS_1
Sebenarnya, ia orang seperti apa?
"Patuhi perkataanku... " bibir tipis Daniel mengusap lembut pipi Tania dan berbisik di telinganya, "Kamu sendiri tahu, begitu aku memberi perintah. Dalam 10 menit, aku bisa mengetahui seluruh rahasiamu."
Kemudian, ia meremas dagu Tania dan menggunakan ibu jari mengusap Tania.
"Tapi, aku ingin kamu mengatakannya sendiri!"
Suara Daniel benar-benar lembut, matanya melengkung. Sungguh lengkungan mata yang indah.
Penampilan yang tampan dan menawan ini, membuat Tania tertegun seketika...
Ia seperti menggodanya, itu bukan perintah ataupun ancaman. Tania hampir saja terpesona, hingga ia meremas dagunya dengan kuat.
Detak jantungnya berdebar cepat seolah sedang melompat-lompat. Ia membuka mulut secara refleks, namun ia tidak bicara sepatah kata pun...
Apa ia sungguh akan memberitahukan tentang anaknya?
"Soal matematika semudah itu tidak bisa? Aku akan mengurung mu di ruang rahasia untuk intropeksi. Tidak makan tiga hari."
"Bahkan kamu tidak bisa mengalahkan gurumu? Bagaimana bisa kamu menjadi anakku? Gantung dirimu! Lakukan pelatihan iblis."
"Menangis lagi? Aku paling sebal dengan anak yang suka menangis. Jika kamu menangis lagi, aku akan menyegel mulutmu!"
Tubuh Tania bergidik gemetar, sekujur tubuhnya berkeringat dingin membayangkan hal-hal ini.
Orang seperti Daniel sedikit-sedikit mengurung orang di ruang rahasia. Sedikit-sedikit menatap orang lain dengan tatapan menyeramkan. Sedikit-sedikit berlaku kejam, ia sama sekali tidak pantas, menjadi seorang ayah.
Selain itu, kematian ayahnya kemungkinan ada hubungannya dengan Daniel...
__ADS_1
Tidak bisa, tidak boleh memberitahu dia.
Tetapi, meskipun dirinya tidak bicara, cepat atau lambat ia akan segera tahu.
Bagaimana ini?
Bagaimana ini?
Tania sedang panik, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia melihat ke segala arah mencarinya.
Sedangkan, Daniel dengan terampil mengeluarkan ponsel Tania dari balik bantalnya....
Panggilan itu dari Viktor!
Tania terkesiap, ia lekas mengulurkan tangan merebut ponsel itu dan ingin menjawabnya...
Tetapi ia dapat merasakan tatapan dingin Daniel. Ia tidak berani menjawab, jari panjang Daniel menggeser layar menjawab telepon itu, tak lupa mode pengeras suara dinyalakan...
Tangan satunya lagi meremas dagu Tania, memberinya instruksi untuk bicara...
Tania berbicara 'Halo' dengan terpatah-patah. Terdengar suara cemas Viktor dari seberang telepon, "Tania, kamu dimana? Apa kamu baik-baik saja?"
"Viktor, aku.... "
"Mami, Mami, Mami!"
Ucapan Tania tiba-tiba di sela oleh suara panggilan ketiga anaknya.
Ia tertegun seketika. Seluruh tubuhnya terdiam membeku di tempat.
__ADS_1
"Mami, kamu dimana? Cepat kembali, Carla kangen Mami, huhuhu... "