
Tania gelisah mendengarnya. Tak disangka dalam dua hari ini, Anak-anak mengalami banyak kejadian dan bertemu Daniel di rumah sakit.
Tetapi jika ini salah kenyataan, berarti Tuan Besar seharusnya tidak tahu identitas anak-anak. Tabrakan itu juga hanya sebuah kecelakaan.
Berarti Daniel tidak menculik anak-anak, hanya saja tak sengaja mengetahui Tuan Besar menabrak Carles, lalu sengaja memanfaatkan kesempatan ini mengancam dirinya.
Tetapi, ini kebetulan sekali?
"Mami, Mami.... "
Suara panggilan Carles menghentikan lamunannya.
Kesadarannya kembali, "Semua salah Mami. Jika Mami tidak telat, Carles tidak akan tertabrak mobil. Kalian juga tidak perlu menderita sebanyak ini." Ucapnya dengan rasa bersalah.
"Mami jangan bicara seperti itu." Carlos mengulurkan tangan kecilnya mengelus wajah Tania dan menenangkannya dengan lembut, "Mami harus kerja dan menjaga kami. Mami sudah sangat menderita, sudah seharusnya kami berbagi beban denganmu."
"Iya, iya. Benar kata Kak Carlos." Carles menjentikkan jarinya dan berkata dengan malu, "Kalau bukan karena aku ingin bermain, berlari ke dalam hutan mengejar kucing, maka tidak terjadi kecelakaan... "
"Semua salah aku. Aku yang melihat kucing itu terlebih dahulu."
Carla mengatupkan mulut kecilnya, wajah kecilnya yang tembem menunjukkan dua lesung pipit yang menggemaskan.
"Jadi, kedepannya Mami tidak boleh telat. Kalian juga tidak boleh mengabaikan keamanan demi bermain." Tania dan anak-anak saling berintropeksi diri, "Kedepannya, kita harus menjadi lebih baik, oke?"
__ADS_1
"Oke." Ketiga anak menjawab serempak.
"Kalau begitu sekarang kita diskusi dulu. Apakah nanti kalian akan menghadiri perjamuan makan malam kakek itu?"
Tania berkomunikasi dengan lembut, tetapi dalam hati, ia malah berpikir ia itu adalah kakek buyut kalian, kalian satu generasi.
"Mami, aku ingin pergi." Carla berbicara dengan suara imutnya, "Kakek sangat baik pada kami, aku suka kakek!"
"Benar, aku juga suka kakek." Carles menyahut.
"Mami, apa Mami khawatir cucu besar kakek akan bersikap jahat?" Carlos melihat petunjuk itu dan bertanya dengan penuh perhatian. "Dia bos Mami, kan?"
"Ugh..." Tania tertegun, lalu bereaksi, "Benar, ia adalah bos Mami...."
"Dia yanga mengantarkan kalian pulang?" Tania merasa sangat aneh.
"Benar." Anak-anak menganggukkan kepala.
Dalam benak Tania terlintas adegan Daniel dan anaknya saling bertemu. Seharusnya wajahnya yang dingin dan keras seperti biasanya, dengan postur menolak orang ribuan mil jauhnya.
Iblis itu, aneh jika anak-anak tidak takut padanya.
"Mami, kakek sangat baik terhadap kami. Kami sangat menyukainya." Carlos berkata dengan penuh perhatian, "Tetapi, jika Mami tidak ingin kami dekat dengan kakek bos Mami, maka kami tidak akan pergi."
__ADS_1
Mendengar perkataan ini, Carles dan Carla menundukkan kepala dengan lesu.
Carles diam-diam mengutak-atik lego didepannya, ia mengacaukan pesawat luar angkasa yang sudah disusun tadi saat didalam kamar.
Sedangkan Carla menutup mulutnya dan memainkan jarinya, air matanya hampir mengalir keluar...
Tania melihat mereka tampak sedih dan tidak tega, tetapi ia tidak berharap mereka terlalu dekat dengan Tuan Besar, "Carlos, Carles, Carla, Mami tahu ini akan membuat kalian sedih. Tapi karena beberapa alasan, Mami berharap kalian dapat.... "
'Ting tong'
Terdengar suara bel pintu dari luar, lalu terdengar suara seorang perawat, "Tuan Besar, Anda sudah datang!"
Mendengar ucapan ini Tania langsung panik. Astaga, Tuan Besar malah datang kesini!!!
Kalau mereka bertemu akan gawat....
"Aku datang menjemput anak-anak, juga ingin bertemu kepala keluarga. Aku ingin minta maaf langsung kepadanya."
Terdengar suara Tuan Besar.
"Kakek.... " Carla berlari keluar.
"Carla!" Tania lekas menahannya, "Jangan keluar dulu!"
__ADS_1
"Mami..." Mulut Carla mengerucut, dalam seketika air mata mengalir dan menatap Tania dengan sedih, "Mami, aku ingin bertemu kakek."