Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius

Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius
Bab 234


__ADS_3

Tania hanya terdiam, tapi wajahnya sangat jelek.


Apa yang harus di cemburukan, memang dia seharusnya tidak cemburu.


Tapi saat Daniel yang cemburu, dia seperti singa yang mengaum, menakutkan dan melakukan hal itu. Hubungan di ranjang!


Apa aku tidak boleh marah?


"Wajahmu seperti katak!"


Daniel mencubit wajahnya yang bengkak, membungkuk dan menggigit bibir merahnya yang mengerucut.


"Huh__" Tania mendorongnya dengan kasar.


"Coba aku lihat, apa kamu terluka bakar?"


Daniel mengulurkan tangan dan mengangkat rok, hendak memeriksa pahanya...


"Daniel!"


Tiba-tiba terdengar teriakan Lea dari luar, membuka pintu ruang rapat dibuka...


Daniel tiba-tiba menarik tangannya, meluruskan pinggangnya, dan menendang kursi presdir...


Kursi presdir meluncur dengan anggun, Tania hampir jatuh, untungnya dia memegang sandaran tepat waktu.


"Aku mencarimu ke mana-mana, apa aku bisa duduk-duduk diruang kantormu?" Lea masuk sambil tersenyum.


"Tentu saja."


Daniel membuat isyarat dengan anggun, lalu berjalan keluar bersama Lea.


Lea menatap Tania dalam, dan dengan tatapan yang begitu dingin.


Tania duduk di kursi sambil menatap punggung mereka dan menggertakkan gigi mengutuk di dalam hatinya: Bajingan!!!


Rekan-rekannya kembali bekerja, Tania sekuat tenaga menahan suasana hatinya yang tertekan dan terus membereskan dokumen.


Setelah beberapa saat, Wina masuk dan memerintahkan, "Tania, bersihkan ruang kantor Presdir."


"Aku... " Tania berpikir ragu.


"Cepat bawa lap dan pel."

__ADS_1


Setelah Wina selesai memberi instruksi, dia pergi dengan ter buru-buru.


Tania terpaksa ke ruang alat untuk mengambil alat kebersihan, lalu ke ruang kantor presdir.


Saat mendekati pintu, Tania bertanya-tanya apakah dia akan bertemu Daniel dan Lea...


Tepat ketika dia hendak mengetuk pintu, Ryan keluar dan melihatnya agak canggung, "Tania.... "


Tiba-tiba dia mengubah kata-katanya, "Ada apa?"


"Kak Wina memintaku untuk membersihkan ruang Presdir." ucap Tania melewati Ryan.


Daniel duduk disofa membelakanginya dan disamping ada Lea yang mendekatinya dengan senyum seperti bunga, berbisik di telinganya...


Mereka berdua sangat akrab dan mesra.


Hati Tania tiba-tiba panik, membuang muka, lalu menundukkan kepala dan berkata, "Karena takut mengganggu, aku akan kembali nanti." Tania hendak pergi.


"Tunggu!!"


Terdengar suara wanita yang merdu.


Ryan memejamkan matanya, sepertinya akan terjadi masalah.


Ryan menatap Tania dengan bingung, Tania menunggu selama dua detik, tapi Daniel tidak bersuara.


Akhirnya, dia pun masuk sambil membawa alat pembersih.


Lea duduk di samping Daniel agak berjarak, anggur merah tumpah di meja kopi dan karpet, tepat dihadapan mereka.


Tania mendekat dan menyeka bekas tumpahan anggur merah dengan lap sambil berjongkok.


Lea menatapnya dari atas sampai bawah dan bercanda: "Daniel, persyaratan penampilan luar sekretaris di perusahaanmu benar-benar semakin baik."


Meskipun penampilan Tania yang sederhana tidak merias wajah dan hanya mengenakan pakaian biasa, itu saja sudah membuat Tania terlihat memesona.


Kecantikannya seperti ini begitu natural dari lahir dan ada aura padanya yang tak terlukiskan!


"Iya, lumayan!" Daniel menjawab dengan santai.


Tania merutukinya dalam hati: 'Aku lumayan?'


Sementara itu, kamu masih terobsesi padaku, suka cemburu lagi?

__ADS_1


"Tapi, karakternya agak kurang... "


Lea menambahkan kalimat lain, terdengar santai tapi terlihat jelas ada makna permusuhan.


Tania berhenti sejenak, menahan amarah di hatinya, lalu tanpa berbicara dia terus membersihkan ruangan.


"Ada lagi disini."


Lea mengenakan sepatu hak tingginya yang runcing menunjuk noda dibawah kakinya.


Tania terdiam, jika dia mendekat sama saja dia berlutut padanya.


"Kenapa? Apa kamu tidak ingin membersihkannya?" Lea mencibir dan mengangkat alisnya.


Tania tidak tahan dengan penghinaan seperti ini, ini membuat Tania semakin tidak nyaman.


Daniel sama sekali tidak mengatakan apa pun, dan tak berniat membantunya.


"Aku saja, aku saja." Ryan buru-buru mendekat.


"Ryan, bagaimana aku bisa merepotkanmu untuk masalah sepele ini?" Meskipun Lea berbicara kepada Ryan, tapi matanya tertuju pada Tania, "Sepertinya tanganmu sangat berharga ya, aku memintamu, tapi kamu tidak melakukannya?"


Dengan menahan amarah di hatinya, Tania berbalik badan dan memegang kain pel, secara tidak sengaja, kain pel yang penuh noda itu jatuh di kaki Lea.


"Kotor sekali!" Lea berdiri dengan jijik dan menginjak tangan Tania.


"Ah__" Tania menjerit kesakitan.


Sepatu hak tinggi delapan sentimeter setipis paku dan punggung tangan Tania diinjak, darah mengalir...


Daniel tidak bisa tinggal diam lagi, dia berdiri dan mendorong Lea menjauh, lalu mengangkat Tania.


"Daniel!!" Lea jatuh di sofa dan menatap Daniel tidak percaya.


Daniel berbisik kepada Tania, "Apa kamu tidak bisa membersihkannya? Cepat pergi!"


Tania mengangkat kepala dan menatapnya dengan mata yang jernih penuh air mata, tapi dia tidak mengatakan apa pun, mengambil alat pembersih, lalu pergi dengan marah...


"Benar-benar keterlaluan. Daniel, kualitas sekretarismu sangat rendah!" Lea sangat marah.


"Apa kamu perlu menginjak tangannya?" Daniel bertanya balik.


Lea tertegun sejenak dan menjelaskan dengan enggan, "Tidak, aku tidak sengaja menginjaknya, siapa suruh dia meletakkan tangannya disana... "

__ADS_1


"Ayahmu seharusnya mengajarimu untuk bersikap baik pada orang lain." Daniel mengerutkan kening dengan sedih, "Sekarang bukan zaman feodalisme, tidak ada konsep tuan-budak seperti dulu, masyarakat sekarang menekankan kesetaraan untuk semua orang!"


__ADS_2