
Tania tercengang, dia berkata, "Tidak, tidak apa-apa."
"Apa yang terjadi?" Daniel bertanya lagi.
"Tidak apa-apa, aku akan menutup telepon...."
Tania sangat kacau, dia tidak memedulikannya.
"...."
Diujung telepon, Daniel tidak menyangka bahwa Tania langsung menutup teleponnya. Padahal, dalam hatinya dia hanya mengkhawatirkan Tania, si wanita bodoh itu!
Dia mengingat kembali ucapannya tadi, dan mengerutkan kening...
"Tuan Daniel..... Tadi Lily memberitahuku, Bibi Juli yang berada dirumah Tania sekarang berada dirumah sakit, karena itulah, mungkin suasana hatinya tidak baik...."
Ryan berkata dengan hati-hati karena melihat raut muka Daniel yang suram, tapi omongannya segera dipotong oleh Daniel.
"Apa itu ada hubungannya denganku?" Daniel balik berkata dingin, "Apa aku yang membuat Bibi Juli sakit?"
"Bukan, maksudku...."
"Diam!" Daniel memelototinya lalu mengambil kunci mobil dan keluar.
........
Dirumah sakit.
Carlos masih menunggu dipintu unit gawat darurat dengan panik, tubuh kecilnya sudah sedikit sangat lelah.
"Apa kamu lapar?" Tuan Besar memberinya sebuah hamburger dan segelas jus, "Aku meminta orang untuk membuatkan makanan vegetaris bergizi dan mengantarnya kesini, tapi mungkin butuh sedikit waktu, kamu makan ini dulu untuk mengganjal perut."
"Tidak perlu, terima kasih."
Carlos melirik hamburger, perutnya berbunyi, wajah kecilnya langsung memerah.
__ADS_1
Mana mungkin dia tidak lapar? Biasanya pulang sekolah pukul 3:30, dia makan camilan dulu, lalu pukul 6 baru makan malam.
Namun, hari ini dia tidak makan dan tidak minum membuatnya sangat kelelahan sampai seluruh badannya tidak bertenaga. Wajah kecilnya pucat, bibirnya kering, sesekali menggunakan lidah kecilnya untuk membasahi bibir.
"Makanlah." Tuan Besar membelag hamburger itu menjadi dua bagian, "Aku tidak bisa menghabiskan hamburger yang begitu besar. Anggap saja, kamu sedang membantuku!"
"Baiklah." Carlos menerima hamburger itu, berpura-pura sedikit terpaksa dan berkata dengan dingin. Dia tidak ingin menunjukkan kelemahannya didepan orang tua ini, "Orang tua jangan terlalu banyak makan makanan seperti ini, tidak baik dicerna."
"Benar." Tuan Besar tertawa, "Cepat makanlah!"
"Anda makanlah dulu, aku mau pergi mencari Carla."
Carlos menelan air liur saat melihat hamburger, tetapi sama sekali tidak memakannya, berjalan kearah lift sambil membawa hamburger dengan hati-hati.
Tuan Besar sangat penasaran, dia mengikutinya diam-diam tanpa bersuara....
Carlos tiba di bangsal lantai bawah, mencari perawat dan meminta gelas sekali pakai, mengambil air hangat, kemudian membawa air dan hamburger itu ke bangsal untuk mencari Carla.
Saat ini, Carla berbaring dan tertidur diranjang, ada seorang perawat yang menemainya di samping.
Carlos tidak ingin membangunkannya lagi, memberikan air dan hamburger itu kepada perawat, lalu berkata dengan pelan: "Kakak Perawat, setelah adikku bangun, tolong suapi dia!"
Diluar pintu, Tuan Besar sangat terharu melihat adegan ini, ternyata anak ini mengantar hamburger untuk adiknya.
"Kamu membelinya untuk adikmu?" Perawat menerimanya, "Adik, usiamu baru 3 tahun, kan? Sudah bisa menjaga adik, hebat sekali!"
"Aku seorang Kakak, sudah seharusnya menjaga adik." Carlos membusungkan dada, sangat bertanggung jawab, "Kakak Perawat, bagaimana kondisi adikku? Apa parah?"
"Tidak parah! Tenang saja, adikmu baik-baik saja, dia hanya butuh istirahat saja, maka akan sembuh." Perawat berkata dengan lembut sambil berjongkok.
"Mamiku bilang, kalau mengalami radang amandel, seharusnya makan makanan lembut dan hambar, harus minum banyak air, dan juga makan sayur..." Carlos melihat Carla dengan rasa bersalah, "Tapi, sekarang aku tidak bisa menghubungi Mami dan Nenek, juga tidak punya uang untuk beli beli bubur untuk Adik. Adik malam ini belum makan, pasti lapar.
"Umh..." Perawat merasa terharu sampai matanya berair, dia segera menepuk bahu Carlos dan berkata, "Adik,,kamu jangan cemas, Kakak akan menjaga Adikmu dengan baik, Kakak akan memesan bubur dan meminta orang mengantarnya kesini. Setelah adikmu bangun, Kakak akan menyuapinya."
"Terima kasih, Kakak." Carlos membungkuk pada perawat tersebut, lalu mengeluarkan sebuah buku cerita dan memberikannya padanya, "Aku berikan ini padamu sebagai jaminan. Setelah Mamiku datang, dia akan membayar uang bubur padamu."
__ADS_1
Mata Tuan Besar memerah, tangan yang memegang tongkat sedikit gemetar.
Carlos sudah menyentuh bagian yang terlembut didalam hatinya. Dia benar-benar tidak menyangka, seorang anak berusia tiga tahun, malah begitu bertanggung jawab, mengerti untuk berterima kasih, benar-benar luar biasa!
"Tidak perlu..." Perawat segera menolak.
"Mohon diterima." Carlos sangat memohon.
Perawat terpaksa menerimanya untuk sementara, dia memberikan setengah hamburger yang ada disampingnya, "Adikmu tidak bisa makan hamburger dan minum jus, kamu makanlah, seharusnya malam ini kamu belum makan, kan?"
"Hemm... " Carlos menerima hamburger, menelan air liur, tetapi tidak memakannya, melainkan membungkusnya dengan hati-hati, lalu memasukannya kedalam tas, "Aku simpan dulu, setelah Carles bangun, aku akan berikan padanya."
Saat melihat sampai di sini, air mata Tuan Besar mengalir tak terbendung lagi....
Malam ini, dia dibuat sangat terharu oleh seorang anak kecil.
"Siapa Cerles itu?" tanya perawat tadi.
"Adik laki-lakiku. Dia mengalami kecelakaan, sedang diobati." Mata Carlos memerah, suara sedikit tercekat, "Aku tidak melindunginya dengan baik. Seharusnya aku menarik tangannya dengan erat, dengan begitu, dia tidak akan berlari dan mengejar kucing, juga tidak akan tertabrak mobil."
"Jangan cemas, dia akan baik-baik saja." Air mata perawat tersebut mengalir, ia segera menyeka air matanya dan membujuk, "Kamu lapar, kan? Kakak belikan makanan untukmu."
"Tidak perlu." Carlos menolak.
"Tapi..."
"Aku mau pergi melihat Carles." Carlos menyela perawat tersebut, membungkuk lagi padanya, "Tolong jaga Carla dengan baik, terima kasih."
"Baik, baik, aku pasti menjaganya dengan baik. Kamu tenang saja!" perawat menyeka air matanya.
"Terima kasih." Carlos berbalik dan pergi.
Tuan Besar buru-buru bersembunyi di belakang lemari yang ada disampingnya, menjulurkan kepala, melihat Carlos secara diam-diam.
Carlos berjalan keluar bangsal, mencari perawat lain untuk meminta sebuah gelas sekali pakai lagi, pergi ke dispenser, minum tiga gelas air hangat secara berturut-turut, bersendawa, lalu pergi ke lantai atas.
__ADS_1
Tuan Besar sangat terharu sampai berlinang air mata, tangannya gemetar dan perlahan-lahan naik ke lantai atas dengan tongkat.