
Tania tercengang, ia membeku.
Hingga pelayan didepannya menutup pintu ruangan itu. Ia berusaha mengedip-ngedipkan mata dan mencurigai apakah dirinya salah lihat...
"Tania!" Viktor keluar memanggilnya.
Tania bergegas masuk kedalam ruangan dan menutup pintu. Ia berkata dengan gemetar, "Barusan aku melihat... "
Teleponnya berdering sebelum ucapannya selesai, ternyata Alisia yang memanggil.
Ia mengernyitkan kening sambil menjawab panggilan itu, "Halo."
"Dimana kamu?" Alisia langsung bertanya padanya.
"Aku makan diluar, kenapa?" Tania mengernyitkan kening.
"Alamat, kirimkan padaku." Alisia menunjukan sikap agresif.
"Kamu gila, ya... " Tania baru saja ingin bicara, tiba-tiba terdengar sambutan pelayan dari luar, "Selamat datang di Restoran Lime."
Mendengar suara itu, Alisia yang berada di seberang telepon langsung meledak.
"Bagus ya kamu, Tania. Katanya dalam dua hari ini kamu akan mencari pria dan menikah. Ternyata kamu malah pergi menggoda suamiku, mengajaknya keluar. Dasar wanita jala** rendahan tak tahu malu, tunggu saja pembalasanku nanti!"
"Halo... " Tania baru saja ingin menjelaskan. Tetapi Alisia sudah menutup teleponnya.
__ADS_1
Tania benar-benar kehilangan kata-kata. Kenapa ia begitu sial? Makan diluar, malah jadi kambing hitam.
Tania menebak, seharusnya Alisia memakai aplikasi pelacak di dalam ponsel Stanley. Ia tahu Stanley makan disini, lalu menelepon Stanley tapi tidak diangkat. Jadi, ia curiga sedang kencan dengan wanita lain...
Dan tentu saja wanita itu adalah Tania...
Oleh karena itu, Alisia menelpon dan bertanya kepada Tania.
Lalu ia mendengar sambutan pelayan tadi dan lagi-lagi salah paham...
"Kenapa? Siapa yang telepon?" Tanya Viktor.
"Tania." Tania menjawab dengan kesal. "Benar-benar anjing gila. Ia langsung memarahiku tanpa tahu pasti situasinya."
"Kenapa ia memarahi mu?" Tanya Viktor bingung.
Hampir saja Tania keceplosan, pada akhirnya ia membungkam mulutnya...
Bagaimanapun Garcia adalah adik sepupu Viktor. Mereka berdua berada di restoran yang sama. Jika Viktor tahu kebenaran ini dan berdasarkan karakternya, ia pasti langsung menerjang kesana dan menghajar Stanley...
Disini begitu banyak orang, jika kabar itu tersebar keluar, hubungan mereka akan terekspos.
Kemudian, lagi-lagi bertambah satu rumor buruk tentang Stanley. Ini akan merugikan bisnisnya dan Garcia akan sangat membenci Tania.
Tania telah membuat musuh dimana-mana dan dikepung di segala sisi. Ia tidak ingin menambah musuh lagi.
__ADS_1
Serta, tidak ingin Stanley terlibat dalam masalah.
"Sebenarnya apa?" Tanya Viktor.
"Tidak apa-apa." Tania tidak ingin menambah masalah. "Viktor, kita pergi saja. Cari tempat yang lebih hening."
"Tahu begitu, dari awal tidak pesan disini. Garcia bilang makanan disini enak, jadi ia merekomendasikannya padaku."
Viktor mengambil ponsel dan kunci mobil. Ia meninggalkan Tania dari tempat itu.
Mengingat ucapan Viktor tadi, Tania merasa aneh, lalu bertanya. "Garcia tahu kamu akan membawaku kemari?"
"Tentu saja. Selain kamu, aku tidak pernah makan di luar." Jawab Viktor tersenyum.
Tania menyunggingkan senyuman dengan kaku, ia tidak bicara, ada sebuah keraguan dalam hatinya...
Karena Garcia merekomendasikan Viktor membawanya kemari, kenapa ia juga membawa Stanley kemari?
Jangan-jangan sengaja diperlihatkan kepadanya?
Keduanya berjalan keluar dari restoran. Saat hendak naik lift, lagi-lagi Tania melihat dua sosok familiar sedang ciuman panas di dalam lift.
Ia menghentikan langkah kakinya karena terkejut...
Pas sekali saat Viktor ingin mendongak, ponselnya berdering. Ia menyingkir untuk menjawab telepon, "Paman, iya, aku diluar. Lain kali saja. Nanti dibicarakan setelah urusanku selesai. Baik."
__ADS_1
Setelah ia selesai bicara, lift itu telah tiba di lantai satu...
Tania segera berjalan ke pinggir jendela kaca melihat kearah bawah. Ternyata Stanley sedang merangkul Garcia naik ke mobil. Garcia menyetir mobil melesat pergi.