
"Cepat ambil kotak P3K."
Wina menanggapinya dengan cepat, sangat tenang dan berpengalaman, melangkah cepat dan masuk ke kantor Presdir.
Tania tersentak, ia sangat ingin masuk ke dalam, namun hanya busa menahan diri diluar. Terlebih jika ia masuk sekarang, takutnya akan membawa masalah untuk Stanley.
"Presdir Stanley, aku baru saja membawakan kotak obat untuk anda, kenapa Anda buru-buru keluar seperti ini? Maaf, suasana hati Presdir hari ini tidak bagus, biar aku antar kerumah sakit.... " Suara Wina terdengar.
"Tidak usah." Stanley menuju toilet karyawan disudut ruangan.
"Pak Dani, ini kotak P3K, didalamnya ada obat pertolongan pertama." Wina memberikan kotak itu ke Dani, "Mohon di cek, apakah bisa dipakai?"
"Terimakasih." Dani mengambil kotak itu, "Kembali lah, aku akan mengurusnya."
"Baik." Wina buru-buru kembali dan berkata kepada sekretaris lainnya. "Semuanya fokus dengan pekerjaan kalian, saat Presdir Stanley keluar jangan menatapnya."
"Baik." Seluruh sekretaris sangat tahu etika, semuanya mengerti bahwa Presdir Stanley juga memiliki harga diri. Semakin banyak mata yang memandangnya, ia akan semakin malu.
Tania mengerutkan kening dan berdiri ditempatnya bekerja, hatinya sangat tidak nyaman, ia tidak mengerti. Dengan status keluarga Stanley sekarang, mengapa Stanley harus merendah dan memohon kepada Daniel?
Apakah bisnis yang dia jalankan sedang tidak bagus?
Mungkinkah satu-satunya pelanggan didunia ini hanya lah Daniel?
Saat memikirkan ini Stanley keluar, menutupi dahinya dengan sapu tangan, Dani mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
Tania tidak dapat menahan diri untuk tidak melirik nya, dahinya masih mengeluarkan darah, jas putih yang dikenakan terkena darah, ia terlihat malu dan lesu.
Hati Tania sangat sedih, ia mengepalkan tangannya dengan erat. Dia ingin sekali bertanya, namun tidak berani.
Tania tidak bergerak sedikitpun sampai Stanley masuk kedalam lift, Stanley mendongakkan kepala menatap Tania, mata merahnya memperlihatkan rasa sakit yang tidak dapat digambarkan....
Tania gemetar, matanya memerah, pintu lift tertutup akhirnya Stanley pergi. Tania menundukkan kepala, hatinya sangat sedih.
"Tania, kamu dan Bella tolong bersihkan kantor Presdir." Perintah Wina.
"Ah? Aku.... " Bella terkejut sampai gemetar, "Wina, aku takut.... "
"Takut apa?" Wina berkata, "Kerja dengan baik, jangan bicara sembarangan, jangan lihat sembarangan. Presdir bisa marah."
Bella mengikuti Tania dan menariknya, "Tania, nanti aku akan bersihkan pintu masuk, dan kamu yang bersihkan ruangan dalam, ok?"
"Ok!"
Tania sama sekali tidak takut, ia bahkan ingin bertanya kepada Daniel, mengapa ia memukul orang lain? Apakah ia sangat menyukai kekerasan?
Mereka mengetuk pintu dan masuk ruangan Presdir, Daniel sedang memerintahkan Ryan, "Beritahu semuanya, Stanley tidak boleh melangkahkan kaki di gedung Sky Well tanpa ijinku!"
"Baik!" Ryan langsung melaksanakan perintah.
Bella menunduk, dengan gemetar dia memungut serpihan kaca yang ada didepan pintu.
__ADS_1
Tania berjalan sampai kedepan meja kantor, berlutut diatas lantai sambil merapikan dokumen lainnya yang tercecer, melihat darah Stanley bercucuran dari sini sampai kedepan pintu....
Hatinya merasa sesak, ada kemarahan yang membara.
"Tidak perlu dibersihkan, keluar dulu." Daniel berkata.
"Baik... "
"Apakah Presdir Daniel tidak takut bau darah? Atau sudah terbiasa dengan kekerasan seperti ini?" Tania bertanya dengan nada dingin.
Ryan menarik napas dalam, ingin mengingatkan Tania bahwa disaat seperti ini jangan melawan Presdir Daniel, namun ia tidak berani membuka mulutnya.
Bella tercengang, apakah Tania sudah gila? Berani-beraninya Tania melawan Presdir Daniel seperti ini?
Jika dia tidak ingin hidup, jangan libatkan aku!!
"Kamu bertanya padaku?" Daniel menatap Tania dengan dingin.
Bella bergidik, terkejut sampai kedua kakinya menjadi lemas.
"Keluar." Daniel memerintahkan Bella untuk keluar, namun matanya tetap menatap Tania.
Bella melarikan diri ketakutan.
Ryan yang paham situasi, juga ikut pergi.
__ADS_1