
Tuan Besar tersenyum dan mengangguk. Dia sangat menyukai anak ini. Setiap kata dan setiap ekspresi anak ini, seperti mengingatkannya pada Daniel saat masih kecil...
Tidak hanya penampilan mereka yang mirip, tapi ekspresi mereka juga mirip, bahkan logika berpikir dan nada bicara mereka juga mirip.
Carlos kembali ke topik pembicaraan dan berkata dengan serius, "Aku pikir Anda harus mempertimbangkan tentang sopir Anda dengan baik, apakah dia masih bisa menjadi sopir untuk Anda atau tidak?"
"Kamu benar, aku akan mempertimbangkannya." Tuan Besar mengangguk dengan tersenyum.
"Ada lagi, bisakah Anda membantuku untuk memindahkan Adik perempuan ku kesini? Aku ingin mereka dalam satu kamar, sehingga aku dapat merawat mereka dengan mudah."
Ketika Carlos berbicara, beberapa dokter anak dan suster perawat sedang mendorong adik perempuannya yang tertidur dan mengantarnya ke kamar.
"Semua sudah diatur." Tuan Besar berkata sambil tersenyum, "Apa masih ada saran lainnya?"
Carlos memejamkan matanya, berpikir dengan seksama, kemudian dia menggelengkan kepala sambil berkata: "Untuk saat ini, hanya ini saja."
"Ya, karena kamu sudah selesai berbicara, bisakah kamu membantuku sekarang?" Tuan Besar bertanya dengan serius.
"Apa?" Carlos sedikit penasaran, apa yang bisa dia bantu?
Tuan Besar menunjuk dua kotak makan yang bersusun dan berkata dengan penuh kasih, "Keluargaku memberiku makanan vegetarian yang lezat. Lambungku sakit tidak bisa memakannya, tapi aku juga tidak ingin membuang-buang makanan. Kamu bisa membantuku?"
Ketika dia berbicara, Sanjaya meletakkan kotak makanan diatas meja dan membukanya susun demi susun.
Seketika, aroma makanan tersebar diruangan itu.
Bubur sayur harum, pangsit udang, sup pangsit, bakso, bakwan jagung, pangsit tiga rasa... Serta berbagai jenis makanan ringan lainnya, dan semuanya masih hangat.
Perut Carlos langsung mengeluarkan suara 'Kriyukk kriyukk' dia menatap makanan itu dan tidak bisa mengalihkan pandangannya itu.
__ADS_1
"Porsi makanan ini terlalu banyak. Sepertinya kamu perlu bantuan adik laki-laki dan adik perempuanmu juga."
"Mereka masih belum sadar.... " Sebelum Carlos menyelesaikan kata-katanya, terdengar suara tangisan Carla, "Mami, Mami..."
"Carla!" Carlos segera berlari dan menepuk bahunya ringan, "Carla jangan takut, Kakak ada disini."
"Aku mau Mami." Carla memeluk Carlos.
"Sebentar lagi Mami datang, apa kamu lapar? Ayo kita makan dulu." Carlos menyeka air mata Carla.
"Ya, lapar." Carla menjulurkan lidah kecilnya dan menjilati bibir merah mudanya.
"Kamu tunggu sebentar, ya." Carlos memapah Carla untuk duduk, lalu berjalan mendekat dan membungkuk kepada Tuan Besar, "Terima kasih, Kakek."
"Sama-sama, sama-sama." Tuan Besar berkata dengan tergesa-gesa, "Kalian yang membantuku."
Tuan Besar sangat tersentuh, kecerdasan emosional anak ini cukup tinggi.
Tuan Besar membungkuk, mengulurkan jari-jarinya, dan mengaitkannya pada jari-jari Carlos.
"Baiklah, ayo cepat makan, adikmu sudah lapar." Tuan Besar mengingatkannya dengan penuh kasih sayang.
Pada saat Carlos mengambil bubur sayur, dan akan menyuapi Carla. Tiba-tiba Carla berkata, " Aku bisa makan sendiri." Dan berkata lagi dengan penuh perhatian, "Kakak, cepat makan. Kakak juga pasti lapar, aku bisa dengar perutmu berbunyi."
"Hehe...." Carlos menggosok perutnya dengan malu.
Carla tidak bisa bangun dari ranjang rumah sakit, jadi dia menundukkan kepalanya dan membungkuk kepada Tuan Besar, "Terima kasih, Kakek. Kata Mami, orang baik akan mendapatkan balasan yang baik. Kakek, kamu orang baik!"
"Aduh..." Sanjaya merasa hatinya akan meleleh, "Gadis ini sangat imut!"
__ADS_1
"Terima kasih, anak pintar."
Tuan Besar terharu, ini pertama kalinya dia melihat Carla, tidak tahu kenapa dia seperti memiliki ketertarikan khusus kepada gadis kecil yang lembut seperti boneka itu. Seolah-olah mereka adalah keluarganya!
"Oh ya..." Tuan Besar tiba-tiba teringat sesuatu, dan bertanya pada Carlos dengan serius, "Apa kalian ingin minum susu dimalam hari? Aku akan menyuruh mereka untuk menyiapkannya...."
"Carla minum susu..." Carlos berseru dan setelah berbicara dia mengangkat dadanya dan menambahkan: "Aku sudah besar, aku tidak minum susu."
"Hahaha, minum susu tidak akan mencegahmu menjadi laki-laki dewasa!" Tuan Besar tidak bisa menahan tawanya.
"Hehehe...." Sanjaya dan para perawat menutup mulut mereka dan ikut tertawa.
Carlos tersipu malu dan berkata, "Aku, aku minum susu di pagi hari, tapi aku tidak perlu pakai botol..."
"Aku mau pakai botol susu." Carla cemberut dan berkata dengan suara manjanya, "Aku bukan laki-laki!"
"Pfft, hahaha...."
Tuan Besar tidak bisa menahan tawanya, dari kamar bangsal itu terdengar suara penuh canda tawa.
Suasana yang awalnya menyedihkan dan membosankan, tiba-tiba berubah menjadi santai dan bahagia.
Sanjaya sangat bahagia melihat Tuan Besar tersenyum begitu bahagia. Sudah sangat lama Tuan Besar tidak tersenyum seperti ini?
Kurang lebih hampir dua puluh tahun!
Ketika Daniel masih kecil, dia sangat lucu. Tetapi kepolosan itu berakhir setelah ketika dia berusia enam tahun....
Sekarang, berkat ketiga anak ini, lelaki tua ini mendapatkan kembali kebahagiaannya...
__ADS_1
Mungkin juga ini semacam takdir!