
"Mami, jika Mami tidak mengizinkan kami pergi makan malam, kami tidak akan pergi, tapi setidaknya kami harus menyapa kakek." Carlos berpikir lebih menyeluruh, "Dia adalah tamu, kita tidak mungkin mengusirnya, kan?"
"Betul." Carles menganggukkan kepala, ia gugup hingga sekujur kepalanya mengeluarkan keringat.
"Maksud Mami bukan begitu..."
"Mami Carlos, Tuan Besar sudah datang."
Tania belum menyelesaikan perkataannya, terdengar suara perawat dari luar.
"Carlos, keluarlah. Sapalah kakek." Tania dengan suara pelan berkata kepada Carlos, "Bilang saja Mami sedang sakit, tidak bisa bertemu dengannya. Jangan biarkan kakek masuk, minta dia menunggu diluar. Kalian ganti baju lalu pergi dengan kakek."
"Hah?" Carlos mengerutkan kening tidak mengerti, "Mami, kenapa berbuat seperti itu? Orangnya sudah datang, tidak baik menolaknya."
"Betul, betul!" Carles dan Carla terus menerus meyakinkan maminya.
"Sebelumnya, Mami pernah bertemu dengan kakek. Ada kesalahpahaman di antara kami berdua..." Tania menjelaskan dengan hati-hati, "Jadi, Mami tidak ingin dia mengetahui bahwa Mami ini adalah Mami kalian."
"Oh!" Carles dan Carla menganggukkan kepala setengah mengerti.
"Aku mengerti." Carlos mengerti, "Tenang saja Mami, kami akan menjaga rahasia Mami."
Tania menghembuskan napasnya lega, "Jadi, saat kakek menanyakan siapa Papi dan Mami kalian, jangan langsung dijawab, mengerti!"
"Mengerti!" Ketiga anak itu serentak menjawab.
"Baiklah, cepat berangkat." Tania melepas Carla.
__ADS_1
Carla segera berlari keluar dan menyapa dengan ramah, "Kakek, kakek!"
Tuan Besar yang mendengar itu penuh semangat dan gembira.
Carles tergesa-gesa memutar kursi rodanya ingin segera keluar. Carlos segera mendorong pelan kursi roda Carles.
"Kakek, maaf, Mamiku sedang sakit, tidak bisa keluar menemui mu."Carlos segera berkata, "Rumah kami sangat berantakan, ada orang sakit, bolehkah kakek menunggu di rumah paman dokter diseberang sana? Setelah itu kami akan kesana."
"Tentu saja boleh." Tuan Besar buru-buru bertanya, "Carlos, Mamimu sakit apa? Apa perlu dokter untuk datang memeriksanya?"
"Tidak perlu, Mami baru saja kembali dari rumah sakit." Carlos menjawab dengan sempurna, "Dokter Antoni, tolong bantu jaga kakek sebentar!"
"Baik, tidak masalah." Antoni langsung membawa masuk ke rumah seberang.
Saat Sanjaya membawakan beberapa hadiah bermaksud masuk menaruh hadiah tersebut didalam rumah, Carlos langsung berkata: "Berikan padaku saja, terima kasih kakek!"
Kemudian Carlos melambaikan tangan dan segera menutup pintu.
Ketiga anak itu segera berganti baju dibantu oleh Tania dan juga perawat, "Carlos, ingat yang Mami bilang, ya?"
"Iya, Mami tenang saja." ucap Carlos sepenuh hati.
Ketiga anak itu menemui kakek di rumah seberang. Suasana yang hangat dan ceria itu memengaruhi Tania, sebuah senyuman kecil terbentuk diujung bibirnya. Ia berharap anak-anak lebih mendapat banyak cinta dari keluarga terdekatnya.
Namun....
Setiap kali teringat Daniel yang emosional, kejam dan penuh kekerasan, bulu kuduknya langsung berdiri.
__ADS_1
Tania tidak berani bertaruh atas rasa kemanusiaan Daniel, sekecil apa pun itu kemungkinannya!
Bagaimana jika Tuan Besar mengetahui identitas anak-anaknya?
Semakin lama memikirkan hal ini, ia semakin takut dan gelisah...
Saat tiba di Restoran Istana Anak-anak, setiap orang yang ada di sana menatap Carla dan berkata, "Astaga, anak perempuan itu sungguh cantik, menggemaskan seperti sebuah boneka!"
Carla hari ini mengenakan sebuah gaun cantik, gaun putri warna merah muda, dengan mahkota diatas rambut panjang ikalnya yang alami, ia mampu menarik perhatian semua orang yang melihatnya.
Setiap orang yang berkunjung kesana, diwajibkan mengenakan pakaian yang cantik dan tentunya harus didampingi oleh orang tuanya.
"Betul, sangat cantik. Dua anak laki-laki disampingnya juga sangat tampan."
Pengunjung restoran melihat Carlos dan Carles, meskipun Carles duduk di kursi roda, namun berkat jas yang dikenakannya, ia terlihat begitu tampan. Seperti seorang pangeran kecil yang ada di cerita dongeng!
Berbeda dengan Carlos, tatapan matanya dingin dan tajam, seperti miniatur seorang direktur.
Saat banyak orang ingin mengambil foto dan video mereka, Carlos mengerutkan kening, hendak menegur mereka, namun pengawal sudah lebih dulu menyelesaikannya.
Tuan Besar berbisik, "Apa kalian merasa terganggu? Kakek akan meminta mereka membuat reservasi seluruh restoran."
"Tidak perlu." Carlos menggelengkan kepala, "Teman-teman sedang bermain dengan bahagia, jika kita mereservasi seluruh restoran, mereka jadi tidak bisa main."
"Sungguh anak yang baik." Tuan Besar tersentuh dan mengelus kepalanya, "Oke kalau begitu masuklah, kita makan dulu."
"Oke." Carlos menggandeng tangan Carla.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara yang begitu angkuh, "Cepat kosongkan restoran ini, aku akan bayar dua kali lipat. Aku ingin cucuku main sendirian disini!"